Ini Jawaban Anies Ditantang Apakah Berani Kejar Pajak 100 Orang Terkaya di RI

Ini Jawaban Anies Ditantang Apakah Berani Kejar Pajak 100 Orang Terkaya di RI

Gelora News
facebook twitter whatsapp



GELORA.CO - Masalah pajak orang kaya menjadi sorotan setelah debat cawapres yang digelar pada Jumat pekan lalu. Dalam debat tersebut, cawapres 01, Muhaimin Iskandar, menyoroti ketidakadilan itu terlihat dari jumlah orang kaya di Indonesia yang tak sebanding dengan jumlah penduduk di Tanah Air.

"Bayangkan 100 orang Indonesia kekayaannya di atas 100 juta jumlah penduduk Indonesia. Artinya ini keadaan yang tidak adil, ini harus kita slepet," kata Cak Imin saat debat cawapres di JCC Senayan, Jumat (22/12).

Cak Imin mengibaratkan slepet adalah disrupsi yang menjadi awal dari perubahan. Ia mengatakan perubahan yang dilakukan dari 100 orang kaya tersebut dengan mematok pajak yang tinggi ke mereka.
Menanggapi hal tersebut capres 01, Anies Baswedan, mengatakan gagasan calon wakilnya tersebut memang untuk mengedepankan azas keadilan dan sistem perpajakan di Indonesia.

"Gini, kita ingin sistem perpajakan kita berkeadilan, kita hanya bicara 100 terkaya dan 100 terkaya itu lebih dari 100 juta penduduk Indonesia," kata dia dalam acara Desak Anies di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (26/12).

Menurut Anies, kondisi tersebut yang terjadi di Indonesia merupakan gambaran dari ketimpangan. Sehingga, dia melanjutkan, rumus yang harus dilakukan adalah membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar.

"Jadi kita ke depan ingin meningkatkan produktivitas, dan kita ingin agar perpajakan kita pada yang paling atas itu harus berkeadilan. Ini bukan kepada yang di tengah, ini hanya 100 yang teratas supaya berkeadilan," katanya.

Dengan seperti itu, kata Anies, maka manfaatnya akan dirasakan masyarakat Indonesia lebih banyak. Sebab, selama ini hampir semua yang orang terkaya tersebut karena mendapatkan privilege yang diberikan oleh negara.

"Apakah itu pertambangan, apakah itu perkebunan, apa pun itu datangnya dari negara. Ada satu dua yang memang lewat aktivitas pasar, pure perekonomian. Tapi sebagian besar mendapatkan kesempatan dari negara, nah faedahnya harus bisa dirasakan orang banyak," ujarnya.

Sumber: kumparan