Mantan Peneliti BATAN Sebut Ada 'Dehabibienisasi' di BRIN: Penghilangan secara Sengaja Nama Habibie

Mantan Peneliti BATAN Sebut Ada 'Dehabibienisasi' di BRIN: Penghilangan secara Sengaja Nama Habibie

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Anggota Komisi VII DPR, Mulyanto, menyoroti tidak tercantumnya nama BJ Habibie dalam lini masa perkembangan riset dan teknologi di Gedung Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurut dia, hal itu menjadi indikasi nyata adanya 'dehabibienisasi' yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Mulyanto mencurigai ada sejumlah upaya 'dehabibienisasi' atau menghapuskan warisan yang ditinggalkan presiden ketiga Republik Indonesia tersebut, utamanya melalui perombakan kelembagaan riset dan teknologi.

"Bila sebelumnya 'dehabibienisasi' itu bersifat kelembagaan, namun dengan penghilangan secara sengaja nama Habibie dari lini masa perkembangan iptek nasional, dugaan itu menjadi terkonfirmasi,” ujar Mulyanto dalam keterangannya, Senin (6/2/2023).

Dia mengatakan, upaya tersebut terlihat di antaranya pada akhir bulan lalu telah ditutup lembaga riset antariksa dan penerbangan di Pasuruan, Jawa Timur. Sebelumnya juga telah dibubarkan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Dewan Riset Nasional (DRN), Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), LIPI, BATAN, dan LAPAN.

"Sebelumnya juga telah dihapus Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), Dewan Standardisasi Nasional (DSN) serta dimuseumkannya pesawat terbang karya anak bangsa N-250 Si Gatot Kaca. Bahkan Kita menyaksikan porak-porandanya BPPT dan hasil-hasil rekayasanya baik tsunami early warning system, puna male, dan lain-lain," kata dia.

Politikus Fraksi PKS itu menyatakan, negara tidak bisa begitu saja menghilangkan jejak pengembangan iptek yang sudah dibangun susah payah oleh begawan teknologi Indonesia, Habibie. Bangsa Indonesia harus mengakui Habibie berhasil membangun struktur pembangunan teknologi Iptek alias techno-structure yang kokoh dan bermanfaat di Indonesia.

"Pak Habibie berhasil membangun human-ware (SDM), technoware (peralatan), orgaware (kelembagaan) maupun infoware (jaringan) yang berujung pada beroperasinya Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS)," jelas Mulyanto.

BUMNIS, kata dia, merupakan wahana anak bangsa memproduksi peralatan pertahanan dan keamanan serta sipil canggih mulai dari pesawat terbang, kapal, tank, senjata, peledak, industri berat sampai elektronik. Bahkan pada posisi tertentu, bisa dibilang, BUMNIS sangat berperan membangun kekuatan pertahanan dan keamanan nasional.

Menurut dia, ide pengembangan iptek Habibie sangat visioner, yakni ingin membangun kedaulatan dan kemandirian bangsa di berbagai bidang agar Indonesia tidak tergantung dan didikte oleh pihak asing. Apalagi, Indonesia adalah negara kepulauan yang membutuhkan infrastruktur transportasi antar pulau dalam rangka membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

Mantan peneliti bidang nuklir di BATAN serta Sekretaris Kementerian di Kemenristek itu melihat, saat ini pemandangan yang tampak adalah SDM dan peralatan teknologi yang semakin menua, serta kelembagaan Iptek yang satu demi satu berguguran. Berbagai proyek nasional Iptek dihentikan.

"Ini semua harus menjadi bahan renungan kita bersama dalam rangka membangun bangsa yang berdaulat, bangsa inovasi ke depan," jelas dia.

Sumber: republika
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita