Kisah Serdadu AURI, Ngacir saat Berhadapan Pasukan Gaib, Komandannya Ditinggal Sendiri
logo

6 September 2021

Kisah Serdadu AURI, Ngacir saat Berhadapan Pasukan Gaib, Komandannya Ditinggal Sendiri

Kisah Serdadu AURI, Ngacir saat Berhadapan Pasukan Gaib, Komandannya Ditinggal Sendiri


SERDADU AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) di pedalaman Trenggalek, Jawa Timur memiliki kisah horor. Mereka harus berhadapan dengan tentara gaib, hingga komandannya ditinggal sendirian.

Konon, kejadian terjadi pada Januari 1949 atau beberapa pekan pasca-Belanda melancarkan Agresi Militer II (19 Desember 1948). Seperti dikutip dari buku ‘Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI’ karya Haril M Andersen.

Pasukan Detasemen Udara Parigi pimpinan Opsir Muda Udara III Hanandjoeddin mengalami kejadian misterius dihadang seribu pasukan gaib. Kala itu, pasukan Hanandjoeddin hendak memutus sebuah jembatan tua di Lembah Watulimo dengan peledak.

Maksud dari memutus jembatan tersebut guna menghambat laju pergerakan tentara Belanda. Namun, berulangkali peledak yang ditanam tak kunjung meledak hingga harus melapor ke Hanandjoeddin di markas.

Hanandjoeddin akhirnya mendatangi tokoh masyarakat setempat untuk mencari tahu, ternyata jembatan tersebut ada yang "melindungi". Hanandjoeddin pun diminta untuk puasa dan bermunajat kepada Allah SWT agar kerajaan gaib yang melindungi jembatan tersebut bisa dipindahkan.

Hanandjoeddin yang merasa saran tersebut tak masuk akal, akhirnya memilih untuk mendatangi jembatan tersebut dengan anak buahnya. Suasana kian mencekam dan horor saat melewati hutan Watulimo yang acap disebutkan warga lokal desa lain sebagai tempat yang angker.

“Maaf, ndan (komandan) sebaiknya kita urungkan rencana malam ini,” ucap M Yahya, salah satu anak buah Hanandjoeddin.

Anak buah Hanandjoeddin pada ketakutan, terlebih hari mulai beranjak gelap. “Kalau kalian takut, kembali saja ke markas! Biar saya sendiri yang pergi ke jembatan!” seru Hanandjoeddin.

Anak buahnya yang mendengar komandannya berang akhirnya mengikuti Hanandjoeddin dari belakang. Namun, baru saja mau mengikuti, mereka sudah kabur pontang-panting karena melihat sepasukan besar berbaris menjuruskan bedil kunonya pada mereka.

Hanandjoeddin sendiri tak sadar sudah ditinggal kabur anak buahnya. Mereka yang begitu gagah pantang mundur sejengkal pun saat meladeni tentara Belanda, anehnya langsung ‘ngacir’ saat dihadang tentara berseragam militer jawa kuno yang terkesan gaib.

Hanandjoeddin tak gentar, ia tetap meneruskan langkahnya, dan baru sadar kalau dirinya ditinggal sendiri saat dikepung seribu pasukan misterius itu. Kendati sempat merinding, Hanandjoeddin memberanikan diri berseru kepada pasukan gaib itu setelah sejenak beristighfar.

“Assalamualaikum! Saya Hanandjoeddin, Komandan Pertahanan di wilayah Watulimo. Kami bermaksud baik menyelamatkan rakyat dan alam daerah ini dari penjajah Belanda. Bantulah perjuangan kami menegakkan kemerdekaan Indonesia. Saya yakin kalian di pihak kami karena perjuangan sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang, sejak zaman Sultan Agung Raja Mataram. Kami hanya melanjutkan cita-cita Beliau. Saya meminta kalian memaklumi kami memutus jembatan penghubung desa ini demi keselamatan rakyat Watulimo. Terima kasih atas pengertiannya, Assalamualaikum!”

Pasukan gaib tersebut tiba-tiba hilang usai Hanandjoeddin menyampaikan salam dan maksud tujuannya. Esoknya, anak buah Hanandjoeddin melanjutkan upaya peledakan jembatan. Tak butuh waktu lama, pada percobaan pertama ternyata bom yang dirakit dan ditanam meledak langsung merobohkan jembatan tua tersebut. [okezone]