NASA Prediksi Jakarta Tenggelam 2030, Wagub DKI: Silahkan saja
logo

20 Juli 2021

NASA Prediksi Jakarta Tenggelam 2030, Wagub DKI: Silahkan saja

NASA Prediksi Jakarta Tenggelam 2030, Wagub DKI: Silahkan saja


GELORA.CO - Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria tak mau ambil pusing dengan prediksi NASA yang menyebut Jakarta akan tenggelam pada 2030.

Akan tetapi, ia menganggap bahwa prediksi itu sebagai sebuah peringatan.

Menurutnya, semua ahli tidak dilarang untuk mengutarakan pendapat dan prediksinya.

“Silakan saja, semua ahli boleh berpendapat,” ujarnya dikutip dari RMOLJakarta, Selasa (20/7/2021).

Pria yang akrab disapa Ariza ini menyatakan, pihaknya juga sudah memiliki para ahli.

Mereka, sambungnya, juga terus bekerja mengembangkan Jakarta menjadi kota yang lebih baik.

“Tentu kita ingin Jakarta menjadi kota yang maju, bahagia warganya, kota yang bersih, yang rapi, aman, indah, menarik,” ujarnya.

“Dan tentu tidak tenggelam,” tandasnya.

Deretan Faktor Penyebab

Untuk diketahui, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) belum lama ini mempublikasikan hasil riset yang memprediksi Jakarta tenggelam pada 2030.

Ada sejumlah faktor yang disebutkan. Di antaranya, meningkatnya permukaan air laut akibat dampak pemanasan global dan pencairan lapisan es.

Selain itu, juga eksploitasi air tanah secara massif di Jakarta.

Akibatnya, 40 persen wilayah Ibu Kota saat ini sudah berada di bawah permukaan laut.

Ilmuwan NASA, Ada Voiland menyebut, hal itu bisa dilihat dari masalah banjir di Jakarta.

“Dalam beberapa dekade terakhir, masalah banjir semakin memburuk, sebagian didorong oleh pemompaan air tanah secara luas,” tulisnya.

Banjir besar di Jakarta itu dicatat NASA terhadi sejak 1990.

Sedangkan banjir 2017 disebut sangat merusak hingga merendam 70 persen kota.

Selain itu, banyak saluran sungai dan kanal menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah.

Reklamasi juga disinggung. Menurut data Landsat, pemerintah kota telah membangun setidaknya 1.185 hektar lahan buatan baru di sepanjang pantai.
ilmuan di East China Normal University, Dhritiraj Sengupta menyebut, sebagian besar lahan telah digunakan untuk pembangunan perumahan kelas atas dan lapangan golf.

“Penggunaan lahan seperti itu datang dengan risiko, karena berada di garis depan Jakarta yang tak terhindarkan melawan kenaikan permukaan laut dan gelombang badai,” kata dia.

Pulau-pulau buatan itu, sambung Sengupta, sering menggunakan campuran pasir dan tanah yang mengendap dan menjadi padat seiring waktu.

Namun, bahan itu berbahaya karena bisa cepat surut dan membuat tanah abrasi.

Sementara, dicatat pula sebagian wilayah DKI Jakarta Utara mengalami penurunan puluhan milimeter per tahun.

Di pulau-pulau buatan baru, angka itu melonjak hingga 80 milimeter per tahun. [pojoksatu]