Melihat Tempat Raja Yogyakarta Mengintip Para Selir Mandi
logo

6 Juli 2021

Melihat Tempat Raja Yogyakarta Mengintip Para Selir Mandi

Melihat Tempat Raja Yogyakarta Mengintip Para Selir Mandi


SELIR, dalam bahasa Jawa halus disebut garwa ampeyan, seorang wanita yang telah diikat oleh tali kekeluargaan oleh seorang lelaki, tetapi tidak berstatus istri.

"Status selir di bawah istri, dan tugasnya membuat laki-laki itu selalu senang. Itu sebabnya, selir juga disebut klangenan (arti harfiah kata ini, kesenangan). Jika lelaki yang punya selir itu belum punya istri yang sah, maka ia tetap saja seorang perjaka," ungkap Budayawan Jawa, PM.A. Masud Thayib Adiningrat.

Peran selir dan permaisuri berbeda. Permaisuri resmi mendampingi raja sehari-hari dalam urusan kerajaan, sementara para selir hanya melayani kebutuhan raja dalam hal urusan ranjang.

Ada punggawa khusus istana yang mengatur jadwal. Para selir harus sabar mendapatkan giliran bercengkerama dengan raja. Raja diatur pada jadwal gilir. Tanpa jadwal dan petugas, dikhawatirkan raja hanya memanggil selir yang diingatnya.

Dulu ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya, minimal berusia 12 tahun ke Keraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari bedhaya. Mereka kerap disebut para bedhaya. Di luar itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke keraton berharap agar anaknya disukai raja, sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir. Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat .

Dulu, selir biasa berkumpul di Tamansari untuk mandi. Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya.

Tamansari masih berlokasi di dalam kompleks Keraton Yogyakarta, tepatnya di sebelah barat dan selatan atau sebelah selatan Pasar Ngasem. Taman Sari terletak di Kampung Taman, Kecamatan Keraton Kota Yogyakarta.

Di dalamnya, terdapat dua kolam besar yang dipisahkan oleh satu jembatan yang dihiasi dengan beberapa pot tanaman. Di bagian kanan terdapat kanal air dan bangunan tingkat tiga yang biasa digunakan oleh sang sultan.

Di sebelah kiri juga terdapat satu ruangan lagi dengan beberapa bilik yang saat ini telah dikosongkan. Kolam di tengah disebut juga sebagai Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun.

Kolam tersebut konon digunakan sebagai tempat mandi oleh para selir Raja atau Sultan. Tercacat Hamengkubuwono II memiliki 4 permaisuri dan 26 selir. Pakubuwono X memiliki 40 selir.

Karena fungsinya yang digunakan sebagai tempat pemandian para selir kerajaan, maka bangunan ini dibuat dengan tembok tinggi dan sangat tertutup, hingga tak sembarang orang yang bisa masuk ke dalamnya tanpa seizin sultan.

Konon menara di bagian tengah digunakan oleh sultan untuk melihat para selir mandi. Dari jendela menara tersebut, Sultan kemudian memilih salah satu selir dengan melemparkan bunga. Selir yang terpilih akan dipanggil ke menara. Sementara selir lainnya kembali ke keraton.
Kolam di tengah adalah tempat selir keraton membersihkan badan serta persiapan ketika Sultan akan memanggil, dengan cara mandi bersama. Kolam itu dapat menampung puluhan selir. []