Ustaz Das'ad Latif Dan Kisah Satu Kampak 40 Hari Diperiksa Di Dalam Kubur

Ustaz Das'ad Latif Dan Kisah Satu Kampak 40 Hari Diperiksa Di Dalam Kubur

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


OLEH: ILHAM BINTANG
 INILAH kisah seorang fakir miskin yang tersiksa  di alam kubur. Dia cuma punya satu-satunya harta, yaitu: sebuah kampak. Tapi itu yang membuatnya jera walau baru 40 hari di alam kubur.

"Sudah stop. Saya mundur, batalkan MoU ini," kata Si Fulan pemilik kampak sambil bersungut-sungut.

Itulah akhir kisah Konglomerat dan Si Fulan dalam Tausiyah Subuh dai kondang Ustaz Das'ad  Latif di Tenda Masjid At Tabayyun, komplek Taman Villa Meruya, Minggu (6/6).

Kisah itu sarat dengan pesan kebajikan: hati-hati dengan harta kita. Cerita diawali ketika seorang konglomerat merasa ajalnya sudah dekat. Dia ngeri membayangkan keadaan di alam kubur yang sempit dan gelap.

Dia pun sibuk menawarkan kepada isteri dan anggota keluarga yang lain agar bersedia menemaninya di dalam kubur. Si Konglomerat menjanjikan separoh hartanya sebagai upah bagi yang berminat.

Orang pertama yang ditawari anak kandungnya sendiri. Tawarannya ditolak. Sang konglo tentu saja sedih.

Anaknya yang selama ini dicukupi hidupnya dengan gelimang harta hidup mewah menolak menemani di dalam kubur. Padahal, upahnya tidak tanggung-tanggung, separuh harta miliknya! Hitung saja kalau yang bersangkutan memiliki puluhan usaha di berbagai bidang, termasuk pengusaha Starup kelas Dekacorn.

Lalu giliran isterinya ditawari. Ternyata sama. Orang  yang selama ini menjadi soulmatenya pun menolak. "Anak kandung kamu aja menolak, apalagi saya," elak istrinya.

Si Konglomerat tidak kehilangan akal. Dia memutuskan buat sayembara terbuka. Terbukti, ada satu orang yang bersedia. Dia itulah si Fulan, orang termiskin di kota itu. Harta satu-satunya dia miliki hanya satu kampak.

Setelah dijelaskan protapnya, mereka pun deal. Keduanya menandatangani perjanjian di atas segel, notarial, semacam MoU, memori of understanding. Si Konglomerat pun baru tenang menyambut hari wafatnya.

Pada hari pemakaman, Si Konglomerat, sesuai MoU, dikuburkan bersama Si Fulan. Tidak lama setelah pemakaman ditinggal keluarga, proses pemeriksaan pun dilangsungkan oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Kedua malaikat mulanya terkejut. Setelah dijelaskan, maka Si Fulan mendapatkan prioritas pemeriksaan. Pemeriksaan berlangsung setiap hari, siang malam, tak kenal jeda.

Tapi Si Fulan mulai lelah, sudah mendekati 40 hari menurut penghitungan dia, pemeriksaan masih seputar kampak.

Mulai dari riwayatnya, bagaimana cara mendapatkan, tangan keberapa, digunakan untuk apa, bagaimana membelanjakan hasilnya, sampai sedetil-detilnya, hal yang tak pernah terjangkau dalam radar pikiran  Si Fulan.

Waktu empat puluh hari lewat, pemeriksaan asal usul kampak belum juga rampung. Si Fulan akhirnya menyerah. Ia menangis meraung- raung.

Dia minta MoU dibatalkan. Harapan untuk kaya, memiliki separuh harta Si Konglomerat untuk dipakai hidup senang- senang, sirna sudah. Dia lebih  memilih ke luar dari kubur. Biar saja hidup miskin.

"Ampun. Mending tidak punya harta. Masak baru satu kampak saja 40 hari pemeriksaan tidak selesai-selasai," ucap Ustaz Das'ad Latif mengutip Si Fulan.

Makanya Bapak - bapak dan Ibu-Ibu, lanjut Das'd Latif, hati-hati dengan harta kita. Hati-hati hidup bergelimang harta. Rumah mewah mobil mewah, perhiasan emas dan berlian semua akan dihisab nanti.

Tidak ada satu yang bisa dIbawa ke dalam kubur. Malah semua harta itu harus dipertanggungjawabkan di depan malaikat- malaikat Allah SWT.

"Jangan sampai justru harta itu yang menyeret kita masuk neraka. Ingat nasib si Fulan, cuma satu kampak, tapi menderita hadapi pemeriksaan," tutur dai penyandang dua gelar doktor asal Pinrang, Sulsel itu.

Menurut pengakuan Ustaz Das'ad,  kisah Konglomerat dan si Fulan itulah yang membuanya prihatin dan tidak habis pikir. Begitu pun untuk memiliki harta, banyak orang seperti  kesurupan. Menipu kiri kanan. Korupsi uang negara, uang rakyat. Padahal, belum mati saja sudah bakal hadapi petugas KPK. Apalagi nanti kalau sudah meninggal. Bisa mati berkali- kali dia hadapi pemeriksaan malaikat.

Diingatkan oleh Ustaz, bersebaran ayat dalam kitab suci Al Quran  mengenai   pertanggungjawaban harta kekayaan itu. Cara memperolehnya saja akan diperiksa secara detil, rigid. Begitu juga cara menyimpannya, cara membelanjakannya, manfaatnya. Itu semua menuntut penjelasan sedetil-detilnya.

Das'ad Latif lalu mengingatkan sedekah, sedekah, dan sedekah lagi sebagai solusi mengatasi kegalauan bagi kalangan berpunya. Ayat-ayat mengenai sedekah itu juga bersebaran dalam kita suci Al Quran. Bersedekahlah.

"Belum pernah ada catatan orang bangkrut akibat rajin bersedekah. Yang ada, sedekah itu langsung  dibalas berlipat kali oleh Allah SWT," jelas Das'ad.

Das'ad berulang- ulang meminta  kepada seluruh umat Islam agar meneladani hidup Nabi Muhammad SAW.

"Sampai wafat Rasul tidak meninggalkan secuil pun harta. Menjelang wafat Rasul  malah diliputi kegelisahan jangan sampai dia masih menyimpan harta.

Begitu juga sikap Nabi terhadap sedekah. Bau makanan yang tercium tetangga dalam radius tertentu harus dibagi," terang pelopor program tausiya Suling, Salat Subuh keliling di Makassar.

Di akhir Tausiyahnya di Tenda Masjid At Tabayyun, Ustaz Das'ad Latif menyampaikan sumbangan Rp.10 juta kepada Panitia Pembangunan Masjid At Tabayyun yang diterima oleh Marah Sakti Siregar.

"Pak jangan lupa pada waktu pembangunan ada kekurangan  nanti kontak saya. Insya Allah," ujarnya.

(Penulis adalah wartawan senior)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita