Survei 2020: Jumlah Masjid di AS Terus Bertambah
logo

4 Juni 2021

Survei 2020: Jumlah Masjid di AS Terus Bertambah

Survei 2020: Jumlah Masjid di AS Terus Bertambah


GELORA.CO - Sebuah laporan baru menunjukkan jumlah masjid di Amerika Serikat (AS) secara keseluruhan terus bertambah. Sementara itu, jumlah masjid Afrika-Amerika menurun.

Laporan berjudul The American Mosque 2020: Growing and Evolving yang dirilis pada Rabu (2/6), menunjukkan perubahan penting dalam demografi Muslim yang terkait dengan tempat ibadah. Laporan yang diterbitkan bersama oleh Masyarakat Islam Amerika Utara, Pusat Filantropi Muslim, dan Institut Kebijakan dan Pemahaman Sosial, itu ditulis oleh Ihsan Bagby.

Dia juga menghasilkan laporan survei serupa pada 2001 dan 2010. "Pada 2020, Survei Masjid AS menghitung 2.769 masjid, yang merupakan peningkatan 31 persen dari jumlah tahun 2010 sebanyak 2.106 masjid. Tidak diragukan lagi, kekuatan pendorong utama peningkatan masjid adalah perluasan populasi Muslim di Amerika karena imigrasi dan tingkat kelahiran," demikian bunyi laporan tersebut, dilansir di Religion News Service, Kamis (3/6).

Laporan tersebut menunjukkan sholat berjamaah yang diadakan di masjid-masjid pada Jumat (sholat Jumat) rata-rata dihadiri 410 jamaah sebelum pandemi virus corona pada 2020. Angka tersebut adalah peningkatan  dari angka 2010 sebesar 353. Sekitar 72 persen masjid mencatat 10 persen atau lebih peningkatan pada kehadiran sholat Jumat selama periode pelaporan.

Menurut Bagby, hampir semua (98 persen) masjid Amerika dikelola oleh jamaah lokal mereka. Dia juga menulis jamaah Muslim adalah anggota komunitas lokal yang antusias. Mereka rata-rata lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam upaya antaragama dan masyarakat daripada kelompok agama lain.

Meskipun demikian, laporan tersebut menunjukkan penentangan terhadap pembangunan tempat ibadah Muslim mengungkap adanya diskriminasi anti-Muslim yang lebih terlembagakan daripada bentuk diskriminasi agama lainnya di AS.

“Komunitas Muslim Amerika sangat beragam dan di masjid mana pun, ketika massa kritis tercapai, seringkali ada keinginan untuk membangun masjid lain. Ini adalah sesuatu yang telah kita lihat di banyak kelompok dari warga Afghan-Amerika hingga Somalia-Amerika. Ini juga fenomena yang kami temukan di kelompok agama lain di Amerika," kata Bagby.

Survei pada 2010 menemukan 17 persen masjid Amerika berada di pusat kota. Jumlah itu turun menjadi enam persen dalam survei 2020 karena pertumbuhan masjid baru di daerah pinggiran kota dan pedesaan, dan penutupan banyak masjid Afrika-Amerika di kota-kota besar.

Mayoritas masjid baru yang dibangun khusus di Amerika ditemukan di daerah pinggiran kota. Pergeseran ini mencerminkan jejak demografis Muslim di Amerika.

Sejumlah faktor menyebabkan penutupan masjid-masjid Afrika-Amerika, termasuk kematian mantan pemimpin Nation of Islam, Warith Deen Mohammed, yang merupakan salah satu pendiri gerakan Muslim Sunni Afrika-Amerika. Gelombang pertama muallaf pada 1960an dan 1970an menciptakan komunitas Muslim Afrika-Amerika baru.

Gelombang kedua mualaf dari orang Afrika Amerika terjadi pada awal 1990an, didorong oleh pengaruh film "Malcolm X," globalisasi dan keunggulan beberapa Muslim dalam budaya hip-hop. Seiring bertambah tua usia anggota gelombang pertama, banyak masjid Afrika-Amerika kesulitan untuk tetap buka.

"Menyusul kematian Warith Deen Mohammed pada 2008, komunitas itu tidak pernah menyusun kembali dirinya sendiri dan itu telah menjadi penghalang bagi pertumbuhan komunitas Muslim Afrika-Amerika. Pertobatan (mualaf) orang Afrika-Amerika, sementara itu sedang berlangsung, telah mendatar, terutama di masjid-masjid Afrika-Amerika," tambah Bagby.

Laporan tersebut tidak termasuk masjid yang digunakan oleh kelompok minoritas Muslim seperti Nation of Islam, Ahmaddiyya atau jamaah Ismaili, sebagian karena Bagby tidak dapat memperoleh data yang relevan. Kehadiran di masjid-masjid tetap kuat khususnya di antara demografis usia 18-34 dan jauh lebih kuat daripada demografis di antara kelompok-kelompok Yahudi dan Kristen.

"Rekan-rekan saya yang bekerja di jemaat Yahudi dan Kristen mengatakan untuk menikmatinya selama itu berlangsung, bahwa ini tidak berkelanjutan. Saya pikir terlalu dini untuk mengatakan penurunan jangka panjang tidak dapat dihindari atau ditentukan sebelumnya," ujarnya.  []
close
Subscribe