Cerita Presiden Soeharto Tidak Pernah Kenakan Atribut dan Bintang, Ini Alasannya
logo

25 Juni 2021

Cerita Presiden Soeharto Tidak Pernah Kenakan Atribut dan Bintang, Ini Alasannya

Cerita Presiden Soeharto Tidak Pernah Kenakan Atribut dan Bintang, Ini Alasannya


GELORA.CO - Berbeda dengan Soekarno, Presiden Kedua Indonesia Soeharto memang jarang terlihat mengenakan atribut lengkap. Ternyata, ada alasan di balik hal itu.

Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Otobiografi yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda, presiden kedua RI ini bercerita panjang lebar.

Hampir dua puluh tahun lamanya Soeharto tidak pernah mengenakan atribut-atribut, bintang-bintang, bendera-bendera kepresidenan, dan sebagainya, (kecuali pada saat-saat yang amat khusus).

Mengenai ini, dirinya berpikir bahwa tugas dan fungsi Presiden sebagai Panglima Tertinggi tidak memerlukan atribut dan harus bisa dilaksanakan tanpa itu. Secara konstitusi sudah jelas pula, Presiden itu memegang kekuasaan tertinggi Angkatan Perang.

Dus, sudah secara otomatis dan tidak perlu ditonjolkan dengan atribut, pakai tanda pangkat jenderal dan sebagainya. Dengan ini, Soeharto ingin menunjukkan bahwa tanpa atribut, tanda pangkat, bendera, dan sebagainya itu, secara konstitusi Presiden itu sudah kuat.

Tanpa sebutan Panglima Tertinggi dalam konstitusi, memang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Perang kita berada di tangan Presiden. Dengan sikapnya itu, Soeharto ingin menunjukkan bahwa tanpa pangkat jenderal pun Presiden bisa memegang komando Angkatan Perang.

Dan Presiden yang bukan jenderal pun tetap memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Perang kita itu. Ya, kalau besok ada orang sipil, yang bukan tentara jadi Presiden, tetap ia memegang kekuasaan tertinggi atas ABRI kita. Dengan ini, Soeharto ingin meluruskan semuanya itu.

Pada waktu itu Soeharto masih aktif sebagai anggota ABRI, pernah dia pakai pangkat. Soeharto tunjukkan itu, dirinya sebagai ABRI. Sebagai Presiden, tidaklah perlu.

Karena itu pula, dalam rangka memakai tanda kehormatan, misalnya pada Hari Nasional dan sebagainya, pakai sajalah yang kecil, tetapi yang paling tinggi nilainya. Dengan ini saya ingin menanamkan suatu pengertian, sesuai dengan konstitusi ini, tidak harus Panglima Tertinggi itu hanya bisa dijabat oleh orang yang dari ABRI.

Presiden bekerja dengan dibantu oleh para menteri dan pembantu-pembantu lainnya. Sebagai orang, tentu saja kemampuannyaterbatas. Itulah sebabnya saya adakan pembantu-pembantu. []