Ajudan soal Wabup Sangihe Wafat di Pesawat: Darah Keluar dari Mulut-Hidung

Ajudan soal Wabup Sangihe Wafat di Pesawat: Darah Keluar dari Mulut-Hidung

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Helmut Hontong wafat dalam pesawat yang terbang rute Denpasar-Makassar. Helmut disebut sempat mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.

Jenazah Helmut Hontong dibawa ke Kepulauan Sangihe dengan kapal laut, Kamis (10/6/2021) malam. Terkait kematian Helmut, Ajudan Wabup, Harmen Rivaldi Kontu mengatakan Wabup Helmut sempat memberitahukan kepadanya jika sudah merasa pusing. Pada saat itu, dia diminta untuk menggosokkan minyak kayu putih di bagian belakang dan leher.

"Sekitar 5 menit itu saya lihat bapak langsung tersandar. Saya panggil dan kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons lagi. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap bapak tidak ada respons. Kemudian keluar darah lewat mulut. Tak lama kemudian darah keluar dari hidung," kata Harmen ketika dimintai konfirmasi detikcom di Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (9/6/20212).

Harmen mengatakan, setelah keluar darah, ada seorang pramugari yang meminta bantuan. Menurut dia, pramugari tersebut menanyakan apakah ada dokter atau tenaga medis yang ikut dalam penerbangan itu. Kata Harmen, karena ada dokter, makanya Wabup Helmut langsung dibawa ke bagian belakang untuk mendapatkan penanganan medis.

"Pas itu pramugari langsung meminta tolong jika ada dokter atau paramedis yang ikut dalam penerbangan ini. Jadi langsung diarahkan ke bagian belakang pesawat. Saat itu nadi bapak dipompa supaya ada pernapasan, tapi bapak memang ndak (tak) ada respons. Terus mereka mengecek nadi bapak, kan mau tahu detak jantung, tapi mulai melambat," jelasnya.

Selain itu, Harmen yang duduk di samping Wabup Helmut itu mengatakan, tindakan terakhir yang diambil dokter di dalam pesawat yaitu diberikan suntikan guna memacu jantungnya. Namun nadinya tak ditemukan akhirnya pemberian suntikan dibatalkan.

"Jadi tindakan terakhir dari dokter itu mau suntik adrenalin untuk pacu jantung. Cuma pas cari nadi bapak karena mungkin bapak sudah kolaps sudah tak dapat nadi bapak. Cari beberapa tempat tidak dapat, jadi mereka batalkan itu suntik. Jadi keterangan dokter di pesawat cuma itu yang bisa dibuat, kemudian alat-alat tidak ada yang memadai sambil menunggu turun di Makassar masih 30 menit lagi untuk landing," ujar dia.

Tak lama setelah landing, Wabup Helmut langsung ditangani pihak dokter dari Bandara Hasanudin Makassar. Menurutnya, setelah diperiksa dokter kemudian menjelaskan jika Wabup Helmut telah meninggal dunia.

"Pas tiba di Makassar dokter karantina kesehatan naik di pesawat cek kondisi bapak. Memang waktu di pesawat kedua dokter sudah periksa tangan bapak mulai pucat. Sampai di ruangan masih diperiksa lagi. Menurut pandangan medis, kalau gejala-gejala itu tandanya orang sudah meninggal," kuncinya.[dtk]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita