Ada Apa Denganmu Zakiah?
logo

3 April 2021

Ada Apa Denganmu Zakiah?

Ada Apa Denganmu Zakiah?


BEBERAPA ORANG bilang, Zakiah Aini (ZA) berparas manis tapi teroris.  Meski tak cantik sangat, tapi terbilang lumayanlah. 

Makanya, ketika jantungnya bolong ditembak polisi, banyak yang mengatakan, manis tapi miris. Namun ada juga yang ngomong; Kasihan Zakiah!

Saya tak membela ZA. Tapi sebagai seorang wartawan, saya hanya bertanya-tanya saja. Kenapa ZA harus ditembak persis di jantungnya. Apa para "sniper ulung" di Mabes Polri tak bisa menembak pergelangan tangannya atau bahkan kaki atau pahanya. Sehingga, ZA bisa dibekuk dan ditanyai. Apakah menurut SOP polisi, setiap orang yang memegang "senjata", harus ditembak mati?

Juga, apa rekan-rekan di kepolisian tidak bisa menentukan atau "mengeker" jenis senjata yang dipakai ZA untuk memberondong Mabes Polri. Sebab dari data yang ada, senjata yang dipakai ZA hanyalah jenis senjata angin dengan peluru biji besi. Dan ZA juga dihabisi di tempat terbuka, tanpa ada perlindungan sama sekali. Yang menurut saya, aparat penegak hukum dengan sangat mudah melumpuhkannya, tanpa harus membunuhnya.

Tapi bagaimana pun, itulah risiko. Jangan coba-coba main api kalau takut terbakar. Jangan menyerang orang kalau tak mau diserang balik. ZA sudah mencoba, apakah benar polisi itu sakti. Apakah jika polisi diserang, tidak akan membalas. Nyawa ZA pun sudah jadi taruhan. Nafasnya melayang dan direnggut di tempat. Dia pun kemudian diduga sebagai teroris.

Hasil penyelidikan menyebutkan, pelaku memang seorang perempuan muda yang baru berusia 25 tahun bernama ZA. Belum menikah dan "drop out" dari universitasnya.

Kata Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo kepada wartawan, pelaku adalah penyerang tunggal atau dikenal dengan istilah "lone wolf". Dan, ZA diduga mendukung organisasi teroris ISIS.

Lanjut Kapolri, di instagramnya ZA mengunggah foto bendera ISIS dan keterangan tulisan terkait jihad dan teror ISIS.

Di Mabes Polri, ZA melepaskan 6 kali tembakan. Dua di antaranya kepada petugas jaga. Karena itu, aparat kepolisian melepaskan tembakan yang menurut otopsi, menghantam jantung ZA.

Sepertinya, usai keterangan Kapolri, maka "habislah" sementara cerita tentang ZA. Tinggal lagi cerita-cerita yang kemudian berkembang ke mana-mana. Sebagian masyarakat setuju dengan penembakan itu. Yang namanya teroris memang harus ditumpas. Sebagian lagi acuh saja dan beberapa kelompok lagi mengembangkan dengan berbagai versi.

Ada yang menyebut ZA frustasi, ada yang bilang ZA sudah tercuci otaknya oleh kelompok teroris, ada pula yang menyebut ZA memang mau bunuh diri. Ada yang ngejek di media sosial bahwa ZA (mungkin) putus cinta. Ada pula yang menulis ZA salah didik soal agama.

Ada juga yang menyebut ZA kurang kasih sayang dari orang tua. Bahkan sebaliknya, ada yang menduga ZA putus asa melihat kondisi negerinya saat ini. Sekelompok kecil masyarakat, menunjukkan pula rasa simpati dan kasihan; kenapa ZA harus mati ditembak persis di jantungnya.

Namun, dari sekian banyak pendapat, saya lebih cenderung dengan ulasan pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel. Bukan karena namanya pakai "Indragiri", tapi memang masuk akal saya sebagai seorang wartawan yang berasal dari sebuah kabupaten di Riau yang bernama Indragiri.  

Sebab menurut Reza, ZA pasti punya maksud khusus kenapa dia mendatangi Mabes Polri seorang diri dan melakukan pengancaman. Meskipun senjata yang dia bawa berjenis pistol angin berpeluru plastik atau biji besi.

Menurut Reza, ZA adalah jenis perempuan nekat dan pasti sudah menimbang risiko yang akan diterimanya jika menyerang markas besar polisi. ZA juga sudah membayangkan risiko yang akan dia hadapi di jantung lembaga kepolisian itu.

"Jadi, serangan tersebut sekaligus merupakan aksi terencana untuk bunuh diri," kata Reza.

Dikatakan Reza, kategori penyerangan terhadap polisi, jika mengacu kepada "the serve and protection act" atau serangan terhadap aparat, termasuk ke dalam "hate crime".

Artinya, kejahatan berdasarkan kebencian atau tindak pidana yang bermotif prasangka terhadap kekurangan seseorang, ras, agama, organisasi, orientasi seksual dan sebagainya. Jadi, yang dilakukan ZA bukan "terrorism".

Harus  dibedakan, lanjut Reza, penyebutan hate crime dan terrorism. "Pelaku penembakan yang menyasar polisi tidak serta-merta disikapi sebagai (terduga) teroris. Butuh cermatan spesifik kejadian per kejadian, untuk memprosesnya secara hukum dengan pasal yang tepat sekaligus menangkal kejadian berikutnya secara tepat sasaran," ujar Reza.

Juga, pada saat melakukan penyerangan ke Mabes Polri, Reza menduga pelaku sudah tahu risiko tidak akan kembali dengan selamat. ZA pasti sudah memikirkan matang-matang konsekuensi penyerangan tersebut. Apalagi belakangan, diketahui ZA menulis surat wasiat untuk keluarganya. Dalam surat wasiat itu, dia meminta maaf dan pamit kepada keluarganya.

Menurut saya, apa yang dikatakan Reza, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini, masuk akal, ketimbang dia divonis sebagai teroris. Meski beda "hate crime" dan "terrorism" ini sangat tipis, mungkin setipis kulit bawang Bombay.

Lalu, jika tindakan ZA dihubungkan dengan  fenomena "lone wolf", bisa saja. Tapi dia bukan lone wolf terrorism; Generasi terorisme baru yang bekerja sendiri.

Bisa saja dia terpengaruh dengan "Jihad ISIS" yang mendoktrin bila mati syahid akan masuk surga. Tapi sampai sejauh ini, tak ditemukan bukti kuat hubungan ZA dengan ISIS atau para teroris yang bergerak atas perintah "Islamic State of Iraq and Syria", yang merupakan gerakan  di dunia Islam yang ingin mendirikan pemerintahan Islam yang dikenal dengan istilah pemerintahan khilafah.

Dari sejumlah bahan bacaan saya mendapatkan bahwa "lon wolf terrorism", adalah generasi baru terorisme yang terinspirasi  oleh organisasi besar, semisal Al Qaedah, ISIS, Jemaah Islamiyah,  Jemaah Ansharut Daulah (JAD) dan lainnya. Mereka dipengaruhi atau terpengaruh melalui  jaringan untuk melakukan aksi serangan masif hingga bom bunuh diri.

Kemudian, mereka bekerja dalam kelompok kecil saja. Bisa hanya kakak dan adik, suami-istri dan bahkan beberapa orang saja. Tak lagi bergerak dalam kelompok besar dalam satu serangan terorisme.

Namun mereka tidaklah anggota aktif organisasi. Mereka bergerak atas apa yang mereka pikirkan saja. Mereka merasa terpanggil melakukan tindakan terorisme, lebih kurang sama dengan yang dilakukan organisasi besar itu.

Dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa penganut lone wolf terorist, mengidap kelainan jiwa. Meski secara fisik dia tampak baik-baik saja, tapi mereka memiliki poblem pribadi yang sangat tinggi, sehingga mudah terpengaruh ideologi ekstrem.

Lalu, bila dikembalikan  kepada apa yang dilakukan ZA, benarkah dia terpengaruh ISIS. Kalau menurut saya, belum pasti.  Karena dia datang sendiri ke Mabes Polri, kemudian melepaskan  tembakan dan tak ada yang terkena.

Yang tergambar, dia memang ingin mati menurut caranya. Dan, diapun akhirnya tewas ditembak, tanpa sesiapapun dari pihak kepolisian yang mati, jadi korban atau terluka.

ZA pun juga tak merasa menyesal atas semua yang dilakukannya. Buktinya, dalam surat wasiat yang didapat petugas polisi di rumah orangtuanya. Dia seperti sudah mati dan minta maaf.

Isi surat itu antara lain: Mama, sekali lagi, Zakiah minta maaf. Zakiah sayang banget sama Mama. Tapi Allah lebih menyanyangi hambaNya. Maka Zakiah tempuh jalan ini, sebagaimana jalan Nabi/ Rasul Allah untuk selamatkan Zakiah. Dan dengan izin Allah memberi syafaat untuk Mama dan keluarga di akhirat."

Saya pun sebenarnya tak mengerti dengan apa yang dilakukan ZA. Apa dia berfikir bisa lolos begitu saja setelah mengancam dengan tembakan di Markas Besar Polisi. Apa dia memang bisa membuat polisi takut dengan perbuatannya. Apakah dia memang seorang teroris. Apakah dia memang terpengaruh dengan ISIS atau lainnya? Entahlah!

Tapi yang pasti, saya punya fikiran dan pertanyaan aneh tentang ZA. Kenapa dengan mudah dia bisa masuk Mabes Polri dengan membawa senjata.

Kenapa dia harus mati dengan jantung hancur kena peluru benaran. Ada apa dengan tindakan kepolisian yang dengan cepat menghabisi nyawa ZA.  Dan,  ada apa sebenarnya denganmu Zakia?

(Penulis adalah Ketua DKP (Dewan Kehormatan Provinsi) PWI Riau dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Riau.)
close
Subscribe