PDIP Pamerkan Sarapan Megawati, Tak Lagi Konsumsi Nasi
logo

24 Maret 2021

PDIP Pamerkan Sarapan Megawati, Tak Lagi Konsumsi Nasi

PDIP Pamerkan Sarapan Megawati, Tak Lagi Konsumsi Nasi


GELORA.CO - Soal urusan makanan pokok, disebutkan Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri mulai secara perlahan mengganti menu makanan sehari-harinya dari beras atau nasi ke sumber karbohidrat lainnya. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, hal yang dilakukan oleh Megawatisejalan dengan gerakan menanam pangan PDIP satu tahun belakangan. Hal itu dilakukan supaya Indonesia ke depannya perlu didorong mengonsumsi sumber makanan pendamping selain beras.

"Tidak hanya dalam politik, dalam urusan gerakan menanam tanaman pendamping beras pun ibu Mega sangat konsisten. Sejak satu tahun yang lalu, ibu Mega ternyata telah mengubah menu makanan Beliau dengan mengurangi nasi dan mengganti dengan jagung, pisang, umbi, talas, sukun dan lain-lain. Pagi ini saya melihat sendiri bagaimana menu sarapan ibu Mega terdiri dari jagung, pisang rebus, dan lumpia dengan isi kombinasi telur dan sayur-sayuran," kata Hasto dalam keterangannya yang diterima VIVAnews, Senin 23 Maret 2021.

Baru-baru ini memang PDIP lewat Hasto Kristiyanto mengkritik keras kebijakan yang diambil Menteri Perdagangan M Luthfi terkait impor beras. Dalam kesempatan pertemuannya dengan Megawati tadi pagi, Hasto bercerita belum lama ini kembali menemui Chaerudin atau akrab disapa Babeh Idin agar diberikan kesempatan menanam porang. Babeh Idin adalah penerima Kalpataru dan dikenal sebagai aktivis penjaga lingkungan hidup pencetus Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Kemudian setelah mendengar cerita Hasto, Mega pun secara spontan mengeluarkan stok makanan Jepang berupa 'beras' Shirataki yang baru saja dikirim demi kepentingan penelitian. 

Shirataki bisa menjadi contoh berdasarkan berbagai keterangan yang dihimpun, bagaimana dari tanaman atau umbi-umbian, kemudian direkayasa menjadi laiknya beras. 

“Ini beras Shirataki dari Jepang. Sengaja saya minta dibeli karena ini dari porang. Kamu kirim gambar ini ke pak Pratik (Mensesneg) dan minta agar UGM, IPB dan perguruan tinggi lainnya melakukan riset untuk membuat produk olahan dari makanan lokal seperti bagaimana mengolah Porang dan lain-lain," kata Hasto menirukan pesan Mega penuh semangat.

Lebih lanjut, Megawati menantang para peneliti dan juga seluruh lembaga perguruan tinggi untuk melakukan riset di dalam mengolah keanekaragaman makanan nusantara. Soal impor beras, kata Hasto, Megawati memberi contoh lewat gerakan tanaman pangan pendamping beras dan mendorong penelitian mengenai sumber makanan pokok khas lokal.

Sedianya sarapan atau makanan yang dipilih Megawati pun sebetulnya gampang ditemui sehari - hari dan mudah untuk ditanam.

“Saya selalu berharap para peneliti Indonesia menemukan benih unggul dan sekaligus kemampuan pengembangan teknologi proses untuk makanan nusantara yang luar biasa jenisnya. Bahkan saya mau ikut berikan insentif sebagai daya dorong bagi peneliti Indonesia," kata Ketua Umum PDIP Megawati.

Hal ini dilakukan lanjut Hasto sebagai upaya agar Indonesia tidak perlu impor dan melulu bergantung konsumsi pada beras.
 
“Jalan berdikari dalam pangan harus dibangun dengan penuh rasa percaya diri. Di manapun, tugas menteri perdagangan itu menitikberatkan untuk mendorong ekspor. Jadi sangat aneh di tengah pandemi yang seharusnya menghemat devisa, menteri perdagangan malah terus ngotot kampanye impor beras,” sambung Hasto. []
close
Subscribe