Indo Barometer: SBY Sutradara Ungkap Isu Kudeta PD

Indo Barometer: SBY Sutradara Ungkap Isu Kudeta PD

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Manuver Ketum PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengumumkan upaya kudeta kepemimpinannya memunculkan spekulasi politik.

Terutama tentang siapa orang yang merencanakan ekspos besar-besaran isu kudeta partai yang tentu ada untung-ruginya ini.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyebut ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini menjabat Ketua Majelis Tinggi PD di belakang rencana besar itu. Qodari mengamati ada sejumlah pertimbangan sebelum SBY melepaskan AHY mengumumkan adanya rencana besar kudeta Partai Demokrat.

"King makernya atau sutradaranya ya SBY. Nah maksud dan tujuannya ya tentunya untuk pertama mungkin menghentikan gerakan-gerakan di dalam maupun gerakan-gerakan dari luar yang dalam hal ini adalah Pak Moeldoko begitu, dengan asumsi bahwa jika ini disampaikan ke publik lalu kemudian AHY kirim surat ke Jokowi itu Jokowi akan menghentikan Moeldoko begitu," kata Qodari dalam pesan elektronik kepada wartawan, Rabu (10/2/2021).

Tujuan berikutnya jelas untuk meningkatkan elektoral Partai Demokrat yang mulai meredup. Hempasan isu kudeta membuat Partai Demokrat seolah dizamili sehingga diharapkan bisa mengangkat citra PD maupun AHY.

"Yang kedua merupakan sebagian dari strategi elektoral baik bagi AHY sendiri maupun bagi Partai Demokrat. Bagi AHY dengan cara ini maka mengalami lonjakan pemberitaan diharapkan meningkatkan simpati bahkan dukungan karena dizalimi oleh penguasa begitu," paparnya.

Benefit politik yang diharapkan berikutnya ialah memberi kesan Partai Demokrat berkonfrontasi dengan Jokowi, bahkan pemerintah. Bahkan melebar kepada partai pemerintah lainnya seperti PDIP, NasDem, PKB bahkan Hanura.

"Kemudian pembelahan pemerintah versus oposisi akan terbangun di mana Partai Demokrat adalah oposisi. Nah diharapkan ini bisa menggalang suara masyarakat yang tidak suka atau tidak puas dengan pemerintah dengan Jokowi," ujar Qodari menganalisis.

"Dan kebetulan pada saat bersamaan Prabowo dan Partai Gerindra yang selama periode 2014-2019 menjadi lawan Jokowi atau berada di luar pemerintahan sekarang sudah bergabung sehingga ada kekosongan di situ. Nah suara itu dimanfaatkan Partai Demokrat, nah itu keuntungan yang diharapkan dengan mengumumkan rencana kudeta itu," simpul Qodari.

Namun demikian manuver politik ini juga bisa mendatangkan kerugian bagi Partai Demokrat. Kerugian utamanya adalah publik melihat kepemimpinan Partai Demokrat yang tidak kokoh.

"Nah kerugiannya adalah sebagian dari masyarakat sebetulnya akan melihat bahwa oh ternyata AHY tidak kuat, oh ternyata kepemimpinan PD tidak kuat sehingga simpati akan turun," papar Qodari.

Kerugian kedua, menurut Qodari, justru pengumuman tersebut memancing gerakan pembangkangan atau gerilya politik yang lebih besar. Jika tidak bisa diatasi dengan baik maka situasi internal Partai Demokrat akan terus memanas.

"Pengumuman ini bisa jadi memancing semangat dari mereka yang mau melakukan gerakan kongres luar biasa justru menjadi luas, oh tenryata di dalam tidak kuat, oh kalau begitu kita punya peluang. Sebetulnya pengumuman semacam itu sama dengan melempar darah ke lautan, jadi hiu-hiu mencium bau darah dan dan menimbulkan gerakan kongres luar biasa yang sesungguhnya dalam jumlah besar," pungkasnya.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita