Ahli Peringatkan Munculnya Disease X, Penyakit yang Berpotensi Jadi Pandemi Baru

Ahli Peringatkan Munculnya Disease X, Penyakit yang Berpotensi Jadi Pandemi Baru

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Dokter penemu virus Eboa telah memperingatkan munculnya virus mematikan baru yang akan menyerang umat manusia di masa depan setelah seorang perawat menemukan kasus infeksi tidak biasa yang kemudian disebut sebagai Disease X atau Penyakit X.

“Manusia menghadapi sejumlah virus baru yang tidak diketahui jumlahnya. Ada virus baru dan berpotensi mematikan muncul di hutan hujan tropis Afrika,” ujar Jean-Jacques Muyember, seorang profesor yang membantu menemukan virus Ebola pada 1976, kepada CNN.

“Kita sekarang berada di dunia di mana patogen baru akan keluar. Dan itulah yang bisa menjadi ancaman bagi umat manusia,” tambahnya.

Menurutnya, pandemi di masa depan bisa lebih buruk ketimbang COVID-19 yang saat ini menyebar ke seluruh dunia. Bahkan, dia menyebut bisa menjadi apokaliptik. Adapun Disease X ditemukan setelah seorang pasien wanita di Ingende, Kongo, Afrika mengalami serangkaian gejala seperti demam dan diare.

Dokter yang memeriksa wanita tersebut awalnya mengira pasien mengalami demam berdarah atau Ebola. Anehnya, hasil pemeriksaan menunjukkan si pasien negatif mengidap Ebola maupun demam berdarah. Petugas kesehatan khawatir wanita tersebut mengidap Disease X, huruf ‘X’ diartikan sebagai penyakit tidak terduga.

“Kami semua harus takut. Ebola tidak diketahui, COVID-19 tidak diketahui. Kami harus takut dengan penyakit baru,” kata Dadin Bonkole, dokter yang menangani pasien sebagaimana diberitakan CNN.

Patogen ini disebut-sebut memiliki daya penularan tinggi sama seperti COVID-19. Namun, punya tingkat kematian lebih besar seperti Ebola, sekitar 50 hingga 90 persen. Hingga saat ini, Congo’s National Institute of Biomedical Research (INRB) telah menguji sampel pasien untuk menentukan penyakit yang wanita idap. Namun hasil menunjukkan negatif dan penyakit masih belum diketahui.

“Kami mendapatkan kasus yang sangat mirip dengan Ebola, tetapi ketika kami melakukan tes, hasilnya negatif,” kata Dr. Christian Bompalanga, kepala layanan medis di Ingende. “Kami harus melakukan pemeriksaan tambahan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini ada beberapa kasus yang dicurigai di sana.”

Saat ini, wanita pengidap Disease X masih dalam ruang isolasi. Di masa lalu, ketika Ebola pertama kali ditemukan, penyakit ini telah membunuh 88 persen pasien dan 80 persen staf yang bekerja di Rumah Sakit Misi Yambuku. Ebola menyebabkan pendarahan bagi para pengidapnya.

Muyembe memperingatkan penyakit zoonosis yang ditularkan hewan ke manusia akan lebih banyak terjadi di masa depan. Demam kuning, berbagai bentuk influenza, rabies, brucellosis dan penyakit lyme adalah beberapa penyakit zoonosis yang pernah menjadi epidemi sebelumnya.

Para ahli mengatakan, banyaknya virus baru yang muncul sebagian besar disebabkan oleh rusaknya habitat hewan dan perdagangan satwa liar di pasar gelap, termasuk deforestasi hutan secara besar-besaran. Saat habitat alami mereka menghilang, hewan seperti tikus, kelelawar, dan serangga dapat bertahan sementara predator yang lebih besar punah.

Alhasil, terjadi ketidakseimbangan ekosistem dan rantai makanan pun rusak. Beberapa hewan invasif berkembang biak lebih masif dan menyebarkan virus ke manusia. SARS, MERS, dan COVID-19 adalah penyakit yang semuanya disebabkan oleh virus corona, kemungkinan berasal dari kelelawar.

Epidemiolog dari Edinburgh University, Mark Woolhouse, mengatakan dalam penelitiannya bahwa spesies baru virus ditemukan sekitar tiga hingga empat tahun sekali, di mana mayoritas virus baru ini berasal dari hewan. Hewan yang dijual di pasar basah bisa menjadi ancaman serius dan Disease X mungkin hidup di salah satu hewan di sana. (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita