Mungkinkah Habib Rizieq Akan Mengikuti Jejak Langkah Ayatollah Khomeini?
logo

17 Desember 2020

Mungkinkah Habib Rizieq Akan Mengikuti Jejak Langkah Ayatollah Khomeini?

Mungkinkah Habib Rizieq Akan Mengikuti Jejak Langkah Ayatollah Khomeini?



Siapa yang tidak kenal dengan Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sosok paling cukup progresif dan revolusioner. Menjadi tokoh paling berpengaruh dalam menggerakkan revolusi Iran.  

Seperti yang tertulis di biografinya, beliau dikenal sebagai seorang filsuf pemberani, seorang alim yang dalam ilmunya, bijaksana, sastrawan, dan politikus ulung. Politik baginya bukan sekadar profesi, namun sebagai tugas dan tanggung jawab besar.  

Kata-katanya dan ide-idenya mendobrak dan menggerak. Pikiran dan hidupnya adalah ilmu dan amal. Pikiran dan idenya berjalan seiring dengan tindakan. Perbuatannya dapat dipahami dari pemikirannya dan begitu pula sebaliknya. 

Itulah yang tergambarkan jika kita berbicara mengenai Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini, salah satu karakter terpenting Imam Khomeini bagi rakyat Iran adalah pemikiran ilahi-nya. Imam Khomeini hanya mementingkan keinginan Allah dan apa yang terdapat dalam Alquran dan hadis. 

Sedikit kita refleksi sepak terjang Ayatollah Khomeini. Selama 14 tahun di pengasingan. Penangkapannya memunculkan gelombang protes, demonstrasi yang berujung kerusuhan, bahkan menelan korban sampai ratusan orang. 

Pada waktu itu Imam Khomeini didatangi oleh militer. Dia hanya diberi dua pilihan: meninggalkan aktivitas politiknya atau pergi meninggalkan Iran. Tentu itu adalah pilihan deskriminatif yang sulit dan sekaligus tidak adil. 

Sebagai seorang ulama yang teguh dengan prinsip, Ayatollah Khomeini akhirnya memilih opsi kedua, yaitu pergi meninggalkan Iran. Dan bertolak menuju Paris. Di sana dia tetap dengan strateginya, meminta rakyat Iran terus menentang rezim Pahlavi dengan sumber daya yang ada. 

Puncak dari gerakan protes itu terjadi peristiwa Black Friday, di mana pasukan kerjaan menewaskan puluhan orang ketika bentrok dengan para demonstran. Bukan lagi cucuran keringat yang dipersembahkan, melainkan juga cucuran darah. 

Akhirnya dengan berbagai alasan Pahlavi sebagai pemimpin waktu itu pergi meninggalkan Iran. Dua pekan setelah itu Ayatollah Khomeini kembali ke Iran, disambut tidak kurang dari lima juta orang. 
menjelang tiga bulan setelah itu terjadi sebuah referendum, yang mengesahkan penghapusan monarki menjadi Republik Islam dengan meraup 98 persen suara dari rakyat Iran. 

Iran mengesahkan konstitusi republiknya dalam sebuah referendum, dengan mengangkat Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi dengan nama resmi Pemimpin Revolusi. 

*** 

Hari ini, kita seperti melihat jejak langkah Ayatollah Khomeini di Indonesia. Yaitu Habib Rizieq.  
Sepak terjang Habib Rizieq memang tidak seratus persen mirip dengan perjalanan Ayotullah Kho
meini dalam mencetuskan revolusi. Tapi tantangan yang ditampilkan rezim hari ini membuat imam besar ini seperti dalam situasi yang sama pada masa rezim Pahlavi. Sehingga beliau memiliki keinginan kuat untuk mengemban misi revolusi. 

Jika kita kilas balik perjalanan dakwah beliau. Seperti yang kita ketahui, berbekal ilmu yang dimiliki, Habib Rizieq mulai mengabdi ke masyarakat dengan menjadi penceramah dan pengajar ngaji di majelis talim dan masjid. Seiring aktivitasnya, ia juga aktif di organisasi dan Pembina di sejumlah majelis ta'lim. 

Dialog yang damai adalah kunci yang akan dapat memecahkan berbagai masalah.

Pembina di sejumlah majelis ta'lim.

Seiring perjalanan dakwah dan problematikanya, Habib Rizieq dan beberapa habib dan ulama mendirikan organisasi Front Pembela Islam (FPI). Organisasi ini untuk pertama kalinya dicetuskan pada tanggal 17 Agustus 1998 di kediamannya Petamburan, Jakarta. 

Organisasi bentukan Habib Rizieq ini memiliki visi dan misi menerapkan syariat Islam secara kafah di bawah naungan khilafah islamiyah menurut manhaj nubuwwah, melalui pelaksanaan da’wah, penegakan hisbah dan pengamalan jihad. 

Sejak didirikan FPI, nama Habib Rizieq dikenal luas sebagai pendiri, ketua umum sekaligus imam besar. Sepak terjang Habib Rizieq bersama FPI sering kali menuai polemik. Berbagai pro dan kontra di antara masyarakat selalu bersaut-sautan. Pembawaan Habib Rizieq yang sangat berani pernah menyeretnya ke ranah hukum. Beberapa kali ia berurusan dengan kepolisian. 

Sampai akhirnya Habib Rizieq dihantam berbagai kasus. Dirangkum Suara.com, setidaknya ada 8 kasus yang menjerat Habib Rizieq. Beberapa kasus tersebut di antaranya telah dihentikan atau SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara). 

Pertama, kasus dugaan penghinaan terhadap budaya Sunda yakni memplesetkan salam 'Sampurasun'. Ketika itu Rizieq dilaporkan pada 24 November 2015. 

Kedua, kasus penguasaan tanah ilegal di Megamendung, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Rizieq dilaporkan ke Bareskrim Polri pada 19 Januari 2016. 

Ketiga, kasus dugaan penghinaan terhadap agama Kristen terkait ceramahnya di Jakarta Timur. Rizieq dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 27 Desember 2016. 

Keempat, kasus dugaan penghinaan agama. Rizieq dilaporkan oleh Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2017. 

Kelima, kasus logo komunis yakni palu arit di mata uang pecahan Rp 100 ribu. Rizieq dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2017. 

Keenam, kasus ceramah Rizieq soal logo komunis palu dan arit di mata uang pecahan Rp100 ribu. Kasus ini dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 10 Januari 2017. 

Ketujuh, kasus penodaan Pancasila. Rizieq dilaporkan putri Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jawa Barat, pada 27 Oktober 2016. Kasus tersebut selanjutnya dihentikan atau dinyatakan SP3, pada 30 Januari 2017. 

Kedelapan, kasus dugaan chat mengandung unsur pornografi dengan wanita bernama Firza Husein. Rizieq dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Mei 2017. Namun perkara tersebut dihentikan atau dinyatakan SP3 pada tahun 2018. 

Yang jelas, hal tersebut tak membuat kapok Habib Rizieq dalam berdakwah. Sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk hijrah ke Mekkah, sebagai jalan untuk menghindari berbagai fitnah. baik karena alasan inisiatif pribadi maupun oleh tekanan penguasa saat ini. 

Tepat pada 10 November 2020 kemarin, beliau kembali ke tanah air. Kedatangan Habib Rizieq disambut besar oleh seluruh umat muslim Indonesia. 

Menurut keterangan beberapa media, terdapat sekira 3.000 personel aparat yang berjaga karena anggota dan jemaah yang menyambut kedatangan Imam Besar Habib Rizieq terdapat lebih dari 10.000 orang.

Sejak kehadiran imam besar ini di Indonesia, kembali lagi kita mendengarkan berbagai kontroversi. Dengungan revolusi kembali menjadi bahan diskusi.  

*** 

Dengan berbagai kisruh yang terjadi, secara objektif saya menilai, bahwa sosok Habib Rizieq memang tidak diindahkan oleh otoritas penguasa hari ini. Mengapa saya katakan demikian? Dengan berbagai informasi yang kita lihat akhir-akhir ini, dari rangkaian peristiwa yang beliau alami.  
Semacam ada tekanan kuat dari kekuasaan. 

Otoritas penguasa hari ini seperti merasa terganggu dengan kehadiran Habib Rizieq. Hal itu mungkin karena beliau terkenal dengan sosok yang sangat kontroversial, di sisi lain mungkin karena beliau menjadi tokoh yang paling diidolakan banyak umat Islam yang secara terang-terangan menjadi kelompok oposisi kekuasaan hari ini. 

Menggunakan aparatur negara seperti TNI dan POLRI untuk menghentikan kisruh hanya akan berdampak baku hantam di mana-mana. Karena pasti akan terjadi sikap saling serang. Kata salah seorang akademisi "Pemerintah dalam menyelesaikan konflik jangan menggunakan kekuasaan, karena akan hanya melahirkan kehancuran. Gunakan pengetahuan, karena itu akan melahirkan kedamaian." 

Negara kita dalam masa-masa yang rumit dan sulit; pandemi dan resesi ekonomi. Sudah seharusnya semua elemen bangsa bersatu dengan pemerintah saat ini, untuk menghadapi badai yang sedang berlangsung.  

Pemerintah harus lebih bersemangat melakukan rekonsiliasi, terutama dengan FPI. Tidak seharusnya TNI dan POLRI mengumumkan perang terhadap sesama warga negara. Apa yang mau diperang? FPI? Jika FPI yang mau diperangi itu hanya akan memperkeruh situasi. Sementara yang harus diperangi bukan FPI, tapi soal pandemi dan resesi ekonomi. Dan menteri-menteri kabinet Jokowi yang korupsi, karena itu jelas-jelas kondisi yang akan merugikan kita semua jika tidak diatasi. 

Habib Rizieq bukanlah koruptor, bukan teroris, bukan pencuri uang negara. Memusuhi Habib Rizieq bukan jalan yang tepat yang sehat. Dia hanya manusia yang pedas dan keras mulutnya dalam menyerukan 'nahi munkar'.  Kenapa negara seperti kebakaran jenggot? Seolah-olah habib Rizieq mafia besar yang liar.  

*** 

Tidak ada salahnya Presiden Jokowi berdialog terbuka dengan habib Rizieq, yang disaksikan oleh semua media dan warga negara. Soal menjaga kedamaian Indonesia. Jika memang Habib Rizieq dipandang sebagai musuh negara. 

Dialog yang damai adalah kunci yang akan dapat memecahkan berbagai masalah. 

Dilihat dalam perspektif demokrasi, khususnya dari pendekatan Ilmu Komunikasi, demokrasi itu pada hakikatnya adalah dialog. Sedang inti dari dialog itu tujuannya adalah menjadi titik temu serta saling pengertian. 

Dengan demikian, bila memang jalan dialog yang dipilih dalam memecahkan bahkan menyelesaikan masalah, maka antar para elite yang melakukannya, haruslah siap saling mengalah. Bila dicermati secara lebih dalam, maka sebenarnya Demokrasi Pancasila yang mengutamakan musyawarah mufakat, hanya mungkin terjadi bila para pesertanya mau saling mengalah, demi kepentingan yang lebih besar dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. 

Jika hal ini tidak segera dilakukan oleh presiden Jokowi, maka jalan revolusi yang dinarasikan oleh Habib Rizieq tentu semakin dekat dan kuat. Bisa kita lihat jalan lahirnya revolusi dalam berbagai catatan sejarah, disebabkan oleh arogansi kekuasaan dan komunikasi yang tidak terfasilitasi dengan baik, sehingga menimbulkan miskomunikasi. 

Jalan ke luar untuk mengatasi semua itu adalah melakukan dialog dengan prinsip saling mengalah, adalah jawabannya. Jika tidak, mungkin saja revolusi akan terjadi. Jika Seperti jejak langkah Ayatollah Khomeini. 

Tabik!
close
Subscribe REKAT TV