Trump Minta Penghitungan Suara Disetop, Kubu Biden: Keterlaluan, Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
logo

5 November 2020

Trump Minta Penghitungan Suara Disetop, Kubu Biden: Keterlaluan, Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Trump Minta Penghitungan Suara Disetop, Kubu Biden: Keterlaluan, Belum Pernah Terjadi Sebelumnya


GELORA.CO - Pertarungan antara petahana Donald Trump dan penantangnya, Joe Biden dalam Pilpres Amerika Serikat 2020 masih berlangsung.

Dikutip dari CNN, Donald Trump pada Rabu (4/11/2020) pukul 02.30 dini hari waktu AS, atau pukul 14.30 WIB berusaha mengklaim kemenangannya.

Donald Trump juga menyerukan penghentian perhitungan suara yang sedang berlangsung di seluruh negeri.

Faktanya, pemilu masih jauh dari kata selesai dan jutaan suara di negara bagian utama, yakni Pennsylvania, Wisconsin, Alaska, Georgia, Nevada, North Carolina dan Michigan belum dihitung.

Namun Trump mengatakan kepada pendukungnya bahwa Demokrat mencoba "mencuri pemilihan".

Sampai pukul 17.30 WIB, Joe Biden masih unggul dengan perolehan 238 suara elektoral. Sementara Donald Trump tertinggal di angka 213 suara elektoral.

Menghadapi kemungkinan kekalahan, Trump tampaknya memanfaatkan kesempatan untuk membingungkan para pendukungnya soal proses demokrasi.

Dia mengindikasikan ada sesuatu yang tidak baik terkait fakta bahwa masih banyak negara bagian yang sedang menghitung suara.

Penghitungan suara yang lama hingga beberapa hari, diantisipasi banyak orang Amerika dengan memberikan suara melalui surat untuk mencegah paparan virus corona.

Sambil menyarankan agar perhitungan suara sah harus dihentikan karena dia melihat marginnya menyempit di beberapa negara bagian, Trump mengancam akan memprosesnya ke Mahkamah Agung.

Trump merayakan kemenangannya atas Florida dan Ohio dan mengklaim akan memenangkan negara bagian utama.

Sejumlah klaim pada pidato Trump ini pun mendapat kritik keras dari pihak Joe Biden.

"(Pidato Trump merupakan) upaya telanjang untuk mengambil hak-hak demokratis warga Amerika," kritik Manajer kampanye Biden, Jen Malley Dillon.

"Pernyataan Presiden malam ini tentang mencoba menghentikan penghitungan surat suara yang seharusnya diberikan adalah keterlaluan, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak benar," katanya.

"Itu belum pernah terjadi sebelumnya karena belum pernah sebelumnya dalam sejarah kita seorang presiden Amerika Serikat berusaha untuk mencabut Orang Amerika bersuara dalam pemilihan nasional. Setelah mendorong upaya Partai Republik di banyak negara bagian untuk mencegah penghitungan sah surat suara ini sebelum Hari Pemilihan, sekarang Donald Trump mengatakan bahwa surat suara ini juga tidak dapat dihitung setelah Hari Pemilihan," jelas Jen Malley.

Biden pada dini hari waktu AS juga sempat berbicara pada pendukungnya, mendahului Trump.

"Kami yakin kami berada di jalur yang tepat untuk memenangkan pemilihan ini," ujarnya.

Mantan wakil presiden itu mengatakan, bukan terserah dia atau Trump untuk memutuskan pemenang pemilihan dan suara akan dihitung.

"Jaga iman kalian, kami akan memenangkan ini," kata Biden.

Joe Biden juga menyampaikan kepada pendukungnya bahwa harus menunggu hingga penghitungan suara selesai dilakukan.

"Ini belum selesai sampai setiap suara dihitung, semua suara dihitung," ujar Biden.

"Bukan wewenangku ataupun wewenang Donald Trump untuk menyampaikan hasilnya. Keputusannya ada di masyarakat," tambah Trump.

Biden sendiri meyakini dirinya berada pada jalur yang tepat untuk mengalahkan petahana Trump.

Karenanya dia meminta masyarakat Amerika bersabar dengan penghitungan suara seperti di beberapa negara bagian yang menjadi medan pertempuran (swing states).

"Kami meyakini berada dalam jalur untuk memenangkan pemilihan presiden ini," kata Biden kepada pendukungnya.

Biden diketahui unggul di Arizona yang dikenal sebagai lumbung suara Donald Trump.

Wilayah itu sempat dimenangkan Donald Trump pada 2016 sekaligus lumbung suara bagi Partai Republik.

Menurut proyeksi Fox News, Biden unggul dengan perolehan 51,4 persen suara sementara Trump dengan 47,3 persen suara.

Sebagai informasi, Arizona memiliki total sebelas suara elektoral.

Peringatan Twitter

Twitter Inc menandai cuitan Presiden Donald Trump yang menuduh ada upaya "mencurangi” pemilu berpotensi menyesatkan.

"Kami menempatkan peringatan pada Tweet dari @realDonaldTrump membuat klaim yang berpotensi menyesatkan tentang pemilu," dalam pernyataan resmi Twitter.

Dalam sebuah tweet pada Rabu dini hari, Trump menyatakan dia akan kembali memenangkan pemilihan presiden 2020 untuk masa jabatan empat tahun kedua dan menuduh Demokrat berusaha mencurangi pemilu.

Ia menyatakan itu tanpa mengutip bukti apa pun.

"Kami naik tinggi, tapi mereka berusaha mencuri (mencurangi) Pemilu. Kami tidak akan pernah membiarkan mereka melakukannya," cuit Trump. "Kemenangan besar untuk pemilihan ulang."

Kicauannya datang segera setelah kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden memberikan pernyataan yang mengatakan dia optimis akan menang.[tn]