Massa Pendukung HRS, Kekuatan atau Hanya Kerumunan?
logo

11 November 2020

Massa Pendukung HRS, Kekuatan atau Hanya Kerumunan?

Massa Pendukung HRS, Kekuatan atau Hanya Kerumunan?


Penulis: Tony Rosyid

PULUHAN, ratusan, atau mungkin jutaan massa yang jemput Habib Rizieq pulang dari Makkah. Ini fenomenal. Belum pernah ada ulama, tokoh atau pejabat Indonesia yang disambut lautan massa sebanyak itu.

Apa penyebabnya? Pertama, dari sisi Habib Rizieq. Publik melihat Habib Rizieq ini terdzalimi. Gara-gara demo 212 dan tumbangkan Ahok, tokoh yang dipanggil HRS ini dihadiahi banyak kasus. Ada 17. Bahkan dibunuh karakternya dengan chat mesum. Belakangan, kasus chat mesum di-SP3.

Di manapun, termasuk di Indonesia, masyarakat akan iba ketika melihat orang-orang yang terdzalimi. Siapapun mereka. Dan Habib Rizieq dipersepsi masyarakat sebagai tokoh yang terdzalimi. Banyak kasus yang membuat persepsi ini makin menguat.

Informasi bahwa beberapa jam menjelang pulang, ada pihak yang mencoba menggagalkan HRS pulang, justru semakin menguatkan persepsi kedzaliman itu.

Kedua, HRS konsisten dengan perjuangannya. Istiqamah melawan rezim yang dianggapnya banyak melakukan kedzaliman. Dari sinilah HRS teriak revolusi. Belakangan, jadi revolsi akhlak. Ini strategi agar tidak dipersiapkan secara hukum, atau memang ada pergeseran konseptual? Biarlah HRS yang jawab.

Ketiga, HRS dianggap tokoh yang paling berani untuk menyuarakan aspirasi masyarakat luas. Betapa pemerintah ini dianggap banyak mengecewakan rakyat. Mulai dari produk aturan, kebijakan, hingga penegakan hukum dan hancurnya ekonomi. Survei Litbang Kompas, lebih dari separo, tepatnya 52,5 persen rakyat tak puas dengan kinerja pemerintah.

Mereka yang kecewa ini menemukan HRS. Tokoh yang dianggap mampu menyuarakan kekecewaan mereka dengan lugas dan tegas. Tidak saja berharap, mereka menganggap bahwa HRS bisa menjadi lokomotif perubahan. Apakah HRS menyadari potensi ini dan mau mengoptimalkannya? Itu akan bisa dipotret pada situasi politik beberapa pekan kedepan.

Pertanyaan ini akan menjadi titik awal untuk melihat massa pendukung HRS, apakah hanya akan menjadi militansi kerumunan, atau bisa menjadi sebuah kekuatan. Semua akan sangat bergantung pada isu, konsolidasi dan gerakan sosial yang  dilakukan HRS.

Road show tabligh akbar HRS, jika isu dan narasinya datar, kemudian tidak ada langkah untuk melakukan konsolidasi dan membuat rencana gerakan sosial, maka apa yang dilakukan HRS tak ubahnya dengan ceramah Ustaz Abdussomad, Ustaz Dasad dan para penceramah lainnya. Dan ini tidak akan membuat "perubahan drastis" sebagaimana yang diimaksudkan oleh revolusi akhlak HRS.

Revolusi akhlak yang memimpikan perubahan drastis itu mesti ada langkah dan strategi yang terukur. Dan hampir bisa dipastikan revolusi akhlak ini tidak akan bisa diwujudkan hanya dengan Road show ceramah ala para muballigh. Sebab, perubahan mendasar itu paling efektif jika terjadi di struktur politik.

Di dalam struktur politik ada kekuasaan yang mampu memaksa rakyat dan bangsa ini untuk berubah. Sementara ceramah, itu sifatnya himbauan yang tidak mengikat. Suka-suka umat, mau pakai atau tidak. Mau dimasukkan hati, atau dikeluarkan lewat telinga. Namanya juga pengajian.

Jadi, massa pendukung HRS hanya akan jadi kerumunan jika tidak dikelola dengan langkah konsolidasi dan strategi yang mampu memengaruhi struktur kekuasaan untuk melakukan perubahan yang mendasar. Sampai disini, jelas bedanya mana revolusi akhlak, mana majlis talim. (*)