Kok Bisa Sogo Cs Sampai PHK Massal? Ini Jawabannya
logo

12 November 2020

Kok Bisa Sogo Cs Sampai PHK Massal? Ini Jawabannya

Kok Bisa Sogo Cs Sampai PHK Massal? Ini Jawabannya


GELORA.CO -  Baru-baru ini gerai Sogo hingga Seibu yang berada di bawah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) diterpa kabar PHK massal. Kira-kira apa alasannya ya?

Kalau menurut Bank Indonesia (BI), penjualan ritel lesu sedang lesu, tercermin di Indeks Penjualan Riil (IPR) yang negatif 8,7% pada September 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Namun jika dibandingkan Agustus 2020 yang -9,2% YoY membaik meski masih negatif.

Penjualan ritel telah mencatatkan pertumbuhan negatif selama 10 bulan beruntun, sejak Desember 2019. Selama 10 bulan tersebut, rata-rata pertumbuhan penjualan ritel adalah -9.08% per bulan.

Selama kuartal III-2020, penjualan ritel tumbuh -10,1% YoY. Membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang -18,2%, tetapi lagi-lagi masih minus.

Kabar kurang sedap belum berhenti sampai di situ. BI memperkirakan penjualan ritel pada Oktober 2020 masih tumbuh negatif, bahkan lebih parah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu -10% YoY. "Sejumlah komoditas seperti kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta barang budaya dan rekreasi diperkirakan mengalami penurunan penjualan," sebut keterangan tertulis BI yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis (12/11/2020).

Dalam tiga bulan mendatang (Desember 2020), dunia usaha memperkirakan penjualan ritel naik yang digambarkan dengan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) sebesar 157,2. Namun penjualan dalam enam bulan ke depan (Maret 2021) diperkirakan turun dengan IEP 159,4.

Data terbaru ini memberi gambaran suramnya industri ritel Tanah Air. Bukan hanya di Indonesia, situasi serupa juga terjadi di banyak negara.

Mengutip data Statista, nilai penjualan ritel di seluruh dunia pada 2020 diperkirakan US$ 23,36 triliun. Turun 5,73% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyebabnya apa lagi kalau bukan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Pandemi virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini membuat dunia berantakan.

Virus corona menyebar dengan kecepatan dan cakupan yang luar biasa. Bermula dari sebuah kota di Negeri Panda, virus ini sudah 'membobol' lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 10 November 2020 adalah 50.676.072 orang. Bertambah 427.551 orang (0,85%) dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (28 Oktober-10 November 2020), rata-rata pasien baru bertambah 514.745 orang per hari. Melonjak dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 406.421 orang per hari.

Akibatnya, dunia masih belum bisa normal. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) masih jadi andalan untuk meredam penyebaran virus corona.

Dengan pembatasan sosial, miliaran warga dunia diminta sebisa mungkin #dirumahaja. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Jangan keluar rumah kecuali untuk urusan yang maha mendesak.

Seiring perjalanan, social distancing memang dikendurkan dan dunia memasuki masa reopening, new normal, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau terserah apa sebutannya. Namun bukan berarti kembali seperti sebelum pandemi, masih ada pembatasan di sana-sini.


Misalnya di Indonesia, pusat perbelanjaan memang sudah boleh beroperasi. Akan tetapi kapasitas pengunjung dibatasi, maksimal 50%.

Well, 50% pengunjung memang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Namun itu masih belum cukup memenuhi skala ekonomi yang optimal.

Akibatnya, dunia usaha masih harus melakukan efisiensi yang salah satunya adalah PHK. Industri ritel yang sangat terpukul menjadi salah satu yang paling banyak melakukan PHK.

Mengutip kajian Organisasi Buruh Dunia (ILO), sektor perdagangan ritel dan partai besar adalah industri yang sangat rawan terkena dampak pandemi virus corona. Sektor usaha lain yang juga rentan adalah akomodasi makan-minum, real estate, dan manufaktur.

"Krisis Covid-19 mempengaruhi seluruh sektor usaha karena permintaan yang turun drastis. Pekerja di sektor ritel juga merasakan dampaknya. Banyak gerai yang terpaksa tutup karena upaya pengendalian wabah, dan konsumsi juga melambat," sebut kajian ILO.

Oleh karena itu, tidak heran tsunami PHK masih menerjang sektor perdagangan ritel. Selagi virus corona masih bergentayangan, akan sulit bagi sektor ini untuk bisa bangkit.(dtk)