Kasihan,Petani Semangka dan Blewah di Jombang Merana Gegara Hujan
logo

2 November 2020

Kasihan,Petani Semangka dan Blewah di Jombang Merana Gegara Hujan

Kasihan,Petani Semangka dan Blewah di Jombang Merana Gegara Hujan


GELORA.CO - Sejumlah petani di Jombang menghancurkan semangka dan blewah hasil panennya sendiri. Aksi para petani tersebut viral. Apa yang mendasari para petani berbuat itu?

"Sebenarnya mau meluapkan emosi karena gagal panen ke teman-teman satu desa yang sama-sama menanam blewah. Berhubung ada yang mengupload jadi viral. Niat saya tidak ingin viral," kata Heri Beki (30), petani warga Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang.kepada wartawan di lahan blewah miliknya, Minggu (1/11/2020).

Heri sendiri mempunyai 2 hektare tanaman blewah di Dusun Rejoso, Desa Rejosopinggir. Tanaman blewah tersebut gagal panen karena buahnya membusuk setelah diguyur hujan. Dia mengaku rugi hingga Rp 10 juta.


"Ceritanya tiga hari lagi saya mau panen. Malamnya hujan berjam-jam. Saya lihat buahnya busuk. Udah tak bisa dijual, ditawarkan ke mana-mana tak ada yang mau," ungkapnya.


Kepala Desa Rejosopinggir Yoyok Supriyanto menjelaskan, terdapat sekitar 100 hektare tanaman semangka dan blewah di kampungnya. Dari jumlah itu, 80-90 persen tanaman semangka dan blewah gagal panen akibat diguyur hujan.

"Hanya sedikit yang bisa dipilih untuk dibawa pulang. Kerugiannya saya kira ratusan juta. Baru kali ini gagal panen. Tahun lalu panen bagus, per 100 bata (lahan seluas 1.400 meter persegi) saat panen menghasilkan Rp 10 juta lebih," kata Yoyok.

Yoyok menjelaskan semangka dan blewah ditanam hanya satu tahun sekali di Desa Rejosopinggir. Yaitu pada musim kemarau setelah panen raya padi, tepatnya pada Agustus.


Masa tanam padi yang tahun ini mundur, kata Yoyok menjadi penyebabnya. Sehingga masa tanam semangka dan blewah ikut mundur.

Akibatnya, musim hujan datang saat buah-buahan tersebut belum dipanen dari sawah. Semangka dan blewah siap panen sebagian besar membusuk setelah diguyur hujan.

"Gagal panen karena musimnya tanam padi mundur. Sudah ada prediksi bulan-bulan begini sudah hujan. Sehingga ini risiko para petani karena cuaca tak mendukung," tandas Yoyok.(dtk)