Mengapa Jenderal AH Nasution Mencurigai Soekarno Terlibat G30S?

Mengapa Jenderal AH Nasution Mencurigai Soekarno Terlibat G30S?

Gelora News
facebook twitter whatsapp


Oleh: M Hatta Taliwang

Peristiwa Gerakan 30 September sdh 55 tahun berlalu. Tokoh tokoh yg terlibat atau dituduh terlibat mungkin semua sdh meninggal.Saat peristiwa itu terjadi saya msh kelas 5 SR (SD sekarang) di pedalaman Sumbawa.

Jenderal AH Nasution adalah seorang yg jadi salah satu target utama penculikan tetapi berhasil menyelamatkan diri tetapi anak bungsunya Adek Irma Suryani terkena tembakan penculik, juga ajudannya Lettu P Tendean ikut jadi korban.Dua duanya terbunuh.

Sejak awal 1960an konflik antara AD dg PKI sdh mulai memanas. Soekarno dg politik anti imprialismenya/neokolonialisme lbh merapat ke PKI.

Seiring mesranya hubungan Soekarno dg PKI/ Blok Timur, seiring itu pula hubungan Soekarno dg Nasution merenggang smp akhirnya Nasution disingkirkan. Menurut Nasution sblum th 1960, politik Soekarno relatif netral dan belum anti Barat.

Sepanjang tahun 1965 saling curiga antara AD dg PKI makin memuncak, smpai terjadi PERISTIWA. G 30 S yg menimbulkan korban terbunuhnya 6 Jenderal AD.

Dalam buku yg ditulis Julius Pour “G 30 S Fakta atau Rekayasa” terbitan KATA HASTA PUSTAKA, 2013, tertulis : ” Tanggal 13 Februari 1967, Jenderal Nasution secara terbuka menuduh Presiden Soekarno terlibat Peristiwa 30 September. Minimal Bung Karno telah mengetahui bahwa akan terjadi aksi penculikan terhadap tujuh Jenderal Angkatan Darat.” (Halaman 378)

Bagaimana mungkin Jen Nasution yg sejak tahun 1955 sd 1962 menjadi KSAD kepercayaan Soekarno dan bersama sama berjuang mendekritkan kembali ke UUD45, sampai pd kesimpulan demikian ?

Seandainya Nasution yg wafat 6 September 2000, membaca apa yg ditulis dlm buku Julius Pour dimana banyak fakta dan penjelasan2 baru dari berbagai sumber dan tokoh, mungkinkah Jenderal AH Nasution akan meralat kecurigaannya pada Soekarno?

Untuk lbh mendalami argumentasi Nasution baiknya kita ikuti potongan2 tulisannya dlm bukunya MEMENUHI PANGGILAN TUGAS.

Jilid 6 Terbitan CV HAJI MASAGUNG, 1986.

Mungkin argumentasinya tlah menimbulkan perdebatan tetapi biarlah itu menjadi urusan ahli sejarah.

Inilah beberapa petikan penting :

“Biar engkau dulu jenderal petak di tahun 1945 tetapi kalau sekarang memecah persatuan nasional revolusioner, kalau sekarang mengacaukan Front Nasakom, kalau sekarang memusuhi sokoguru sokoguru revolusi, engkau jadi tenaga reaksi” (Pidato Kenegaraan Bung Karno 17 Agustus 1965, hal 165).

“Saya mendengar dari Alm Muallif Nasution,yang juga sering jadi penghubung pribadi Bung Karno dg Peking, betapa pihak Cina semakin menuding saya sebagai tokoh militer yg negatif terhadap Bung Karno dan perlu diselesaikan”.(Hal 166)

Sehabis menghadap Bung Karno(tgl 29 Sep 1965), Jaksa Agung Muda Sunaryo, menemui Jendral Sabur(ajudan Bung Karno) dan meneruskan desakan dari Bung Karno agar selekasnya menindak saya dan jenderal jenderal lainnya(hal 178)…..

Sbgn Dialog Brigjen Sugandhi dg DN Aidit (27 September 1965)

Sugandhi : “Sudisman sdh bicara dg saya,tapi saya tak mau ikut PKI.Memangnya PKI mau adakan kup? Saya (AB) punya doktrin sendiri ialah Saptamarga”.

DN Aidit : ” Bung jangan bilang kup.Itu perkataan jahat.PKI akan perbaiki revolusi yg dirongrong oleh Dewan Jenderal. Dan tiga hari ini akan mulai.Bung ikut apa ndak? Ini semua Bung Karno saya sdh beritahu semuanya.”

Tanggal 30 September 1965 Sugandhi ktemu Bung Karno. Ini potongan dialognya.

Sugandhi : “Betul Pak,Dewan Jenderal itu tidak ada. Kan pak Yani sdh bicara sendiri dan menjelaskan pd Bapak bahwa Dewan Jenderal tidak ada. Dan lagi pak Yani itu kan orang yg sangat setia pada Bapak, boleh dibilang rechterhand”

Presiden : “Sudah kamu jangan banyak bicara,jangan ikut ikut.Kamu tahu dalam revolusi menurut Thomas Carlyle, seorang Bapak dapat makan anaknya sendiri.Kamu tahu?.”
( Halaman 175).

“Demikianlah maka akhirnya isu “Dewan Jenderal” menumbuhkan kesatuan niat dan rencana antara Bung Karno dan PKI.


Pembicaraan2 Bung Karno dg Jen Yani tdk mengubah keyakinan Bung Karno tentang isu itu, dan di pihak lain pembicaraan2 beliau dg Jen Syafiudin,SUdirgo, Sabur dan Sunaryo memperkuat keyakinan Presiden tentang adanya Jenderal Jenderal yg tidak loyal.

Pd tgl 29 Sep 1965 Jenderal Supardjo sendiri menghadap Presiden di Istana dan cukup lama berbicara. Dari penelitian kemudian dptlah disimpulkan bhw Supardjo lah yg menjadi tokoh utama militer dalam “operasi bersama” terhadap jenderal jenderal AD, Yani dkk dan saya. Tapi Letkol Untung lah (dari Cakrabirawa) yg ditunjuk jd Ketua Dewan Revolusi, yg adalah logis, karena titik tolak bahwa saya dan Yani dkk difitnah akan meng kup Presiden sehingga pengawal Presidenlah yg pertama tampil membela.”
(Halaman 177 sd 178)

Pada tgl 30 September malam lk pk 23.00 sekembali Presiden dari Musyawarah Besar Tehnik di Senayan beliau meninggalkan istana secara mendadak , setidak2nya tidak menurut kebiasaan . Seterusnya beliau menginap di rumah Ibu Dewi. Sementara itu DN Aidit lk pukul 22.00 dan Omar Dhani lk pk 24.00 meninggalkan rumahnya masing2 utk tidur di Halim dg alasan untuk keamanan diri”.(Hal 178 sd 179).

Hampir semua apa yg ditulis Pak Nas sbg bagian dari kecurigaannya terhadap Soekarno dijelaskan dlm buku Julius Pour yg bersumber dari Bung Karno, Aidit, Subandrio,Jen Supardjo, Kolonel Latief, Mangil, Soeharto,Omar Dhani, Untung dll.

Memang tdk mudah menyimpulkan peristiwa itu. Apalagi diduga ada pihak ketiga bahkan pihak asing yg menunggangi dg agendanya masing masing.Juga sumber2 yg dikutip Nasution tdk dpt diklarifikasi pd saat itu mengingat kuatnya cengkraman rezim militer pasca G30S. MHT290913

Source:
http://iepsh.org/mengapa-jendral-ah-nasution-mencurigai-soekarno-terlibat-g-30-s/
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita