Kesaksian Penggali Jasad Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Potongan Kain Merah hingga Kesurupan -->
logo

3 Oktober 2020

Kesaksian Penggali Jasad Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Potongan Kain Merah hingga Kesurupan

Kesaksian Penggali Jasad Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Potongan Kain Merah hingga Kesurupan

GELORA.CO - Pada tanggal 1 Oktober dini hari, Indonesia pernah diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat. Peristiwa kelam itu dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Ketujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa pembunuhan para jenderal itu dikenang dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI .

Namun beberapa hari kemudian mayat pahlawan revolusi ini pun ditemukan. Usai delapan warga sekitar yang membantu menggali sumur Lubang Buaya tempat para Jenderal Korban PKI dibuang.

Sebagaimana video yang diunggah oleh akun Kurator Museum di YouTube menampilkan wawancara kepada salah satu penggali makam yakni Yusuf pada tahun 1998.

Disitu Yusuf bercerita bahwa saat menggali Lubang Buaya dirinya masih berusia 16 tahun. Awalnya pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota Hansip diminta Lurah untuk membantu memberulkan jembatan dan tak tahu jika bakal menggali Lubang Buaya.

Dengan membawa cangkul Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi. Namun sesampainya di lokasi ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebon.

“Disitu saya lihat ada bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya dateng ama Pane,” ucap Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum.

Setelah menggali kebun bersama tujuh temannya, ditemukanlah sumur selebar 4 meter yang sebelumnya ditumpuk tanah. Kemudian mereka diperintahkan untuk tentara berbaret merah agar tetap menggali sumur itu.

Sampai akhirnya mereka menggali dan menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau. “Terus ada serombongan datang bilang persisnya di Sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.

Usaha yusuf dan bersama terus menggali sumur tersebut sampai akhirnya waktu gelap. Diantara mereka pun sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

“Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,” jelasnya.

Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi.

“Dan dari kejauhan kita melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,” tandasnya.

Para tentara akhirnya pergi dari Lubang Buaya usai berhasil menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Bahkan sekitar jam 23.30 atau stengah 12 malam salah satu kawannya menemukan penampakan jari manusia. Kemudian melaporkan tentara terkait penemuan tersebut.

Yusuf bersama tujuh temannya kemudian pada pukul stengah satu dini hari diminta berisitirahat oleh tentara. Mereka dibawa ke sebuah rumah untuk makan dan diberikan kopi.

“Makan nasi basi sambil ngobrol dikasih kopi, dikasih makan tapi nasi udah basi,” paparnya.

Hingga mereka tak tahu bahwa yang mereka galih adalah tempat pembuangan tujuh jendral oleh keganasan PKI. Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, disaat disana salah satu dari temen Yusuf kesurupan. Kawan Yusuf yang bernama Pane terus menangis.[]