Cerita Penemu Jasad Pahlawan Revolusi, Gali Sumur Maut dengan Tangan Sampai Pingsan

Cerita Penemu Jasad Pahlawan Revolusi, Gali Sumur Maut dengan Tangan Sampai Pingsan

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Hari ini 55 tahun silam, atau tepatnya 3 Oktober 1965 tujuh jasad pahlawan revolusi ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang sebelumnya ditanam pohon pisang. Ketujuhnya menajdi korban saat Gerakan 30 September tahun 1965 atau G30S/PKI.

Untuk menemukan jasad Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean, tidaklah mudah.

 Kala itu anggota ABRI (TNI) bersama masyarakat sekitar Lubang Buaya bergotong royong mencari lubang tersebut. Salah satunya yang ikut mencari dan menggalir sumur itu adalah Mahmud.

Mahmud adalah warga sekitar Lubang Buaya yang kala rumahnya didatangi oleh Lurah setempat dan seorang anggota TNI untuk menggali. Namun dia belum dijelaskan secara rinci apa yang akan digalinya itu.

Sampai lah Mahmud di sebuah tanah yang banyak kebun Pisang. Disitu diminta menggali tanah yang sudah ditanami pohon Pisang dengan alat seadanya bersama tujuh temannya.

“Kami menggali dengan tangan, tanpa pakai alat apapun hanya dengan ember dan tambang yang kami ikat,” kata Mahmud sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum, Sabtu (3/10/2020).

Pekerjaan menggali tersebut terus dilakukan oleh Mahmud dan temannya. Sekitar kedalaman 10-12 meter salah satu penggali bernama Suparyono menemukan kaki manusia yang menjungkit ke atas.

Suparyono seketika pingsan. Namun Mahmud ingat beberapa anggota ABRI menyatakan lubang yang digalinya itu untuk menemukan uang tunai di dalam sumur sebesar Rp 6 juta.

“Beberapa anggota ABRI bahwa di dalam sumur itu adalah uang sebanyak Rp 6 juta. Boleh dikatakan jaman dulu uang segitu gede banget,” tutur Mahmud.

Sekitar pukul setengah 1 dini hari penggalian sumur pun dihentikan. Mahmud pun mengakui kondisi tubuhnya kala itu sangat lelah dan letih lantaran tak ada apapun yang masuk ke dalam mulut mereka.

Mahmud melanjutkan setelah Suparman sadar dia pun kembali menanyakan apakah betul yang ada di dalam sumur tersebut adalah mayat manusia. “Dia (Suparman) mengatakan itu beneran manusia,” tegas Mahmud.

Atas jawaban tersebut Mahmud kemudian menemui anggota ABRI dan menegaskan bahwa apa yang dilihat oleh kawannya betul mayat manusia. Dari pihak ABRI pun mempercayai ucapan tersebut dan meminta Mahmud beserta temannya untuk beranjak istirahat.

Keesokan harinya Mahmud CS tak diminta ABRI untuk kembali menggali sumur. Mereka hanya diwawancarai apakah mengetahui tindakan tersebut. “Kami berhenti di dalam rumah, kami di screening dan ditanyakan mengapa saudara tidak melapor,” tandasnya.[]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita