Pengamat Sebut Pemerintahan di Ngawi Menjelma Jadi Dinasti Parpol, Benarkah?

Pengamat Sebut Pemerintahan di Ngawi Menjelma Jadi Dinasti Parpol, Benarkah?

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Pasangan Ony Anwar-Dwi Rianto Jatmiko telah mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Ngawi ke KPU. Dwi Rianto Jatmiko atau Antok yang saat ini menjabat Ketua DPC PDIP sekaligus ketua DPRD Ngawi harus rela mendapatkan posisi sebagai bakal calon Wakil Bupati mendampingi Ony Anwar sebagai bakal calon bupatinya.
Sementara Ony Anwar merupakan pendamping Bupati Ngawi Budi Sulistiono atau Kanang yang saat ini menjabat. Budi menjabat sebagai Bupati Ngawi dua periode, 2010 hingga 2020.

Ony merupakan putra dari Harsono, Bupati Ngawi dua periode 2000-2010. Saat Harsono menjabat, Wakil Bupati dijabat oleh Budi.

"Gambaran dinasti politik sebenarnya ada," ujar Pengamat Politik Gandi Yuninta saat dikonfirmasi detikcom Sabtu (5/9/2020).

Gandi menyebut bisa dikatakan dinasti politik bisa terlihat dari kekuatan partai pemenang pemilu. Kepemimpinan di Ngawi, lanjut Gandi, selama 20 tahun terakhir dijabat pemenang pilkada dari koalisi bentukan partai PDIP yang sama, bahkan terus bertambah.

"Gambaran dinasti politik sebenarnya ada pada kekuatan partai pemenang pemilu. Kalau dikaitkan dengan pak Harsono, dinasti itu yang mas Oni. Kalau kungnya (Bupati Kanang) tidak termasuk. Tetapi secara politik dinasti partai ya," kata Gandi.

Gandi menyebut bahwa saat ini kekuasaan pengelolaan pemerintahan dikuasai oleh partai berlambang banteng moncong putih sejak 20 tahun terakhir.

"Penguasaan pengelolaan pemerintahan Kabupaten Ngawi di pegang oleh PDIP (sejak Kanang menjabat Wabup nya Harsono tahun 2000)," paparnya.

Sementara itu Ketua DPC PDIP Ngawi Riyanto Dwi Jatmiko yang akrab di sapa mas Antok mengaku rela dan iklas mendapatkan rekomendasi hanya sebagai Wabup karena taat pada pimpinan partai.

"Jadi namanya penugasan sebagai kader partai, sebagai struktural partai dalam konteks kita melaksanakan tugas dari partai. Jadi apapun harus siap," ujar Antok.

Antok mengaku dirinya iklas dan rela untuk jadi Bakal Calon Wakil bupati, karena Ony Anwar dinilai sudah menjadi bagian dari PDIP. Menurut Antok, Ony sudah menunjukkan loyalitas ke PDIP dengan mendampingi Bupati Budi Sulistyono Selama 10 tahun terakhir.

"Mas Ony bukan orang lain. Mas Ony juga bagian dari PDI perjuangan, Selama ini sudah suport pada PDIP sebagai Wabup dua periode mendampingi pak Kanang 10 tahun itu, menjadi bagian yang dipertimbangkan oleh partai," kata Antok.

"Ony Menjadi kader (PDIP), ya layak jadi Bupati berikutnya setelah pak Kanang dua periode," imbuhnya.

Sementara itu Bupati Ngawi Budi Sulistyono yang saat ini menjabat Wakil ketua DPD PDI-P Jatim mengaku optimis dengan Ony-Antok yang akan meraih kemenangan sebagai calon pasangan tunggal.

"Gak menang piye wong jago tunggal (tidak menang bagaimana kan jago tunggal), optimis," ujar Kanang.

Dengan tertawa kecil Kanang juga menyinggung salah satu nama yang santer akan bersaing maju dalam pilkada, namun dia ternyata sudah kalah sebelum bertarung.

"Klitik ya, arep salat wudhu ngentut Yo batal to (mau salat wudhu kentut ya batal dong) 5 tahun lagi," celoteh Kanang sambil tertawa.

Kanang juga menyebut adanya kontrak politik yang diakuinya sudah mengakar sejak dirinya sebagai wakil bupati mendampingi Harsono (ayah Ony Anwar) 10 tahun terhitung periode 2000 hingga 2010.

"Sekarang, hubungan mengakar atau mendarah embuhlah (entahlah) semua keputusan berdasarkan survei tidak emosional (pasangan Ony - Antok). Kontrak politik sekarang pasti lah tapi jangka pendek, jangka panjang tidak, tapi dengan Golkar tidak putus. Seperti hal ini mas Antok juga sudah saya berikan arahan juga mas Ony dampingi saya 10 tahun tidak neko-neko (tidak kasus) kita sisihkan mas antok mengerti maka Ngawi butuh kondusifitas dan kenyamanan kita sodorkan ke seluruh partai dan mengamini mengerti," papar Kanang.

Kanang menceritakan perjalanan politiknya hingga bisa 20 tahun berkecimpung menjadi pimpinan pemerintahan di Ngawi. Dirinya menjadi orang nomor dua dan satu di Ngawi bermula tahun 1999 saat Ngawi masih krisis tokoh PDIP.

"Perjalanan saya waktu itu wakil bupati dua kali, bupati dua kali. Sekarang Wakil Ketua DPD PDIP bidang kehormatan. Waktu itu PDIP-Golkar koalisi pilihan langsung pertama, yang tidak PKB, PAN dan PPP. Waktu itu ke Ratih Sanggarwati (Bacabup 2005). Pak Harsono dulu Golkar, karena aturan non PNS di partai akhirnya keluar, tapi karena birokrat harus mundur dari Golkar," jelasnya.

"Saya mulai bergerak bersama PDI reformasi itu tahun 1998, bantu bapak saya. Dan saya masih kerja di INKA waktu itu. Tahun 1998 bapak saya yang termasuk di tokohkan meninggal. Kemudian seperti krisis tokoh 1998 waktu itu. Saya sebagai Wakil Komandan Satgas di Ngawi 1999 dan pemilu, saya dicalonkan masuk DPR-RI. Karena masih junior, saya belum siap. Hingga saya berkecimpung politik meski di BUMN, tahun 2000 terpilih di partai di DPR, maka saya terpilih dilantik untuk dampingi pak Harsono jadi Wabup," imbuhnya.

Saat ditanya apakah kelak putranya juga akan dijagokan dalam pilkada berikutnya, Kanang mengaku belum tahu. "Anu (gimana ya) aku embuh (ndak tahu) yang jelas (anaknya) masih tertarik dengan profesinya (dokter gigi)," tandas Kanang.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita