Menag Fachrul Mengaku Menangis Melihat Orang Bunuh-bunuhan sambil Bertakbir

Menag Fachrul Mengaku Menangis Melihat Orang Bunuh-bunuhan sambil Bertakbir

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Menteri Agama Fachrul Razi tampak tidak terima keislamannya diragukan oleh anggota DPR Ali Taher Parasong atas pernyataannya mengenai radikalisme.

Fachrul Razi juga tak terima pernyataannya mengenai radikalisme di acara webinar bertajuk "Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara" yang tayang di akun Youtube Kementerian PAN-RB, Rabu (2/9) lalu, dilebih-lebihkan.

"Yang saya enggak sebut, tidak usah disebut-sebutlah. Kalau menteri agama menganggap semua penceramah itu orang yang radikal, enggak pernah saya mengatakan begitu," tegas Fachrul Razi di Komisi VIII DPR, Senayan, Selasa (8/9).

Menteri yang lahir dari keluarga perantau Minangkabau yang berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini bercerita bagaimana dirinya sudah berjuang dan berdakwah untuk Islam sejak masih Taruna Militer.  

Mantan Wakil Panglima TNI ini mengakui bahwa dalam webinar itu dirinya memang mengingatkan akan bahaya paham radikal.

Dia juga memahami tindakan semacam itu dilatarbelakangi banyak faktor, termasuk masalah ketidakadilan.

Namun dia menyayangkan pernyataannya yang diangkat ke media justru terkait yang lainnya.

"Saya bilang radikalisme ini harus hati-hati kita. Juga ini disebabkan ketidakadilan dan sebagainya. Tetapi kan yang diangkat orang bukan itu, (bukan) yang kata-kata ini. Jadi kembali, enggak ada niat kita (Menag, red). Niat kita (Menag, red) samalah tentang Islam. Kalau orang ngomong kepentingan Islam luar biasa," tutur Fachrul Razi.

Menteri yang juga ketua umum Ormas Bravo Lima ini tidak ingin apa yang terjadi dan pernah disaksikannya sendiri di Timur Tengah, terjadi di Indonesia.

"Saya melihat orang, mohon maaf saja, waktu jadi (pasukan) perdamaian di Timur Tengah. Menangis saya, lihat orang berkelahi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, bunuh-bunuhan, Allahu Akbar dengan penuh kebencian. Kita (menag, red) lihat lah itu. Kita (menag) harapkan jangan ada muncul di Indonesia ini. Untuk itu kita coba tata baik-baik, sama-sama-sama," pungkasnya. (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita