Fahri Hamzah: Problem Masa Kini Adalah Feodalisme Liar Di Kantong Kekuasaan -->
logo

19 Agustus 2020

Fahri Hamzah: Problem Masa Kini Adalah Feodalisme Liar Di Kantong Kekuasaan

Fahri Hamzah: Problem Masa Kini Adalah Feodalisme Liar Di Kantong Kekuasaan

GELORA.CO - Rumah NKRI saat ini tengah diguncang prahara baik dari segi politik, ekonomi, bahkan kesehatan. Banyak bermunculan tokoh-tokoh bangsa yang ingin melakukan perubahan bangsa lantaran gerah dengan kondisi saat ini.

Waketum Partai Gelora Fahri Hamzah menyimpulkan adanya guncangan dahsyat di rumah Indonesia ini disebabkan adanya problem masa kini yang berkembang biak hingga merusak seluruh tatanan berbangsa.

“Problem kita di masa kini adalah feodalisme yang masih liar khususnya di kantong-kantong kekuasaan. Saya kira ini saya sebut sebagai kita melupakan nasihat Bung Hatta, kalau yang pertama kita melupakan nasihat Bung Karno, yang kedua ini Bung Hatta,” kata Fahri di acara ILC, Rabu (19/8).

Mantan politisi PKS ini menerangkan, bahwa serangan feodalisme di pemerintahan dahulu hingga saat ini sangat dahsyat mengguncang seluruh persendian bangsa Indonesia.

“Feodalisme itu dahsyat, makanya kalau kita mau menyelamatkan ini kepada saya pengkritik semua pemerintah, saya mengkritik Pak SBY dua periode mengkritik Pak Jokowi juga. Tapi kalau kita tahu, apa sih penyakitnya itu? Memang feodalisme di negara kita dahsyat sekali,” ucapnya.

Mantan pimpinan DPR RI yang mendapatkan bintang tanda jasa dari Presiden Joko Widodo ini menyampaikan, dalam budaya feodalisme seseorang yang memiliki kekuasaan akan menggerogoti seluruh elemen bangsa.

“Kalau orang udah punya banyak uang, punya banyak kekuasaan itu yang menggerogoti di sekitarnya itu membuatnya tidak rasional. Dari dulu kan kekuasaan itu mencoba membangun mitos kebesarannya. Makanya dia pakai mahkota baju kebesaran, kegagahan yang luar biasa, supaya orang takut, supaya orang menjaga jarak dan itu masih terjadi,” tegasnya.

Fahri juga menyinggung perihal gaya berbusana Jokowi yang dianggap merakyat. Namun, dia tidak meminta Jokowi untuk melepas citranya tersebut.

“Saya tidak mau menilai, misalnya Pak Jokowi, mau mencopot ornamen (style berbusana) itu, karena dan dua kali ini tarungnya itu dengan Pak Prabowo yang sekarang sudah ada dalam pemerintahan,” imbuhnya.

Menurutnya, gaya merakyat Jokowi belum tentu dapat menyiratkan bahwa feodalisme di pemerintahan telah ditanggalkan.

Dia justru melihat masih banyak kaum feodalisme di lingkaran Jokowi hingga membuat kepala negara itu tidak rasional dalam mengambil kebijakan.

Dia coba copot itu bintang-bintang, dia coba pakai baju putih, dia pakai celana jeans, dia pakai sepatu sneakers, dia coba bikin sederhana itu penampilan. Tapi, apakah feodalisme hilang? Tidak. Feodalisme tidak hilang. Mereka masih ada di sana, dan itu yang membuat Jokowi tidak wajar dan  itu yang membuat kekuasaan berjarak dengan kaum intelektual. Orang-orang bekerja untuk menyapu pikiran-pikirnan yang berbeda, karena feodalisme di sekitar itu,” tegasnya menyudahi(rmol)