Voxpol Center Research: Jokowi Akui Gagal Pimpin Negara!
logo

1 Juli 2020

Voxpol Center Research: Jokowi Akui Gagal Pimpin Negara!

Voxpol Center Research: Jokowi Akui Gagal Pimpin Negara!

GELORA.CO - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para menteri hanya degelan politik untuk mencari ‘kambing hitam’.

Pangi yang juga merupakan Analis Politik itu juga menganggap Jokowi tengah menutupi kelemahannya sebagai presiden dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Bagaimana mungkin kita bisa mahfum bahwa kegagalan pemerintahan tertumpu pada kelemahan pembantu presiden? bagaimana ceritanya kalau presidennya tak punya strong leadership yang berkelas, apakah masih bisa mengerakkan gerigi rotari? memberikan pengaruh dan energi positif bagi menterinya dan menjadi kekuatan/semangat bagi para menteri?” katanya seperti melansir indonesiainside.id, Selasa 30 Juni kemarin.

Kata dia, presiden dan menteri adalah satu kesatuan yang menjalankan pemerintahan secara bersama atau kolektif kolegial.

Oleh karenanya dia menegaskan, Jokowi tidak bisa menyalahkan menteri saja, karena kegagalan para pembantu presiden itu berarti kegagalannya juga.

“Yang dipertontonkan di ruang publik ibarat ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri’. Ini adalah dagelan politik yang sedikit agak memalukan, pada saat yang sama sebetulnya presiden mengkonfirmasi/membuat pengakuan atas kegagalannya dalam memerintah/memimpin lewat kinerja menterinya yang inkompeten,” ucapnya.

Dia menambahkan, kemarahan pejabat seperti Presiden di ruang publik seringkali dijadikan sebagai alat politik.

Kata dia, itu adalah kesempatan bagi Jokowi untuk terus memposisikan dirinya terlihat ‘cuci tangan bersih’.

Disisi lain sambung dia, pihak yang paling layak disalahkan atas ketidakmampuannya dalam menjalankan roda pemerintahan adalah para menteri yang tidak becus bekerja, bukan dirinya sebagai presiden.

Dia menduga, upaya Jokowi memarahi para menteri bagian dari strategi mengeser perhatian publik.

Pasalnya menurut dia, publik awalnya terfokus pada kinerja pemerintah yang buruk tertuju/fokus pada kelemahan strong leadership seorang presiden.

Setelah dia pidato, kini kelemahan serta kegagalan pemerintahan mulai bergeser ke pembantu presiden, akibat ulah menterinya yang amburadul.

"Ini bagian dari lagu lama, kaset usang, sebagai presiden dengan kinerja buruk dan berupaya menempatkan diri sebagai ‘pahlawan’ yang memperjuangkan demi kepentingan 267 juta rakyat Indonesia, dengan memarahi dan membentak-bentak menterinya di panggung depan,” tegasnya.[ljc]