Rizal Ramli Buka-bukaan Soal Ancaman Resesi -->
logo

23 Juli 2020

Rizal Ramli Buka-bukaan Soal Ancaman Resesi

Rizal Ramli Buka-bukaan Soal Ancaman Resesi

GELORA.CO -Virus Corona memberikan dampak yang besar pada perekonomian global. Adanya virus ini membuat banyak negara ekonominya menjadi negatif hingga resesi.
Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan, negara yang ekonomi ditopang oleh ekspor akan mendapat dampak lebih besar karena Corona ini. Hal itu sebagaimana terjadi pada Singapura.

"Memang akibat krisis kebanyakan pertumbuhan ekonomi negatif. Singapura negatif banyak sekali, Thailand negatifnya banyak sekali. Tapi jangan lupa satu ekonomi yang ekspornya sangat besar, lebih besar dari GDP seperti Singapura dan beberapa negara lain dia akan kena dampak resesi global yang lebih besar," katanya dalam Ngopi Bareng RR, Kamis (23/7/2020).

Dia mengatakan, Singapura lebih terdampak dari Indonesia. Berbeda dengan Singapura, ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi.

"Singapura akan lebih rontok dari Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia 60% dari outputnya GDP-nya konsumsi dalam negeri, ekspor itu kurang 20% dampak global resesi dunia itu lebih kecil daripada Indonesia, itu satu hal," katanya.

Sejalan dengan itu, mantan menteri koordinator bidang kemaritiman ini juga bicara mengenai penanganan Corona. Menurutnya, lebih baik ialah lockdown daripada pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Nah pilihannya adalah kita ragu-ragu terus PSBB, nggak lagi, diperpanjang lagi. Lebih bagus total lockdown 2 minggu sampai 1 bulan, selama 1 bulan rakyat kita kasih makan yang miskin ya pekerja harian. Setelah itu masalah kita cepet selesai," katanya.

Dia mengatakan, secara finansial PSBB memang lebih sedikit. Namun, dampak ekonomi ke belakangnya akan jauh lebih besar.

"Daripada ragu-ragu terus maju mundur itu udah 6 bulan lebih, nanti akan berlanjut lagi. Indonesia ternyata belum mencapai puncaknya. Memang biaya finansial mungkin lebih sedikit tapi dampak economic cost-nya jauh lebih besar dengan cara mencla-mencle ini," lanjutnya.

Dia menuturkan, lockdown memang membutuhkan biaya besar. Meski begitu, dampak ekonomi akan lebih kecil.

"Mungkin kalau lockdown biayanya besar tapi hanya buat 1 bulan tapi setelah itu dampak ekonominya kecil," tutupnya.(dtk)