Demonstrasi Besar-besaran Di AS Akibat Kasus George Floyd, Jurnalis Senior VOA: 400 Tahun Kulit Hitam Memikul Kebrutalan
logo

6 Juni 2020

Demonstrasi Besar-besaran Di AS Akibat Kasus George Floyd, Jurnalis Senior VOA: 400 Tahun Kulit Hitam Memikul Kebrutalan

Demonstrasi Besar-besaran Di AS Akibat Kasus George Floyd, Jurnalis Senior VOA: 400 Tahun Kulit Hitam Memikul Kebrutalan

GELORA.CO - Aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi diratusan kota di Amerika Serikat (AS) berujung kepada memuncaknya isu rasial kulit hitam dan kaum minoritas.

Bagaimana tidak, selain di AS, aksi demonstrasi juga dilakukan disejumlah negara seperti Inggris dan Jerman.

Pemicunya adalah perlakuan tidak mengenakan yang kembali menimpa warga kulit hitam AS di Minneapolis bernama George Floyd.

Hal itu diketahui melalui sebuah video viral di media sosial, yang memperlihatkan aksi penindasan aparat Kepolisian Minneapolis terhadap Floyd, yang berujung kematian.

Gelombang besar demonstrasi dan sebab-sebanya tersebut turut diamati oleh Jurnalis Senior VOA, Nadia Madjid.

Dia menuturkan, protes besar masyarakat AS atas kasus Floyd menjadi titik balik mencuatnya isu rasial yang telah berlangsung lama, dan juga tidak bisa diketengahkan atau diselesaikan oleh pemerintahan negri Paman Sam tersebut.

"Sepertinya wacana itu (kasus Floyd) sudah berkembang menjadi lebih luas lagi yaitu tentang ketegangan antar ras, dan juga bagaiamana pemerintah federal ini atau presiden kurang mahir menangani kasus-kasus ini," ujar Nadia Madjid dalam diskusi virtual Populi Centre bertajuk 'Trump dan Perkara Rasial yang Timbul-Tenggelam', Sabtu (6/6).

Nadia menjelaskan, kasus Floyd yang akhirnya berkembang menjadi isu rasial di AS itu dapat dilihat dari satu kejadian di depan Gedung Putih, Washington DC.

"Sebagai gambaran, di depan Gedung Putih itu ada jalan 16 namanya (16 street), dan disitu oleh walikota Washington DC ditulis besar-besar, 'black lives matter'. Itu kalau dari atas kelihatan banget," ucap Nadia Madjid.

"Dan ini menunjukkan begitu tegangnya antara pemerintah kota Washington DC yang punya status khusus itu dengan orang yang tinggal di gedung putih itu, atau pemerintah federal," sambungnya.

Selain itu, lulusan S1 Sastra Inggris Universitas Indonesia ini juga menemukan informasi terkait ketidakadilan yang dirasakan warga kulit hitam AS oleh pemerintah, dan telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Kemarin Pendeta Al Sharpton menyampaikan dalam acara memorial George Floyd, bahwa sudah 400 tahun mereka memikul beban ini, dan juga kebrutalan ini," tutur Nadia Madjid.

"Sehingga ini sepertinya sudah sampai puncaknya, sudah tidak bisa tahan lagi dan muncullah (aksi demonstrasi besar-besaran)," tambahnya. (Rmol)