Sri Mulyani Blak-blakan Keuangan RI Defisit Rp500 Triliun, Australia Telepon Tawari Utang -->
logo

16 Mei 2020

Sri Mulyani Blak-blakan Keuangan RI Defisit Rp500 Triliun, Australia Telepon Tawari Utang

Sri Mulyani Blak-blakan Keuangan RI Defisit Rp500 Triliun, Australia Telepon Tawari Utang

GELORA.CO - Menteri Keuangan, Sri Mulyani blak-blakan sebut kondisi keuangan Indonesia saat ini.

Sri Mulyani menyebut Indonesia mengalami defisit hingga Rp 500 Triliun. 

Menteri keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kondisi keuangan negara terkait pembiayaan di masa pandemi Virus Corona, Kamis (14/5/2020).

Menurut Sri Mulyani, Pemerintah telah mengantisipasi peningkatan defisit negara akibat adanya wabah covid-19 yang melanda Indonesia.

Selain melalui efisiensi anggaran yang dimiliki, Pemerintah juga telah melakukan pinjaman pada beberapa negara lain dan sejumlah lembaga multilateral.

Bahkan negara seperti Australia, sempat menghubungi Menteri Keuangan tersebut untuk ditawari bantuan berupa pinjaman atau utang.

Dilansir KOMPASTV, Kamis (14/5/2020), Sri Mulyani menuturkan bahwa untuk membiayai belanja di masa pandemi, negara telah melaksanakan beberapa strategi keuangan.

Strategi ini untuk menanggulangi defisit belanja negara yang kini mencapai 5 persen, setelah sebelumnya hanya sebesar 1,76 persen.

Menurut Sri Mulyani, kekurangan defisit hingga 5 persen ini, bila dirupiahkan bisa mencapai jumlah lebih dari Rp 500 triliun.

Besaran ini digunakan untuk menanggulangi dampak dari pandemi seperti peningkatan kesehatan dan pemberian bantuan sosial.


"Begitu kita antisipasi bahwa defisitnya meningkat karena tadi kebutuhan belanja naik dan penerimaan kita turun, kita pembiayaannya kemudian mencari," ujar Sri Mulyani.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Pemerintah utamanya mengambil biaya dari semua dana yang masih dimiliki Pemerintah sendiri.

Asal pembiayaan tersebut antara lain dari sisa anggaran lebih negara yang ada di Bank Indonesia, dan juga menggunakan dana-dana abadi.

"Dana abadi itu kalau dipakai bukan berarti ilang, kita pakai pinjem, untuk dia membiayai deviden, dia membeli surat berharga negara," terang Sri Mulyani.

Selain menggunakan dana dari kantong sendiri, Pemerintah juga mengambil dana dari sumber lain, seperti misalnya pinjaman.


"Kemudian kita juga menggunakan dana-dana yang ada dalam resource yang ada," tutur Sri Mulyani.

"Kita kemudian ada pinjeman yang berasal dari bilateral, Australia kemarin telepon 'Kamu perlu nggak saya pinjemin tambahan', Jepang, Perancis."

"Mereka semuanya dalam posisi untuk kemudian kita menggunakan dari lembaga multilateral," imbuhnya.

Pandemi yang telah melanda hampir seluruh negara di dunia ini, membuat semua pihak untuk berusaha saling membantu agar wabah Covdi-19 ini bisa segera selesai.

"Semuanya mereka ingin membantu, dalam situasi seperti ini lembaga-lembaga ini mandatnya adalah ingin membantu negara anggota," kata Sri Mulyani.

"Indonesia termasuk negara anggota di situ, jadi mereka akan menambahkan, jadi kita sudah menambahkan sekarang jumlah yang bisa kita tarik dari lembaga-lembaga tersebut," tandasnya. (*)