Ketua ProDEM: <i>New Normal</i> Sama dengan <i>New Leader, Let’s Make It Happen!</i>

Ketua ProDEM: New Normal Sama dengan New Leader, Let’s Make It Happen!

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Wacana new normal mulai didengungkan pemerintah pusat dinilai oleh mayoritas publik belum tepat. Ini lantaran kurva sebaran virus corona di Indonesia yang masih konsisten merangkak dan belum melandai.

Artinya, syarat untuk menuju kehidupan normal baru belum memungkinkan dilakukan. Jika memaksakan kehendak, maka bukan tidak mungkin hal itu justru akan memperburuk suasana.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule bahkan menyebut bahwa langkah itu terlalu mengada-ada. Hal ini lantaran pemerintah hanya meniru hasil kebijakan WHO Eropa dan tidak terlebih dahulu mengikuti persyaratan yang harus dipenuhi.

Ketua DPP Partai Gerindra itu lantas menjabarkan panduan yang diurai Direktur Regional WHO Dr Hans Henri P. Kluge untuk menerapkan “new normal“.

Di antaranya, ada bukti transmisi Covid-19 telah dikendalikan dan memastikan kesehatan masyarakat dan kapasitas sistem kesehatan mampu mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak dan mengkarantina.

Kemudian, mengurangi risiko wabah dengan pengaturan ketat terhadap tempat yang memiliki kerentanan tinggi, terutama di rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental, dan pemukiman padat.

Selanjutnya, harus bisa memastikan pencegahan di tempat kerja ditetapkan, seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, etiket penerapan pernapasan.

Terakhir, harus bisa memastikan risiko penyebaran imported case dapat dikendalikan, dan masyarakat ikut berperan dan terlibat dalam transisi.

“Katanya kita belum sampai pada puncak, dan angka kasus Covid-19 masih meningkat. Tapi, Indonesia sudah mau keeropa-eropaan terapkan "new normal”,” sindirnya.

Atas dasar itu, ProDEM tegas mengambil sikap. Jika sebagian pihak menghendaki jajaran pembantu Presiden Joko Widodo dirombak dalam menghadapi kondisi new normal, maka ProDEM menginginkan agar Jokowi yang dirombak.

Sikap itu didasari bahwa kesalahan apapun yang dilakukan jajaran menteri tidak lepas dari instruksi salah dari presiden. Apalagi, Jokowi sudah menekankan tidak ada visi misi menteri, yang ada visi dan misinya.

“Jadi bagi ProDEM, new normal sama dengan new leader, sama dengan new president. So, let’s fight, make it happen!” tegas Iwan Sumule.

“Sebab ikan busuk itu dari kepala, bukan badan atau ekor,” tutupnya. (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita