Haris Azhar: Pemerintah Bertindak Sebagai ‘Orang Lain’ bagi Rakyat
logo

28 Mei 2020

Haris Azhar: Pemerintah Bertindak Sebagai ‘Orang Lain’ bagi Rakyat

Haris Azhar: Pemerintah Bertindak Sebagai ‘Orang Lain’ bagi Rakyat

GELORA.CO - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Haris Azhar, menilai pemerintah menempatkan diri sebagai “orang lain” bagi masyarakat. Bahkan, pemerintah melihat masyarakat sebagai ancaman.

Dia mencontohkan kriminalisasi yang diterima oleh aktivis yang berani mengeritik pemerintah. Kritik disikapi secara represif. Negara bahkan tidak punya grand design dalam menangani pandemi coronavirus disease 2019 (2020).

Pemerintah tak punya grand design bisa dilihat dari kebijakan setiap institusi pemerintahan yang tidak konsisten, koordinasi yang buruk antarlembaga semakin memperparah situasi karena Indonesia harus melewati pandemi tanpa kepemimpinan yang kredibel.

“Pemerintahan hari ini itu seperti entitas lain yang tidak menjadi tidak bagian dari kita semua,” kata Haris Azhar dalam diskusi daring yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (27/5).

Haris Azhar mengibaratkan negara seperti kehidupan dalam rumah tangga. Idealnya, semua anggota keluarga saling bahu-membahu mencari solusi yang terjadi. Contoh kecilnya, ayah bakal memperbaiki genteng yang bocor, ibu menyiapkam makanan, hingga anak-anak mempertajam intelektualitas untuk keperluan strategi dan lain-lain.

“Negara itu seperti bukan bagian dari kehidupan rumah tangga, kalau kita mengambil persepsi kehidupan rumah tangga. Negara itu seperti petugas keamanan RW di lingkungan tersebut yang tidak mandi selama 7 hari, yang kehadirannya tidak inginkan. Kehadirannya tidak diinginkan, bau, masuk ke dalam rumah dan marah-marahin kita,” kata Haris Azhar.

Pemerintah Gagal Jadi ‘Ayah’ untuk Rakyat

Masalah lain adalah pemerintah tidak berperan sebagai ayah dalam kehidupan bernegara. Pemerintah Lebih mengutamakan kepentingan segelintir elit di tengah pandemi ketimbang mengurus rakyat.

“Negara ini tidak akan bisa menangani situasi ini, dan akhirnya nanti kita dapat banyak novel. Cerita dari satu subjek dalam satu situasi,” ucap Haris Azhar.

Di sisi lain, pengambil kebijakan di tingkat bawah juga memanfaatkan situasi pandemi untuk keuntungan pribadi. Haris Azhar mengaku mendapat laporan dari salah satu warga yang dipaksakan membeli APD hanya karena memeriksa kesehatan di sebuah rumah sakit.

Begitu juga buruh di Halmahera, Maluku Utara. Di daerah tersebut buruh dipaksa bekerja saat hari lebaran dan bekerja di tengah pandemi Covid-19.

“Jadi ada kesematan dalam kesempitan yang dinikmati dalam situasi ini. Ini siapa yang mau mengawasi?” Ucap Haris Azhar. (*)