Pernyataan Lengkap Pemerintah soal Corona: 790 Positif, 58 Meninggal

Pernyataan Lengkap Pemerintah soal Corona: 790 Positif, 58 Meninggal

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Pemerintah kembali memperbarui data kasus virus Corona di Indonesia. Saat ini tercatat 790 orang positif COVID-19 dengan jumlah korban meninggal 58 orang. Berikut ini keterangan lengkap pemerintah RI.
"Total report kita untuk saat ini jumlah kasus positif adalah 790, kemudian jumlah kasus yang sudah sembuh dan dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, lepas perawatan ada 31 orang. Kemudian kasus meninggal ada 58 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, yang disiarkan langsung pada kanal YouTube BNPB, Rabu (25/3/2020).

Yurianto juga kembali mengingatkan agar masyarakat aktif menjaga jarak, baik di luar maupun di dalam rumah. Dia juga mencontohkan cara Vietnam yang sukses menangani virus tersebut.

"Di Vietnam adalah mengedepankan bagaimana physical distancing, menjaga diri, menjaga jarak, dan kemudian self isolation. Ini menjadi kekuatan besar yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dia bisa menghentikan penularan ini," ucapannya.

Achmad Yurianto, 25 Maret 2020

Pada kesempatan yang baik saya akan menyampaikan kembali beberapa kebijakan strategis yang harus kita laksanakan dan harus kita patuhi bersama-sama, karena kita sadari bahwa upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini pasti akan berbasis pada komunitas sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita berperan di dalam kaitan dengan upaya untuk mencegah dan upaya untuk mengendalikan penyebaran COVID19 ini. Inilah yang sekali lagi ingin kami sampaikan supaya kita memahami bersama bahwa penyakit menular ini khususnya COVID19, basisnya adalah masyarakat.

Kami sangat berharap bahwa masyarakat bisa menjadi subjek dan objek dari upaya pencegahan penyakit ini, ini tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu sektor secara sendiri, tidak mungkin dikerjakan oleh beberapa sektor tanpa terkoordinasi dan terintegrasi dan tanpa ada upaya yang kolaboratif di dalam penyelesaiannya. Oleh karena itu saya akan sampaikan berturut-turut 5 tahapan yang harus kita laksanakan dalam rangka untuk mencegah dan mengendalikan sebaran COVID19.

Yang pertama adalah harus dilaksanakan pembatas jarak fisik, kontak fisik dalam komunikasi sehari-hari, bukan hanya di luar rumah tetapi di dalam rumah pun ini harus kita laksanakan. Mengapa ini penting karena kita dari sekarang penyakit ini adalah penyakit menular yang menular dari seseorang yang sakit kepada seseorang yang sehat melalui percikan ludah yang kecil-kecil yang kita sebut droplet pada saat yang sakit sedang bersin maupun pada saat yang sakit sedang berbicara, percikan langsung yang mengenai saluran napas orang sehat inilah yang sangat sangat memungkinkan untuk memunculkan penyakit. Ini menjadi sangat penting untuk kita karena pada kondisi saat ini gambaran fisik dari orang yang sakit tidak selalu didominasi oleh orang yang nampak sakit berat orang yang nampak kelihatan sakit, tetapi banyak sekali kasus positif mengandung virus ini justru pada orang-orang yang terlihat sakit ringan, tidak terlihat sakit berat bahkan di beberapa data yang kita miliki nampak tidak bergejala sama sekali, sehingga seakan-akan dirinya merasa tidak sakit. Ini penting mengapa kita harus menjaga jarak, baik di rumah maupun berada di luar rumah, setidak-tidaknya kita harus memiliki cara lebih dari 1,5 meter, ini menjadi kunci.

Kemudian yang kedua bisa saja percikan itu tidak mengenai kita secara langsung. Bisa saja troubled itu tidak mengenai kita secara langsung tapi mengenai barang-barang di sekitar kita, tanpa kita sadari tersentuh oleh tangan dan tanpa kita memperhatikan kebiasaan kita untuk mencuci tangan kita langsung makan, menyentuh hidung, menyentuh mata, maka sangat mungkin penularan ini akan terjadi. Oleh karena itu upaya untuk menjaga jarak fisik pada saat berkomunikasi dengan siapapun, ini menjadi kunci yang mendasari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit COVID19.

Kami mengerti betul bahwa ini bisa dilakukan oleh siapapun. Mestinya ini bukan pekerjaan yang sulit, oleh karena itu kami sangat berharap peran serta masyarakat untuk bukan hanya melaksanakan kebiasaan menjaga jarak tapi juga selalu mengingatkan orang lain untuk menjaga jarak. Ini menjadi kekuatan yang mendasari semua upaya dari pencegahan dan pengendalian penyakit COVID19. Ini yang harus menjadi komitmen bersama kita, kalau tidak maka akan sulit untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu, bukan hanya di rumah, tetapi juga menjaga jarak adalah sesuatu yang penting.

Inilah sebabnya kenapa pemerintah mengkampanyekan bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah semata-mata adalah dalam rangka untuk mengurangi kemungkinan tertular oleh penderita lain yang positif. Ini hendaknya menjadi basis di dalam rangka mengendalikan penyakit ini, kalau ini tidak dilaksanakan dengan baik maka kita akan sulit untuk mengendalikan ini secara lebih baik lagi.

Kemudian yang kedua, kami berharap bahwa masyarakat memahami betul tentang penyakit ini. Sehingga kemudian tidak perlu ada kepanikan. Manakala kemudian dirinya merasa tidak enak badan, dan dengan gejala-gejala yang mirip influenza maka kita berharap bahwa mereka harus segera mengakses layanan kesehatan untuk berkonsultasi. Sudah barang tentu gunakan masker agar pada saat batuk, pada saat bersin tidak menyebarkan dropletnya kemana-mana, konsulkan dengan tugas kesehatan yang terdekat mulai dari Puskesmas, rumah sakit dan seterusnya, nanti tenaga kesehatan yang akan membantu untuk melakukan pemeriksaan secara lebih detil bahkan kemudian menentukan pemeriksaan perbatasan lanjut yang perlu dilakukan. Bisa saja ini disebabkan oleh COVID19 19 tapi bisa juga bukan COVID19 Oleh karena itu tidak perlu menebak-nebak sendiri bahwa dirinya telah sakit COVID19, sebaiknya berkonsultasilah karena dengan cara demikian maka kita akan bisa mendapatkan informasi yang benar, informasi yang tepat dan kemudian kita bisa mengambil langkah yang benar dan tepat pula tanpa ada kepanikan

Berikutnya apabila kemudian kita sudah mampu melaksanakan ini maka ada upaya yang kemudian disebut dengan karantina diri. Ini penting manakala kita mengalami keluhan gejala seperti influenza maka yang harus dilakukan pertama kali adalah yakinlah bahwa kita tidak akan menyebarkan penyakit ini ke orang lain. Oleh karena itu gunakan masker, tinggal di rumah dan jaga jarak dengan anggota keluarga yang lain, jaga kebersihan bisa saja kita batuk, bersin mengenai barang-barang yang ada di rumah kemudian tidak sengaja disentuh oleh orang lain dan orang lain itu akan menjadi terinfeksi gara-gara kita. Ini menjadi penting karena kita tahu bahwa khusus COVID19 apabila menyerang kelompok muda, yang kondisi fisiknya bagus, status imunologinya bagus maka mungkin hanya akan memberikan gejala yang kecil, gejala yang ringan, bahkan mungkin tidak memberikan gejala apapun. Tetapi ingat bahwa dia membawa virus, apabila kemudian tidak melakukan isolasi diri dengan baik bisa saja saudara kita, orang tua kita, yang daya tahan tubuhnya lemah, yang sejak awal sudah banyak menderita penyakit-penyakit kronis, semisal diabetes, hipertensi, penyakit paru menahun, gagal ginjal menahun, manakala tertular maka beliau atau orang-orang inilah yang menjadi kelompok yang sangat sangat rentan.

Beberapa kasus yang kita pelajari kelompok orang tua yang kemudian menjadi sakit berat karena ada faktor komorbid, ada penyakit yang mendahuluinya kemudian meninggal, begitu kita cek riwayatnya tidak pernah kemana-mana tapi dia punya anak, dia punya saudara yang masih muda yang kemana-mana, sehingga ini yang menjadi permasalahan. Mari kita saling menjaga agar kemudian kita yang muda yang kuat perlu melaksanakan kegiatan yang kita batasi agar tidak menjadi pembawa penyakit di lingkungan keluarga kita. Bagi yang muda yang status imunologinya bagus mungkin tidak menimbulkan permasalahan apapun, tetapi bagi saudara-saudara kita yang tua dan memiliki beberapa permasalahan dengan kesehatannya ini akan bisa berdampak fatal. Oleh karena itu, mari berperan dengan cara yang baik

Tahapan berikutnya Saya ulangi lagi di dalam karantina diri ini kita dibantu untuk bisa melakukan monitoring diri, karena banyak sekali aplikasi online yang disiapkan untuk memberikan jawaban manakala kita kita membutuhkan informasi terkait dengan COVID19. Ada call center 119 extension 9, ada beberapa situs online yang terkait dengan COVID19 diantaranya adalah sehatpedia, kemudian juga alodok, kemudian juga go-jek dan sebagainya, silakan dimanfaatkan karena ini pasti akan mendapat panduan-panduan yang benar, jangan menggunakan panduan yang salah yang tidak bisa di pertanggungjawabkan kebenarannya.

Yang berikutnya di laksanakan kegiatan screening massal, screening massal itu adalah pemeriksaan massal untuk melakukan penyaringan, penapisan. Oleh karena itu, screening massal dengan menggunakan pemeriksaan rapid test tidak diarahkan untuk menegakkan diagnosa, karena tes yang kita gunakan adalah rapid test yang berbasis pada respon imunologi dari seseorang. Kita tahu kalau virus masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh secara otomatis akan membentuk antibodi, inilah yang kemudian akan kita ukur dan inilah yang kemudian akan dideteksi oleh alat. Sehingga manakala di dalam pembacaan alat itu dari rapid test dikatakan positif, maka kita bisa memastikan bahwa tubuh orang itu pernah diinfeksi oleh virus atau sedang diinfeksi oleh virus, karena sistem kekebalannya antibodinya ada. Tapi manakala hasil pembacaan rapid test ini negatif, tidak ada jaminan bahwa dia tidak terinfeksi virus. Bisa saja dia sudah terinfeksi tetapi antibodinya belum terbentuk, kita paham bahwa pembentukan antibodi itu butuh waktu kurang lebih sampai dengan 6 atau 7 hari, sehingga kalau infeksi itu belum 6 atau 7 hari dan kita lakukan pemeriksaan hasilnya akan negatif.

Maka yang kita lakukan manakala hasilnya negatif meskipun tanpa keluhan, kita menyarankan untuk jaga jarak. Kalau kemudian ada keluhan maka kita akan menyarankan untuk karantina diri, sambil kita tunggu setelah 7 hari berikutnya kita lakukan tes lagi, manakala di dalam tasnya ditemukan positif makanya adalah guidance, tuntunan bagi kita untuk melakukan pemeriksaan antigen dengan menggunakan metode yang sudah kita ketahui yaitu Real Time PCR. Ini yang kemudian dipakai dasar di dalam kaitan dengan menegakkan diagnosa. Namun apabila setelah 7 hari dilakukan pemeriksaan kedua masih tetap negatif maka kita yakini bahwa kondisi yang bersangkutan saat ini sedang tidak terinfeksi, artinya bukan dia kebal, suatu saat kalau dia tidak bisa menjaga diri dengan baik, mengabaikan kontak dekat, mengabaikan tentang pembatasan aktivitas bisa saja tertular. Ini yang penting dan harus kita pahami.

Pada kasus yang positif dan kemudian kita konfirmasi dengan PCR, kita akan minta untuk melaksanakan karantina, pertama tentunya kita akan melihat manakala tidak ada keluhan atau keluhan minimal maka kita akan meminta yang bersangkutan melaksanakan karantina di rumah, bukan di rumah sakit. Dengan catatan yang ketat bahwa dia harus menggunakan masker terus-menerus selama 14 hari, kemudian menjaga jarak dengan semua anggota keluarga yang di rumah, kemudian makan dan minum menggunakan alat makan sendiri yang tidak berganti-ganti dengan anggota keluarga yang lain, rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun, dan kemudian menjaga kesehatan diri dengan pola hidup bersih dan sehat, cukup asupan gizi, banyak makan vitamin yang alami, tidak perlu yang sintesis, alami sangat banyak di buah dan sayur apapun, kemudian istirahat cukup, aktivitas yang cukup juga. Dengan cara seperti ini kita bisa berharap maka dia akan cepat pulih menjadi lebih baik lagi dan menjadi sembuh total.

Tentunya ada self monitor sepanjang 14 hari dia dilakukan monitoring, dan kita akan menyampaikan ini pada kesehatan wilayah atau bisa menggunakan beberapa situs online yang saya sebutkan tadi.

Apabila kemudian hasil positif dari PCR dan kemudian diyakini bahwa tidak bisa melakukan isolasi diri di rumah karena ada gejala panas, batuk, sesak atau kita temukan faktor penyakit lain, misalnya penderita hipertensi, diabetes, kelainan jantung, gagal ginjal kronis, maka kelompok inilah yang harus dilakukan isolasi di rumah sakit.

Pemerintah telah menyiapkan beberapa rumah sakit isolasi rumah sakit tambahan yang cukup besar, kita tahu bersama beberapa hotel, kemudian wisma atlet digunakan untuk kepentingan ini. Inilah yang kemudian akan kita pakai untuk melakukan isolasi rumah sakit dengan kasus-kasus yang sedang atau kasus-kasus tanpa penyulit, sedang tanpa penyulit. Tetapi manakala kemudian kita temukan kasus yang berat dengan penyulit maka inilah yang akan kita rujuk ke rumah sakit rujukan. Di rumah sakit rujukan tentunya akan lebih intensif lagi pelaksanaan perawatannya, polanya adalah pola yang kita bangun di Jakarta. Sudah barang tentu pemerintah daerah pun juga akan mengaplikasikan di daerah masing-masing dengan pola-pola yang sama seperti yang kita buat di Jakarta saat ini, sehingga tidak perlu lagi ada kepanikan di masyarakat bahwa di dalam penanganan kasus ini seakan-akan tidak ada perhatian.

Ini yang mari kita tata dengan baik sehingga tidak semua orang yang sakit berbondong-bondong menuju ke rumah sakit dan tidak semua kasus isolasi harus dilaksanakan di rumah sakit, kalau cara berpikir ini bisa kita tata kembal, sudah barang tentu dengan kerja bersama, kerjasama secara sinergi kemudian saling mengingatkan Insyaallah ini akan bisa tertangani dengan lebih baik.

Banyak pembelajaran yang kita bisa dapatkan dari negara-negara yang lain yang berhasil menangani tentang hal ini, salah satu contohnya adalah di Vietnam, di Vietnam adalah mengedepankan bagaimana physical distancing menjaga diri menjaga jarak dan kemudian self isolation, ini menjadi kekuatan besar yang dilaksanakan oleh masyarakat, dia bisa menghentikan penularan ini. Tidak harus Berpikir untuk Ditunggu sampai sakit tetapi mampu dicegah, jangan sampai sakit, karena itu seperti yang beberapa kali gugus tugas sampaikan juga yang sehat kita jaga harus tetap sehat, yang agak sakit harus kita segera kita lakukan pengawasan, pengobatan agar jadi sehat, dan yang sakit kita berikan layanan perawatan sebaik-baiknya agar segera menjadi sehat. Ini menjadi kunci, oleh karena itu ini pekerjaan kita bersama ini harus kita lakukan bersama dan keberhasilannya tentu kembali lagi kepada peran serta masyarakat karena ini adalah penyakit menular.

Pada hari ini saya akan menyampaikan laporan tentang perkembangan kasus positif yang kita catat sejak tanggal kemarin jam 12 siang sampai hari ini jam 12 siang. Ada penambahan kasus positif, konfirmasi positif. Kasus ini adalah kasus yang kita dapatkan dari pemeriksaan PCR bukan rapid test, sebanyak 105 kasus sehingga kemarin yang jumlahnya 685, ada koreksi dari 686 jadi 685 karena ternyata ada 1 pasien terdapat di dua rumah sakit, dengan nama yang hampir mirip sudah kita konfirmasi ke daerah, bahwa riilnya adalah 685 ditambah sekarang 105 sehingga total kasus kita adalah 790 kasus. Kemudian yang sembuh yang sudah mendapatkan laporan dari rumah sakit bertambah satu orang, sehingga menjadi 31 orang. Sementara angka kematian setelah kita lakukan dari verifikasi ulang ada data yang double, sudah kita perbaiki sehingga datanya adalah 55 pada hari kemarin dan hari ini ada penambahan 3 sehingga jumlahnya menjadi 58. Oleh karena itu total report kita untuk saat ini jumlah kasus positif adalah 790, kemudian jumlah kasus yang sudah sembuh dan dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, lepas perawatan ada 31 orang dan kemudian kasus meninggal ada 58 orang.

Saudara sekalian, dua hal yang ingin saya sampaikan di dalam upaya kita untuk mencegah penyakit ini, artinya berpikir jangan sampai sakit. Yang pertama jaga jarak dalam kontak interaksi sosial, bukan hanya di luar rumah, di dalam rumah di upayakan untuk bisa menjaga jarak. Kemudian yang kedua kalau ada yang sakit, gunakan masker dan yang lebih penting dari itu semuanya adalah cuci tangan, cuci tangan pakai sabun. Tidak harus menggunakan hand sanitizer, jauh lebih efektif menggunakan sabun dibanding dengan menggunakan hand sanitizer. Karena dengan sabun akan menggunakan air yang mengalir dan kita bisa membasuh seluruh celah-celah kuku dan sebagainya dengan baik, dibanding menggunakan hand sanitizer yang mungkin hanya telapaknya saja yang bisa dibersihkan, punggung tangan dan sela-sela lebih sering tidak masuk dan dibersihkan, oleh karena itu kembali lagi jaga jarak, cuci tangan.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita