Soal Pernyataan Agama Musuh Pancasila, Pimpinan MPR: Perlu Diluruskan

Soal Pernyataan Agama Musuh Pancasila, Pimpinan MPR: Perlu Diluruskan

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan menyayangkan kegaduhan akibat pernyataan yang disampaikan Ketua Badan Penguatan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, yang mengatakan bahwa agama merupakan musuh Pancasila. Menurutnya, pendapat tersebut keliru dan perlu diluruskan.
Dia menilai sejak dulu hingga kini dan sampai kapan pun, agama tidak pernah memusuhi Pancasila. Agama dan Pancasila tidak saling bertentangan. Oleh karenanya, agama tidak mungkin menjadi musuh Pancasila.

"Kalau benar pendapat tersebut disampaikan Ketua BPIP, maka pendapat tersebut perlu diluruskan. Sejak dulu agama tidak pernah bertentangan dengan Pancasila apalagi sampai menjadi musuhnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/2/2020).
Pendapat tersebut disampaikan Syarief Hasan, usai bertemu Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster MM. Pertemuan tersebut berlangsung di ruang pertemuan Gubernur Bali.

Kedatangan Wakil Ketua MPR ke Bali dalam rangka silaturahmi dan serap aspirasi terkait wacana perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sejak lahirnya, kata Syarief, Pancasila memiliki fungsi untuk melengkapi semua agama yang ada di Indonesia. Maka dari itu, tidaklah benar jika dikatakan bahwa agama merupakan musuh dari Pancasila.

Sebelumnya, Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Profesor Yudian Wahyudi soal hubungan Pancasila dan agama menyulut kontroversi. Kini Yudian memberikan penjelasan bahwa dia tidak bermaksud mempertentangkan Pancasila dan agama.

"Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertinggi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin," kata Yudian.

Yudian meluruskan pernyataan ini. Maksudnya, musuh Pancasila adalah minoritas yang mengklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama.

"Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas)," jelas Yudian.(dtk)

BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita