Pengusaha Inggris Diduga Penyebar Super Virus Corona

Pengusaha Inggris Diduga Penyebar Super Virus Corona

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Seorang pengusaha Inggris yang terjangkit virus corona COVID-19 di Singapura, dan melakukan perjalanan ke Prancis, Swiss, dan Inggris, memicu kekhawatiran akan "penyebar super" virus tersebut, karena ia telah menginfeksi setidaknya 11 orang.

Nama Steve Walsh, demikian identitas pengusaha tersebut, pekan ini menjadi sorotan media massa Eropa. Menurut otoritas kesehatan Inggris Public Health England, Walsh mungkin tanpa sadar telah menyebarkan virus seperti pneumonia ke setidaknya 11 orang dalam perjalanannya dari Singapura ke Prancis, ke Swiss, ke Inggris. Orang Inggris yang terinfeksi di Inggris, Prancis, dan Spanyol, mungkin menangkap virus darinya.

Walsh adalah pemimpin manajemen proyek Servomex, sebuah perusahaan analisis gas. Dia menghadiri sebuah konferensi dagang mulai 18-22 Januari 2020 di hotel Grand Hyatt di Singapura, di mana dia diduga terinfeksi virus itu.

Kepada The Washington Post, dia mengaku telah terinfeksi virus corona dan sekarang telah pulih sepenuhnya. Dia berterima kasih kepada layanan kesehatan masyarakat Inggris, National Health Service (NHS), yang telah merawatnya sampai pulih.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada NHS atas bantuan dan perawatan mereka --di mana saya telah sepenuhnya pulih. Saya juga berharap hal yang kepada orang lain yang telah terjangkit virus corona," kata Walsh.

Setelah dia terkonfirmasi terinfeksi virus corona COVID-19, dia segera menghubungi otoritas kesehatan Inggris.

Dia diminta untuk masuk ruang isolasi di sebuah penyakit, walaupun tak menunjukkan gejala, dan kemudian mengisolasi diri di rumah seperti yang diperintahkan.

Sebagai tindakan pencegahan, keluarganya juga diminta untuk mengisolasi diri mereka.

Dalam pernyataan terpisah, Servomex mengatakan: "Kami sangat senang bahwa Steve Walsh telah membuat pemulihan penuh. Kami terus memberikan dukungan kepadanya dan keluarganya.

Dalam pernyataan terpisah kepada The Washington Post, Servomex mengatakan: "Kami sangat senang bahwa Steve Walsh telah membuat pemulihan penuh. Kami terus memberikan dukungan kepadanya dan keluarganya."

Otoritas kesehatan Inggris dan sekitarnya berusaha keras melacak jejak pengusaha itu sejak dia tertular virus ketika dia dinyatakan positif di Inggris beberapa hari kemudian. Dari Singapura, ia dilaporkan berhenti di chalet bernama Les Contamines-Montjoie, sebuah resor ski di Pegunungan Alpen, Prancis, lalu naik pesawat, mampir di sebuah pub di kota kelahirannya dan mungkin pergi ke klinik medis. Pihak berwenang menghubungi mereka yang mungkin melakukan kontak dekat dengannya.

Menurut Kementerian Kesehatan Prancis, lima warga negara Inggris, termasuk yang berusia 9 tahun, juga tinggal di chalet dan dinyatakan positif terkena virus corona.

The Guardian melaporkan, pihak berwenang Prancis menutup dua sekolah yang dikunjungi anak berusia 9 tahun itu. Enam warga negara Inggris lainnya telah dirawat di rumah sakit untuk observasi.

Pada hari Minggu, 9 Febuari 2020, pejabat kesehatan Prancis mengumumkan dua kasus baru yang terkait dengan resor ski. "Kami mengetahui bahwa ada dua kasus lain yang terkait dengan kluster ini, dua orang dewasa - satu didiagnosis di Inggris dan yang lainnya didiagnosis di Mallorca - terkait dengan tinggal di apartemen di Les Contamines-Montjoie," kata Jerome Salomon, seorang pejabat kesehatan Prancis, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi.

Keesokan harinya, para pejabat Inggris mengumumkan empat orang lagi di Inggris positif terkena virus corona.

Chris Whitty, kepala petugas medis untuk Inggris, mengatakan bahwa "kasus-kasus baru semua diketahui kontak dari kasus Inggris yang sebelumnya dikonfirmasi, dan virus itu ditularkan di Prancis."

Setelah menghabiskan waktu di chalet Les Contamines-Montjoie, Prancis, Walsh melakukan perjalanan ke Jenewa, di mana ia naik penerbangan ke Bandara Gatwick London pada 28 Januari. Hampir 200 orang berada di dalam pesawat.

EasyJet, maskapai penerbangan yang dipakai Walsh, mengatakan kala itu ada 183 penumpang dan enam anggota kru. Otoritas kesehatan Inggris telah menghubungi para penumpang yang duduk di dekat pengusaha.

"Meskipun risiko kepada orang lain di dalam penerbangan sangat rendah, kru yang mengoperasikan penerbangan telah disarankan untuk memantau kesehatan mereka selama 14 hari sejak penerbangan sesuai dengan saran Public Health England," kata maskapai EasyJet dalam pernyataan, dikutip The Washington Post. "Penerbangan berlangsung 13 hari yang lalu dan tidak ada yang menunjukkan gejala apa pun."

Walsh sendiri diketahui berasal dari Hove, sebuah kota yang bertetangga dengan Brighton. Bersama-sama, kedua tempat itu dikenal sebagai Brighton and Hove.

Pada hari Senin, 10 Februari 2020, BBC melaporkan bahwa klinik dokter di Brighton telah ditutup sementara setelah salah satu anggota stafnya dinyatakan positif terkena virus corona.
Senin sore, otoritas kesehatan Inggris mengaku telah melakukan 1.114 tes untuk virus tersebut. Delapan ditemukan positif virus corona.

Virus corona dapat menyebar dengan cepat di antara manusia, biasanya melalui kontak dekat orang-ke-orang dan tetesan pernapasan, termasuk batuk dan bersin.

Untuk urusan penyebaran, peneliti terbaru menemukan bahwa ada beberapa pasien yang dianggap sebagai "penyebar super" atau "super-spreader." Walsh dikhawatirkan sebagai penyebar super.

Penyebar super virus corona juga didasarkan pada satu studi baru yang diterbitkan di jurnal medis peer-review Journal of American Medical Association (JAMA). Pada kesempatan ini, para peneliti mengamati 138 kasus virus corona COVID-19 di Wuhan, China, lokasi pertama virus corona COVID-19 mewabah. Mereka menetapkan ada beberapa pasien yang dapat menularkan coronavirus lebih mudah daripada orang kebanyakan.

Studi yang berlangsung di Wuhan, memprediksi bahwa rata-rata orang yang terinfeksi akan menularkan virus corona ke 2,2 orang. Riset juga memperkirakan bahwa 41 persen menyebarkan virus corona ke orang lain di rumah sakit.

Untuk pasien yang masuk sebagai penyebar super, akan bisa menyebarkan virus secara lebih cepat ke orang lain dibandingkan rata-rata pasien lain.

Para pakar kesehatan mencurigai kemampuan mereka untuk menginfeksi orang lain akan dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi ini belum dipahami secara mendalam.(*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita