Gara-gara "Kebakaran Brewok", Gerindra Bikin Nasdem Meradang

Gara-gara "Kebakaran Brewok", Gerindra Bikin Nasdem Meradang

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -  Kalimat “kebakaran brewok” yang diucapkan politisi Gerindra Andre Rosiade bikin politisi Nasdem meradang. Politisi Nasdem menilai omongan Andre itu menyindir ketum mereka, Surya Paloh yang memang punya ciri khas brewokan. Andre pun akhirnya minta maaf.

Kata kebakaran brewok keluar dari mulut Andre ketika menyinggung keresahan partai koalisi pendukung 01 terkait munculnya wacana poros Teuku Umar-Kertanegara, disingkat TK.

“Pertemuan Pak Prabowo dan Pak Jokowi, Bu Mega dan Pak Prabowo, begitu diapresiasi rakyat, ternyata ada yang kebakaran brewok, itu yang agak aneh ya,” kata Andre dalam diskusi di Gado-gado Boplo, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (10/8).

Andre juga menyebut faktor lapak dan kapling sebagai penyebab di balik penolakan dari kubu 01, terhadap munculnya poros TK. “Ada yang mimpi 5 menteri, ada yang mimpi 10 menteri. Tiba-tiba takutnya Gerindra, Demokrat, PAN, diajak oleh pak Jokowi. Akhirnya tentu akan mengurangi kapling mereka,” tandas Andre.

Pernyataan Andre ini bikin panas Nasdem. Ketua DPP Nasdem Irma Suryani Chaniago meminta Andre belajar politik dulu. “Dia gak ngerti menggunakan diksi politik yang beretika. Ya maklum aja baru masuk politik. Jadi tidak tahu menggunakan cara-cara politik etis,” sindirnya.

Irma kemudian menyinggung partai yang kalah di pilpres, tapi mendekat ke kubu partai yang menang. Menurutnya, yang demikian itu perlu belajar malu. “Andre Rosiade harus belajar malu dan belajar etika politik dulu, siapa yang balik badan, siapa yang baper. Kok kebalik-balik,” sebutnya.

Nasdem, kata Irma, tidak pernah merasa kebakaran jenggot terkait pertemuan Prabowo dengan Jokowi dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. “Yang kebakaran jenggot itu siapa? Orang Pak Surya Paloh ketemu Pak Anies aja pada ribut kok,” terang Irma.

Irma kembali mengingatkan, Nasdem hingga saat ini masih konsisten dengan seruan politik tanpa mahar. Termasuk tidak minta-minta jatah kursi menteri. “Padahal kita pemenang loh. Lah ini yang kalah, kemarin menjadi lawan minta-minta kursi, kok malah kita yang diomongin kebakaran jenggot. Mereka yang kebakaran jenggot itu,” sentil Irma.

Anggota Majelis Kehormatan Partai Gerindra, Habiburokhman mencoba menengahi. Dia meminta, Andre meminta maaf. Menurutnya, diksi kebakaran brewok dinilai tidak tepat, karena terkesan mengolok-olok. “Tidak sejalan dengan apa yang diajarkan Pak Prabowo untuk selalu santun kepada siapapun,” kata Habiburokhman kepada wartawan, kemarin.

Kendati demikian, Habiburokhman menyebut Andre sebagai sosok yang baik hati. Namun karena masih muda, kadang suka tersulut emosi. “Andre anak muda, kadang terlalu keras tapi hatinya baik banget,” lanjutnya.

Tadi malam, Andre mengklarifikasi soal kebakaran brewok yang dipakai- nya tersebut. Kata dia, diksi itu tidak bermaksud untuk menyerang figur tertentu. “Itu kan soal diksi saja ya. Biasanya kan kebakaran jenggot. Kalau jenggot kan sudah umum. Saya boleh dong memilih brewok, supaya lebih keren. Tanpa bermaksud mengarahkan ke salah satu figur, atau menyinggung orang yang brewokan,” kata Andre kepada Rakyat Merdeka.

“Tapi kalau ada yang tersinggung, saya sebagai anak muda ya saya minta maaf lah. Tapi secara prinsip saya tidak bermaksud menyerang siapapun,” sambungnya.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai diksi kebakaran brewok yang dipakai Andre tidak tepat. Sebab, umumnya adalah kebakaran jenggot. Karena itu diksi tersebut ditengarai kental bernada sindiran. “Diksi kebakaran brewok itu arahnya sangat jelas. Dan bersifat personal. Oleh karena itu Nasdem protes,” kata Ujang.

Ia tidak dapat memungkiri ada resistensi dari partai pendukung kubu 01, terhadap Gerindra jika merapat ke pemerintahan. Tidak hanya peta politik yang akan berubah, stabilitas internal partai koalisi Jokowi juga terganggu jika Gerindra terus bermesraan dengan PDIP.

“Jika Gerindra dengan PDIP terus bermesraan, maka akan mengganggu stabilitas internal koalisi, karena PDIP dan Gerindra merupakan partai pemenang pemilu pertama dan kedua,” terang Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu.

Menurut dia, bukan hanya peta politik internal koalisi Jokowi yang akan berubah, tetapi juga bisa saja jatah menteri partai- partai tersebut terganggu. “Juga jabatan-jabatan lain di DPR, termasuk kursi ketua MPR, bisa saja didapatkan oleh Gerindra,” sambungnya. [rm]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita