Rekonsiliasi Politik Tak Berdampak pada Rakyat
logo

6 Juli 2019

Rekonsiliasi Politik Tak Berdampak pada Rakyat

Rekonsiliasi Politik Tak Berdampak pada Rakyat

Oleh Iramawati Oemar 

Ketahuilah kalian, wahai kelompok yang telah merampok suara rakyat, wahai kalian yang telah mengkhianati amanah rakyat, duhai yang telah mencurangi demokrasi, sesungguhnya pemilu dan pilpres telah berakhir. 

Rakyat kini TIDAK dalam posisi membela partai ini dan itu, TIDAK lagi sedang mengusung 02 demi menghadapi 01.

Saat ini yang terjadi adalah RAKYAT INDONESIA yang menghendaki pemimpin yang JUJUR, yang benar-benar dipilih rakyat, BUKAN yang DIMENANGKAN oleh segelintir lembaga, melawan sekelompok yang demi melanggengkan kekuasaan telah melakukan segala cara.

Maka, PERCUMA SAJA kalian merayu parpol-parpol eks koalisi pengusung capres 02 untuk bergabung ke koalisi yang "dimenangkan".

Percuma saja kalian membangun opini dibantu media massa dan sejumlah stasiun tv, untuk mengajak Prabowo dan Sandi Uno untuk rekonsiliasi.

Rakyat TIDAK lagi tergantung pada sikap parpol dan mantan paslon capres.

Rakyat yang terlanjur sakit hati dan terluka sudah bertekad untuk tidak mengakui legitimasi presiden yang dimenangkan dengan manafikan sejumlah kecurangan, yang dipaksa menang dengan mengabaikan kesaksian rakyat.

Oleh karena itu, wahai elite parpol-parpol eks pengusung paslon capres 02, jika kalian tergiur pembagian "ghanimah", sehingga kalian enggan beroposisi pada penguasa, maka RAKYATLAH yang akan menjadi OPOSISI SEJATI.

Begitu pula mantan paslon capres 02, Bapak Prabowo Subianto dan Bang Sandiaga Uno, jika sampai anda berdua mau melakukan rekonsiliasi, maka habislah sudah simpati rakyat yang sudah 10 bulan terakhir ini berjuang memenangkan anda sampai tetes keringat penghabisan, sampai koin rupiah terakhir.

Jangan sampai, DEMI ALLAH, JANGAN LAKUKAN ITU. Apalagi luka hati rakyat masih menganga, darah para syuhada 21 - 22 Mei masih belum kering, tanah kuburan hampir 700 petugas KPPS masih merah.

Tak perlulah beralasan demi membebaskan para korban kriminalisasi.

Sebab itu memang sudah resiko perjuangan.

JANGAN MASUK PERANGKAP DUSTA!!

Ingatlah bagaimana ulama sepuh Ustadz Abu Bakar Baasyir saja diberi harapan palsu akan dibebaskan, tapi hanya hitungan hari sudah diingkari.

Bahkan kepada teman sekutu sendiri mereka tega saling sikut dan tega memberi harapan palsu.

Apalah artinya berupaya membebaskan para pejuang yang dibui, jika harus menjilat dan mengikuti keinginan pihak yang mengkriminalisasi.

Bukankah dulu kakek moyang kita yang ditahan Belanda tidak pernah mau menjilat dan ikut kemauan Belanda demi sebuah kebebasan?!

Yang Menang, Yang Gamang

Lihatlah orang-orang yang dimenangkan, betapa mereka kini gamang, berupaya mendapatkan ucapan selamat, mati-matian ingin mengajak rekonsiliasi.

Jumat malam, sehari pasca putusan MK, di TV One Ibu Siti Zuhro, pengamat politik, meminta agar Gerindra dan PKS tetap berada di jalur oposisi. 

Siti Zuhro mencontohkan betapa dulu PDIP 10 tahun berada di luar Pemerintahan dan kekeuh jadi oposisi. 

Namun apa kata Arya Bima, politisi PDIP?! Dia menolak argumen Siti Zuhro, jangan bandingkan dengan masa ketika PDIP jadi oposisi. 

Saat itu keterbelahan masyarakat tidak terjadi separah sekarang. Kalau sekarang, masyarakat sudah terbelah parah.

Nah lho!!

Artinya mereka sebenarnya TIDAK SANGGUP MERANGKUL KEMBALI RAKYAT, MEREKA TIDAK MAMPU MEREBUT KEMBALI SIMPATI RAKYAT.

Lalu siapakah penyebab keterbelahan di tengah masyarakat?! 

Bukankah kubu kalian yang selalu MENUDUH kami yang tidak mendukung kalian sebagai "ekstrimis", kelompok Islam garis keras, Islam radikal, pro khilafah, seakan kami tidak pancasilais, tidak cinta NKRI?! 

Lupakah kalian semua TUDUHAN yang gencar kalian tiupkan agar kami dibenci sebagian rakyat lainnya?!

Bukankah issu Islam radikal, issu khilafah, itu yang sengaja kalian hembuskan agar bangsa ini terbelah dan sesama ummat Islam diadu domba?! 

Bukankah DOKTRIN itu yang kalian ajarkan saat pelatihan TOT saksi?!

Lalu kenapa kalian sekarang kebingungan ketika melihat masyarakat terbelah.

Sore ini di iNews TV, Lukman Edi pun berkata senada, intinya kubu mereka, TKN 01, semua ditugaskan untuk melobby siapa saja yang mereka kenal dari kubu BPN 02, agar bisa segera rekonsiliasi.

Tidak malukah dia setelah sekian banyak pernyataan menyakitkan dia lontarkan di berbagai kesempatan muncul di layar TV, sekarang akan mengajak kami mengakui kemenangan kalian?!

Insyaa Allah, sampai akhir hayat pun kami rakyat yang sudah kenyang difitnah, dituduh "ekstrimis" (radikal, garis keras), dicari-cari kesalahan kami, TIDAK AKAN PERNAH RELA BERJABAT TANGAN dengan mereka yang berlumuran KECURANGAN.

Masa iya kami akan berangkulan dengan yang telah merampok suara kami?!

Nikmatilah kemenangan pemberian KPU, Bawaslu dan MK. 

Puaskanlah berbagi kekuasaan antar kalian.

Jika kalian pemenang sejati, kenapa harus menggoda oposisi?!

Bukankah oposisi harus ada demi berjalannya roda demokrasi?! (*)
Loading...
loading...