Kepala Bappenas: Jangan sampai Bangga Unicorn, Ternyata Impor
logo

15 Maret 2019

Kepala Bappenas: Jangan sampai Bangga Unicorn, Ternyata Impor

Kepala Bappenas: Jangan sampai Bangga Unicorn, Ternyata Impor


GELORA.CO - Perusahaan marketplace yang menyandang gelar unicorn saat ini diminta agar terus mendorong inovasi agar barang konsumsi impor bisa dikurangi penjualannya. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengingatkan agar bahwa barang impor masih menguasai produk e-commerce yang dijual di marketplace Indonesia. Ini menjadi salah satu penyebab impor barang konsumsi sepanjang tahun 2018 melonjak hingga 22,03 persen year-on-year (yoy).

"Jangan sampai bangga unicorn, ternyata impor," kata Bambang dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Maret 2019. Saat ini, dua dari unicorn asal Indonesia memang merupakan marketplace dari e-commerce yaitu Bukalapak dan Tokopedia.

Sebelum Bambang, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan 90 persen dari produk yang dijual di seluruh marketplace perdagangan online atau e-commerce Indonesia adalah barang impor. Meski industri e-commerce tumbuh pesat, peran dari produk lokal ternyata masih sangat kecil.

"Produk dalam negeri hanya 10 persen," kata Gati saat ditemui di acara 9.9 Super Shopping Day di Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2018. Untuk itu, kata dia, Kementerian Perindustrian terus bekerja sama dengan sejumlah marketplace agar proporsi produk lokal, terutama produk industri kecil dan menengah, bisa meningkat.

Untuk itu, Bambang meminta Kementerian Perdagangan ikut berbicara dengan pelaku e-commercr ini agar lebih memperhatikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tanah air. Jika dibiarkan, Bambang khawatir akan ada gejolak karena produk UMKM menghilang, bukan karena melemahnya sektor ritel, tapi karena produk mereka disapu oleh barang impor yang dijual online.

Bambang pun menyayangkan bahwa beberapa barang impor yang dijual di marketplace tanah air adalah barang yang sebenarnya bisa dibuat di Indonesia. Bagi dia, pemerintah tidak ingin juga produk UMKM lokal menguasai hingga 100 persen. "Ya paling enggak 50 persen-lah, Kemendag coba tolong ini," ujarnya.

Tempo pernah mengkonfirmasi ini kepada salah satu marketplace di tanah air yaitu Shopee. Menurut Head of Government Relations Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo mengatakan saat ini ada 2 juta lebih pedagang aktif di Shopee. Namun, Shopee belum melakukan validasi detail terhadap jutaan pedagang tersebut, apakah sebagai produsen sekaligus penjual atau hanya reseller yang menjual produk impor dan lokal.

Sebab, variabel yang digunakan di Shopee baru sebatas pendapatan pedagang per tahun. "Ada beberapa yang kami tanya, tapi enggak bisa validasi satu per satu," ujar Radityo, Selasa, 4 September 2019.

Radityo mengatakan komitmen Shopee untuk memperkuat produk dalam negeri bukan hanya lewat Kampus Shopee, namun juga lewat kategori Kreasi Nusantara. Di platform khusus yang ada di aplikasi ini, Shopee melakukan kurasi produk lokal yang dijual. Syarat untuk masuk ke dalam kategori ini adalah produksi dalam negeri atau merek dalam negeri. [tco]

Loading...

Komentar Netizen

loading...