Gerindra: Survei LSI Ngawur, Layak Dibuang ke Tong Sampah

Gerindra: Survei LSI Ngawur, Layak Dibuang ke Tong Sampah

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Partai Gerindra meradang dengan hasil temuan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang memaparkan bahwa mayoritas pendukung Prabowo-Sandi menginginkan Indonesia seperti negara timur tengah. Mereka menduga ada tujuan lain dari digelarnya survei tersebut.

"Hasil surveinya tendensius ingin menyerang Prabowo. Rakyat sudah tidak ada yang percaya sama Deny JA dan lembaga surveinya," kata Ketua DPP Partai Gerindra Nizar Zahro saat dihubungi, Kamis (7/3).

Lagi pula, kata dia, Denny JA telah terbukti merupakan lembaga survei partisan yang mendukung salah satu paslon. Dia bilang, bos LSI itu kerap aktif menyerang paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi.

"Deny JA adalah pendukung Jokowi. Tiap hari produksi dan menyebar meme untuk menyerang Prabowo-Sandi. Survei Denny JA adalah survei abal-abal karena memihak salah satu kontestan capres," tuturnya.

Di sisi lain, Nizar menegaskan, partainya dan koalisi Prabowo-Sandi merupakan figur-figur yang sangat mecintai Pancasila. Jadi, tidak mungkin paslon yang disingkat PAS itu akan mengubah ideologi negara.

"Itu komitmen ideologi. Tidak bisa diutak-atik. Pancasila dan Islam adalah satu tarikan napas. Seluruh sila dalam Pancasila sesuai dengan Al-Quran. Hanya orang ngawur saja yg membedakan antara Pancasila dan Islam," ujarnya.

Lebih lanjut, Nizar menambahkan, negara timur tengah berbeda dari Islam. Dia mencatat, negara yang masuk kelompok negara-negara timur tengah pun memiliki budaya dan keyakinan yang beragam. Ada yang memeluk agama islam dan ada pula yang memeluk selain Islam.

"Maka, aneh jika Denny JA menggiring opini antara memilih Pancasila atau Timur Tengah. Itu survei ngawur yang layak dibuang ke tong sampah. Ngawur, dan inilah sebenarnya pemicu konflik horizontal terjadi. Kalau pilihan atas kinerja dan visi-misi kita masih terima," tutur dia.

"Dan perlu diingat, dengan adanya survei model begini, publik jadi semakin tersulut atas nama SARA. Bukan hanya ngawur tapi ngacau. Secara logika mendasar apa mungkin ada orang yang mengaku akan mengubah Pancasila saat diwawancarai? Di sinilah makin jelas subjektivitas lembaga yang melakukan survei," sambungnya.

Tak hanya itu, dia meminta masyarakat Indonesia tidak terprovokasi dengan hasil survei tersebut. Sebaliknya, kata dia, LSI harus membuktikan ihwal siapa responden yang ingin mengubah ideologi pancasila.

"Mau tidak lembaga survei laporkan ke polisi, siapa yang mau mengubah Pancasila yang dia maksud dalam surveinya," pungkasnya.

Diketahui, survei Denny JA menunjukkan, dari total responden 1.200, sebanyak 54,1 persen yang merupakan pemilih Prabowo-Sandi menginginkan Indonsia seperti Timur Tengah. Angka itu turun dari survei Januari 2019 yang sebesar 67,6 persen.

Sedangkan, pemilih muslim Prabowo-Sandi yang menginginkan Indonesia khas dengan Pancasila hanya 33,4 persen. Angka tersebut turun dari survei Januari yang mencapai 36,9 persen.

Survei ini dilakukan pada rentang waktu 18-25 Februari 2019, melibatkan 1.200 responden. Metode yang digunakan yaitu multistage random sampling, dengan wawancara tatap muka. Margin of error survei sebesar 2,9 persen. [jp]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita