Lagi, Pengikut Garis Keras Geert Wilders Masuk Islam

Lagi, Pengikut Garis Keras Geert Wilders Masuk Islam

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Setelah Arnoud van Doorn, kini politisi Belanda Joram van Klaveren pun memilih masuk Islam. Klaveren dikenal pengikut garis keras Geert Wilders, kerap melontarkan kalimat penistaan terhadap Islam.

Klaveren selama tujuh tahun menjalankan politik sangat anti-Islam mewakili Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai Kebebasan) pimpinan Geert Wilders. Kini, mengejutkan kawan dan lawan, dia sendiri malah jadi mualaf.

“Pada 26 Oktober 2018 dia secara resmi masuk Islam,” demikian NRC edisi Senin sore seperti dikutip kumparan Den Haag, Selasa (5/2).

NRC melaporkan, pria 39 tahun itu mengucap dua kalimah syahadat Laa ilaha illallah, Muhammad rasululllah dengan hapal di luar kepala, namun pada malam hari di bulan Oktober itu dia mengucapkannya dengan dibimbing oleh imam Muhamed Aarab.

Adalah sangat aneh mendengar mantan orang kepercayaan Geert Wilders ini berbicara sedemikian rupa. Pasalnya, berbagai kalimat penistaan Islam telah meluncur dari mulut Klaveren.

Dialah orang yang pernah menyebut “Islam adalah kebohongan”, “Muhammad adalah penjahat”, “Al-Quran adalah racun”. Klaveren juga tak kenal lelah mengulang-ulang Islam adalah ideologi teror, kematian, dan bencana, tulis NRC.

Klaveren bukan satu-satunya anggota PVV yang masuk Islam. Ada nama Arnoud van Doorn yang telah lebih dulu bersyahadat, bahkan dia naik haji pada 2013. Doorn juga orang dekat Wilders, dan terlibat dalam pembuatan film anti-Islam yang picu protes di seluruh dunia "Fitna".

Masuk Islamnya Joram van Klaveren bermula dari upayanya untuk menulis buku anti-Islam. Ketika dia dan Louis Bontes dengan parpol baru VoorNederland (VNL) tidak masuk parlemen, dia memutuskan untuk meninggalkan politik. Dengan keputusannya itu dia punya banyak waktu luang untuk menulis buku.

Bukan sekadar buku anti-Islam. Niatnya, dia ingin menunjukkan semua kesengsaraan yang ditimbulkan oleh agama Islam: kekerasan, Yahudi yang harus dipenggal kepalanya, penistaan wanita, dan homofobia. Diharapkan dengan buku tersebut umat Islam tidak berkutik lagi.

Namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah-tengah penelitian untuk bukunya itu, dia sendiri malah masuk Islam, menjadi muslim, dan sudah berada jauh mendalam dalam tradisi Islam. Hasilnya justru bantahan-bantahan terhadap non-muslim yang menentang Islam.

Titik balik drastis terjadi dan dia berubah keyakinan ketika dia sedang meneliti tentang Islam untuk buku anti-Islamnya itu.

“Aku menatap Injil di lemari, di atas meja di depanku tergeletak buku tentang Nabi Muhammad,” cerita Van Klaveren kepada NRC mengenai momen dia lebih merasa sebagai Muslim daripada sebagai Kristen.

Joram van Klaveren berasal dari keluarga Protestan. Dia mendeskripsikan apa yang dirasakannya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, "Saya merasakan suatu kebahagiaan yang sejati dan damai,” demikian ujar Van Klaveren. [kum]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita