Kisah Buya Syafii Bersama Prabowo Semobil di Libya
logo

7 Januari 2019

Kisah Buya Syafii Bersama Prabowo Semobil di Libya

Kisah Buya Syafii Bersama Prabowo Semobil di Libya

GELORA.CO - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif memiliki kenangan khusus bersama calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Mereka pernah melakukan perjalanan jauh dalam satu mobil ke salah satu negara Arab di benua Afrika. Diantar seorang supir berkebangsaan Arab, mereka menyusuri padang pasir untuk menemui pemimpin Libya Kolonel Muammar Khadafi. Sementara di mobil lainnya turut serta Amien Rais dan tokoh lainnya. 

Buya mengenang, kala itu si sopir mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia melihat kecepatan di spedometer berada di angka 150 - 160 kilometer per jam. Dengan kecepatan demikian, Buya seperti agak kurang nyaman. Untuk menentramkan diri, dia bertanya kepada Prabowo, "Anda kan jenderal, saya katakan. Siap mati ndak?" Mendapat pertanyaan spontan seperti itu, Prabowo pun menukas dengan sepat, "Belum!".

Hanya saja Buya Syafii tak ingat persis kapan mereka berkunjung ke Libya untuk bertemu Khadafi. Dia mengira-ira waktunya antara 1996 atau 1998. Selain dengan Prabowo, Buya mengaku kenal dengan beberapa pengurus teras Partai Gerindra, salah satunya Sekjen partai itu Ahmad Muzani. 

Terkait sosok Prabowo, Buya menyebut sebagai tentara tentunya mantan Panglima Kostrad itu lebih tegas. Namun dalam perjalanan karirnya sebagai tentara, banyak persoalan di masa lampau menyangkut Prabowo. "Saya enggak mau sebutlah soal itu. (Tapi) Dia maju sebagai Cawapres, Capres, ya siapa tahu kali ini beruntung," kata Buya saat Blak blakan di detikcom yang tayang hari ini, Senin (07/01/2019). 

Saat ditanya kapan dirinya akan bertemu Prabowo, dia cuma memastikan akan menerimanya dengan terbuka jika Prabowo memang ingin berkunjung ke kediamannya. Karena sebelumnya Buya juga menerima calon wakil presiden nomor 01 KH Ma'ruf Amin dan Cawapres 02 Sandiaga Salahuddin Uno dalam waktu terpisah.

Kepada dua cawapres, Buya Syafii berpesan agar jika terpilih menjadi pendamping orang nomor satu di Indonesia, agar melindungi kalangan minoritas. Dia juga meminta pasangan terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk partai pendukung. [dtk]
Loading...
loading...