Reuni yang Bikin Meriang
logo

3 Desember 2018

Reuni yang Bikin Meriang

Reuni yang Bikin Meriang


Oleh: Dhimam Abror Djuraid

"Pohon mahoni buahnya jarang, kita reuni sana meriang"

Pantun itu diucapkan Ustad Haikal Hasan yang Ahad pagi (2/12/2018) menjadi pemandu acara Reuni 212 di Lapangan Monas bersama komedian senior Deddy "Mi'ing" Gumelar.

Audiens pun tertawa bergemuruh dan bertepuk tangan riuh. Suasana reuni yang semula banyak disebutkan akan penuh ketegangan dan bahkan bisa jadi ada kekerasan, ternyata malah penuh kegembiraan dan gelak tawa. Tentu saja ada tangis dan derai air mata ketika doa-doa tahajud di sepertiga malam dilantunkan dan doa qunut nazilah subuh dikumandangkan.

Tapi, begitu acara resmi dimulai dan Haikal bersama Mi'ing mengambil alih panggung maka suasana menjadi cair.

Pagi yang dingin menjadi hangat oleh candaan Haikal dan Mi'ing. Haikal dengan logat Betawi yang kental kerap melontarkan pantun yang provokatif tapi bikin gerr.

Salah satu ungkapannya yang khas adalah "kelar hidup lo". Ungkapan ini memancing tawa dan tepuk tangan karena oleh Haikal diasosiasikan dengan perhelatan politik 2019 dan ia merujuk pada inkumben meskipun tidak menyebut nama.

Pantun pohon mahoni juga jelas-jelas ditujukan ke "sebelah". Haikal mengatakan bahwa banyak yang ketakutan karena reuni ini. Ada juga yang panas-adem meriang menyaksikan reuni.

Berbagai cara dilakukan untuk menggagalkan reuni atau, paling tidak, menggembosi supaya peserta minim. Tapi, kata Haikal, mentalitas para Mujahid 212 tak gentar. Sebaliknya, semakin ditekan dengan intimidasi dan teror malah semakin banyak yang datang.

"Ikan bawal ikan jambrong. Lo jual gue borong," teriak Haikal disambut tepuk histeris dan teriakan "Allahu Akbar" oleh audiens.

Mi'ing menukas, "Gue jadi heran, lo ini lucu kok dibilang radikal".

"Hei Bro, di mata penjajah, Teuku Umar, Tjoet Njak Dhien, Diponegoro, Imam Bonjol, itu radikal. Jadi, yang nganggap gue radikal berarti dia penjajah," kata Haikal.

Sepanjang mata memandang dari panggung di sebelah barat tugu Monas, yang terlihat adalah lautan manusia berwarna putih dan ribuan bendera tauhid hitam dan putih dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang jumbo.

Sepanjang acara bendera tauhid selalu dikibar-kibarkan tak pernah kenal lelah. 

Suasana jadi mirip dengan stadion sepakbola di Eropa yang dipenuhi puluhan ribu suporter yang melambai-lambaikan bendera raksasa. "Satu kalian bakar sejuta bendera tauhid berkibar," teriak Haikal disambut gemuruh takbir dan lambaian ribuan bendera.

Suasana terasa adem sepanjang acara karena matahari hanya muncul malu-malu di balik awan. Biasanya, Jakarta panas oleh matahari tapi sepanjang acara reuni suasana mendung tipis tanpa hujan. "Ini bukti pertolongan Allah kepada kita," kata Ustad Bernard Abdul Jabar, ketua panitia, dalam sambutannya.

Memang sejak pagi sampai siang, dan bahkan sepanjang sore, cuaca Jakarta sejuk dan mendung tapi tidak hujan. Ada yang memiripkan dengan suasana Lailat al Qadr, ada yang merujuk pada awan yang dikirim Allah untuk memayungi perjalanan Nabi Muhammad SAW. Macam-macamlah.

Jumlah jamaah memang terlihat sangat padat. Estimasi menyebutkan angka 8 sampai 10 juta. Pasti ini bisa menjadi perdebatan. Tapi, siapapun akan sulit mendowngrade reuni ini dengan, misalnya, mengecilkan jumlah yang hadir.

Suharyanto, seorang sopir taksi online, mengatakan dengan yakin bahwa jumlah peserta lebih besar dari 2016. "Aliran manusia terlihat tak putus sampai ke Pusat Grosir Tanah Abang," kata Suharyanto.

Dari sejumlah tokoh yang hadir Prabowo yang menjadi guest star. Begitu dia muncul di panggung utama teriakan "Prabowo..Prabowo.." menggema. Dia hanya pidato lima menit untuk menyampaikan terima kasih telah diundang. Pada akhir pidatonya dengan suara menggelegar ia berteriak, "Takbir..takbir...Merdeka!"

Ribuan orang mengerubutinya sepanjang jalan menuju parkir mobil sambil meneriakkan "Prabowo..Presiden".

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan juga diberi kesempatan manggung.

Bintang lain yang paling ditunggu adalah Habib Riziq Shihab yang memberikan teleconfrence dari Mekah. Luar biasa sambutan yang diberikan audiens. Banyak yang berteriak histeris sambil menangis.

The rising star Habib Bahar Smith juga diberi kesempatan bicara. Dengan tegas ia mengatakan tidak akan minta maaf kepada Jokowi atas kasus pencemaran yang sekarang tengah ditangani polisi.

Apakah ada kampanye terselubung di perhelatan ini? Kubu Jokowi berusaha mempermasalahkan hal itu, tapi jelas sulit mencari sela. Tidak ada sedikitpun lubang yang bisa dimasuki.

Meski demikian, jelas bahwa Prabowo telah memperoleh keuntungan politik dari even ini.

Reuni ini menunjukkan adanya konsolidasi pemilih muslim kelas perkotaan yang mendukung Prabowo.

Seorang peserta berseloroh, kalau jumlah peserta reuni mencapaj 10 juta orang maka pintu Prabowo untuk menang terbuka lebar. Pada pilgub DKI 2016 Aksi Bela Islam 2 Desember menjadi titik balik kemenangan Anies-Sandi. 

Ketika itu yang hadir diperkirakan 7 juta orang tapi tidak semuanya warga DKI. Sekarang 10 juta orang itu semuanya adalah pemilih. Kalau dibuat rata-rata satu orang bisa membawa 10 suara, Prabowo bisa mengantongi 100 juta suara, sudah cukup untuk menang.

Ustad Haikal di panggung mengatakan, "Jangan percaya hasil survei bayaran. Dulu di DKI kita diprediksi kalah ternyata menang telak."

Jadi, kata Haikal, kalau ada survei baru yang bilang Prabowo kalah, antum-antum cukup bilang, "Lucu lu..."

"Hei para surveyor bayaran," teriak Haikal. "Ikan bawal ikan jambrong, kalian jual kite borong....Allahu Akbar!"

Pekik takbir membahana, benar-benar bisa bikin meriang. [tsc]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...