Kisah Haru, Air Mata Titiek Saat Prabowo Berperang
logo

6 Oktober 2018

Kisah Haru, Air Mata Titiek Saat Prabowo Berperang

Kisah Haru, Air Mata Titiek Saat Prabowo Berperang


GELORA.CO -  Kisah hidup Calon Presiden Prabowo Subianto masih terekam jelas dalam ingatan KH Idris Sambo, sang guru ngaji. Salah satunya terkait kisah cinta antara Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto.

Kepada INILAHCOM, KH Idris Sambo mengisahkan penggalan-penggalan kisah cinta nan haru dari Prabowo dan Putri Presiden RI ke-2 tersebut.

Di awal perbincangan, KH Idris Sambo memulai dengan sebuah pernyataan. Menurutnya, semua wanita pada dasaranya memiliki keinginan dan harapan yang sama terhadap suami.

"Semua wanita memiliki hal yang sama apa yang diharapkan pada calon suaminya, seorang pria yang dapat menjaga, melindungi dan selalu mendampinginya setiap saat. Tak peduli apakah wanita itu kalangan jelata maupun kalangan bangsawan. Bukanlah seorang suami yang kerap berjibaku dengan lumpur, hutan, rawa-rawa, apalagi bermain dengan kematian," katanya, Sabtu (6/10/2018).

Hal itu juga berlaku bagi Putri Kesayangan Soeharto, Siti Hediati Hariyadi (Titiek). Seorang dara keturunan kraton yang selalu berbicara lembut dan jauh dari kehidupan keras dan kasar.

"Namun saat cinta datang, Titiek tak bisa mengelak memilih suami seorang prajurit ABRI. Taman Mini Indonesia Indah menjadi saksi, bersatunya dua keluarga, Soeharto dan Soemitro ini. Lalu kemudian, Titiek pun mulai merajut asa rumah tangganya dengan angan indah dan bahagia hingga akhir hayat nanti," paparnya.

Ia mengisahkan sebuah kejadian haru antara Prabowo dan Titiek. Kisah dimana kondisi negara yang tengah berjalan dengan berat dan mengancam stabilitas nasional. Salah satunya terkait aksi GPK. Presiden Soeharto pun mengirim prajurit untuk turun menjaga negara.

"Saat itu, keadaan negara berjalan sangat berat. Aksi GPK sangat mengancam stabilitas nasional. Mereka bergerilya dihutan-hutan untuk siap menyerang pasukan ABRI dengan senjata otomatis. Puluhan tentara RI meregang nyawa dengan tubuh penuh luka peluru. Pemerintah tak bisa tinggal diam. Banyak pasukan keamanan RI yang telah mereka bunuh. Prajurit ABRI pun diterjunkan untuk mempertahankan teritorial tumpah darah ibu pertiwi," paparnya.

"Namun sayangnya, Presiden Soeharto tak tebang pilih saat mengirim prajurit untuk berperang. Bahkan suami dari putri kesayangannya yang belum menghabiskan masa bulan madu pun turut diterjunkan ke medan tempur. Sebagai seorang Prajurit, Prabowo selalu siap saat ditugaskan mengabdi pada negara. Namun Tidak dengan Titiek meski akhirnya harus pasrah dengan keadaan," ungkapnya.

Saat Prabowo angkat tas, tinggalkan istri yang baru saja ia nikahi untuk bertempur, saat itu ia menyebut, air mata mengalir deras di pipi Titiek. Titiek tak menyangka ayahnya begitu tega melepas menantunya mengadu nyawa di medan pertempuran yang penuh hujan peluru yang kapan-kapan saja siap mengenai tubuhnya.

"Kenapa bukan yang lain saja? Itu yang ada di benak Titiek," ujarnya.

Seorang prajurit ABRI siapapun dia harus siap membela negara, siap hidup di alam liar, siap mengadu jiwa, dan siap pulang hanya tinggal nama, demikian pesan yang sering didengar Titiek dari ayah kandungnya. Titiek sangat mengerti hal itu. Namun air mata tetap mengalir, meski tak dapat mengubah keputusan ayahnya, dan tak dapat mengubah tekad baja Prabowo, dan tak dapat mengubah apapun.

Beratus malam putri Soeharto tidur dalam kesendirian dan selalu dihantui perasaan penuh khawatir yang mendalam. Meski berada dikamar indah putri seorang raja namun batinnya tak pernah terasa nyaman, karena bulir-bulir air mata Titiek kembali meleleh dan membasahi bantal dan guling. Malam-malamnya ia lalui di atas pembaringan yang empuk, gizi makanan yang terjamin, pakaian yang elok.

"Sementara yang ada di pikirannya adalah, apa yang sedang terjadi pada suaminya di luar sana? Apakah ia terluka? Ataukah baik-baik saja ? Apakah masih hidup ? atau sudah ?," katanya.

Kala itu, tak ada makanan yang terasa enak di lidah, tak ada pemandangan yang terlihat indah dimata, tak ada hiburan yang membuat senang hati, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah Prabowo, suaminya

"Di tengah malam pekat gulita Titiek sulit memejamkan mata, pikirannya melayang jauh entah kemana," ujarnya.

Sementara ditempat yang jauh, Prabowo bergulat dengan dinginnya cuaca malam, perihnya perut karena lapar, dengan kondisinya letih dan sangat lelah harus tidur di atas rerumputan dan bahkan tanah lumpur alam terbuka. Tak ada yang bisa dilakukan Titiek kala itu selain hanya merintih didalam doa dan memasrahkan suaminya kepada Allah.

Sebagai seorang wanita, Titiek merasa ia telah diperlakukan tidak adil oleh ayahnya. Lebih dari itu, Titiek bahkan merasa ia sedang tidak dipelakukan adil oleh negaranya. Kenapa rumah tangganya yang harus dikorbankan untuk bangsa? Kenapa kebahagiaannya yang harus digadaikan untuk negara?
Tidak bisakah seorang Soeharto menukar Prabowo dengan prajurit lain, atau setidaknya memerintahkan suaminya pulang ke rumah barang sejenak ?

"Titek rindu..., Titiek kangen suami...Bapak...," tangis Titiek di depan Soeharto kala itu. Namun ayahnya, dari dulu, selalu hanya bisa menjawab, "Sabar nduk, sabar."

Ketidakadilan dirasa Titiek tidak hanya sampai disitu, hatinya sedih dan berkecamuk, ingin rasanya menjerit dan berteriak sekeras-kerasnya.

"Sebagai seorang wanita, ujian yang dialaminya saat itu begitu berat, apalagi saat itu ia mulai hamil dan mengidam. Ia ingin bercerita tetapi tak tahu harus bercerita kepada siapa. Ke mana suaminya saat ia ingin bermanja? ke mana suaminya saat dirinya tergolek sakit? Ke mana suaminya saat ia mulai merasakan kehamilan? Di mana suaminya saat ia mengidam? Di mana Prabowo saat perutnya kerap mengalami kontraksi? Di mana putra Soemitro itu kala dirinya mulai memasuki masa melahirkan? Dan di mana pria yang selalu mengaku cinta kepadanya itu saat ia harus merawat dan mengasuh putranya sendirian?" katanya.

"Tanyakan pada Didit kecil yang selalu menunggu ayahnya pulang di depan pintu. Tanyakan pada Titiek seperti apa rasa deg-degan hati ketika suaminya selalu berada di garis depan pada setiap pertempuran. Tanyakan juga pada Titiek seberapa tegar dirinya saat mendengar suaminya sempat berhari-hari hilang di tengah pertempuran, dan saat Prabowo ditemukan dalam kondisi pingsan dengan tubuh dipenuhi semut dan ulat. Prabowo selamat setelah nyaris saja tewas," sambungya.

KH Idris Sambo menyatakan, kala itu, Titiek sulit menjalani kehidupan normal seperti saudari-saudarinya yang lain. Ibu Tien Soeharto yang telah dulu pernah mengalami seperti apa yg dialami putrinya mencoba menghiburnya seraya mengajarkan, bahwa cinta tak selamanya harus di sisi. Cinta tak selamanya selalu mendampingi. Cinta adalah mengabdi pada negeri. Bahwa cinta adalah pengabdian, dan cinta adalah pengorbanan meski harus beresiko tinggi dan menyakitkan hati.

"Titiek mencoba untuk belajar dari ibu kandungnya itu ttg apa yang disebut dengan kalimat mengabdi pada ibu pertiwi. Kisah keluarga yang tak memperoleh kasih sayang sempurna dari seorang suami dan ayah, hanya karena membela ideologi bangsa," katanya.

"Kisah suami dan ayah yang lebih memilih tidur di hutan, makan rerumputan dan dedaunan, meminum air mentah, dan lebih memilih tertembak mati di medan tempur dari pada sekedar membelai rambut anak dan istrinya dengan kasih dan cinta," tuturnya. [inc]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...