Gempa di Palu: Deby Fatimah, Penghafal Quran yang Wafat Seusai Ambil Wudlu Sholat Magrib
logo

1 Oktober 2018

Gempa di Palu: Deby Fatimah, Penghafal Quran yang Wafat Seusai Ambil Wudlu Sholat Magrib

Gempa di Palu: Deby Fatimah, Penghafal Quran yang Wafat Seusai Ambil Wudlu Sholat Magrib


GELORA.CO - Perempuan berusia 19 tahun ini menjadi salah seorang korban meninggal dalam gempa dan tsunami di Palu yang terjadi pada Jumat (28/9/2018).

Akan tetapi sebelum meninggal dunia, rupanya korban bernama Deby Fatimah Mondo ini mempunyai kisah yang mengharukan dan menginspirasi.

Bagaimana tidak? Deby, panggilan akrabnya ini meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya.

Tak hanya itu, perempuan yang merupakan lulusan SMKN 1 Palu ini juga meninggal dunia usai wudlu sesaat sebelum melaksanakan sholat Magrib.

Hal tersebut terlihat dari unggahan di laman Instagram Story Desy Mardianti Muchtar di @dsmuchtar, yang menyebutkan bahwa almarhumah Deby yang merupakan adik sepupunya.

Tak hanya itu, menurut Desy Mardianti yang TribunnewsBogor.com hubungi lewat pesan pribadi, almarhumah Deby ini merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara.

Desy Mardianti juga menuturkan saat itu Deby baru selesai berwudlu hendak melaksanakan sholat Magrib.

Kemudian, gempa mengguncang memporakporandakan bangunan pesantrean tempat ia menuntut ilmu.

Deby diketahui sedang mengikuti program hafalan quran atau hafizah di sebuah pondok pesantren di Palu sejak beberapa bulan yang lalu.

Saat gempa terjadi, Deby sedang bersama 8 orang temannya yang juga ikut menjadi korban.

"Deby shalihah yang sedang menghafalkan Qur'an di pondok.

Ketika dihantam reruntuhan gempa, sedang berwudlu untuk sholat Magrib.

Terkubur reruntuhan gedung pondok bersama 8 orang temannya.

Hari ini mayatnya telah diangkat, jannah (surga) menantimu, shalihah.

Kamu cantik dengan cadarmu, sepupuku (emoji love).

Semoga kamu menjadi bidadari syurga seperti yang kamu cita-citakan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ia pergi tepat di hari kelahirannya," tulis @dsmuchtar, Sabtu (30/9/2018).


Tak hanya itu, Dessy juga mengungkapkan kronologi seusai almarhumah Deby berwudlu.

Menurut keterangan yang diperoleh Desy Mardianti yang diperoleh dari kesaksian temannya Deby, menuturkan bahwa seharusnya almarhumah ini bisa melarikan diri.

Teman-temannya pun sudah menarik Deby untuk keluar dari bangunan karena tahu pasti bangunan akan roboh.

Namun, Deby memilih untuk bertahan.

Pasalnya, sehabis berwudlu, Deby masih belum sempat berhijab.

Ia pun memilih untuk mencari cadarnya.

Akhirnya, Deby pun tak sempat menyelamatkan diri dan tertimbun reruntuhan bangunan.


Unggahan yang ditulis Desy di inatagram Story-nya ini pun lantas menjadi viral.

Beragam ucapan duka cita dan doa terus mengalir di akun Facebook milik Deby, yang bernama Fatimah Deby.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan kronologi gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018).

Menurut Sutopo, gempa pertama kali mengguncang Donggala pukul 14.00 WIB.

Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6 dengan kedalaman 10 km.

Setelah itu, gempa kembali terjadi pukul 17.02 WIB dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu magnitudo 7,4 dengan kedalaman yang sama, 10 km di jalur sesar Palu Koro.

Menurut Sutopo, gempa tersebut tergolong gempa dangkal dan berpotensi memicu tsunami.

Saat itu, menurut Sutopo, pihaknya tengah menyiapkan rilis untuk mengimbau masyarakat supaya menjauhi kawasan pantai dan sungai dalam kurun waktu 30 menit.

Namun, 30 menit setelah dikeluarkan peringatan tersebut, BMKG mencabutnya pada pukul 17.37 WIB.

Akan tetapi, tsunami benar-benar terjadi pada pukul 17.22 WIB.

Berdasar data BNPB, ketinggian tsunami ada yang mencapai 6 meter.

Hingga pukul 20.00 WIB, tercatat ada 22 gempa susulan.

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang melanda Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah hingga Sabtu (29/9/2018) malam mencapai 420 orang. [tribun]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...