Di ILC, Psikiater Ungkap Kondisi Psikis Ratna saat Berbohong
logo

10 Oktober 2018

Di ILC, Psikiater Ungkap Kondisi Psikis Ratna saat Berbohong

Di ILC, Psikiater Ungkap Kondisi Psikis Ratna saat Berbohong


GELORA.CO - Psikiater Hubertus Kasan Hidajat mengungkapkan kondisi kejiwaan yang kemungkinan dialami oleh aktivis Ratna Sarumpaet saat melakukan kebohongan penganiayaannya. Kelainan kejiwaan tersebut disebut hipomania.

Menurutnya, orang yang mengidap hipomania itu orangnya sangat semangat, aktif, banyak ide dan tidak mengenal lelah. Namun, sampai batas tertentu orang hipomania bisa terjadi kelainan yang disebut bipolar.

"Jadi selama hipomania kita anggap dia positif bisa menjadi konglomerat, tapi kalau sampai menyerang orang lain, usahanya belum selesai ditinggal itu bumerang dan disebut bipolar," kata Hubertus di ILC tvOne, Selasa, 9 Oktober 2018.

Ia melanjutkan, seseorang yang mengarah ke bipolar biasa disebut bipolar spektrum. Orang tersebut mempunyai gejala tempelan atau sampingan yang disebut psikopatik.

"Gejala psikopatik itu salah satu gejala khasnya asal ngomong. Kita menyimpulkan itu bohong. Kemudian gejala satu lagi paranoid curiga. Dia dengan keyakinannya mengatakan hal-hal yang tidak ada faktanya. Tetapi dia yakin sendiri. Ini yang kelihatan terjadi," ujarnya.

Panik

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Ratna dalam kondisi panik setelah hasil operasi yang kurang bagus. Ini terjadi pada orang yang mengidap hipomanik. Orang hipomanik tidak tahu apa yang dilakukan jika dalam keadaan panik.

"Lalu timbul ide tanpa pikir panjang karena saat itu masih status manik, dia semangat dan berani menyatakan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi," katanya.

Apa yang diceritakan orang hipomanik, kata Hubertus, tidak akan mudah dibedakan antara bohong atau jujur. Bahkan, banyak psikiater sering terjebak dengan cerita orang hipomanik.

"Jadi kita tidak bisa katakan Pak Prabowo, Pak Amien Rais itu tertipu atau apa. Semua orang tertipu karena dia bicara alami sekali," katanya.

Atas hal tersebut, ia memandang bahwa yang dilakukan Ratna adalah reaksi kepanikan akibat operasi yang kurang baik.

"Jadi murni yang terjadi pada RS masalah kondisi dia seperti itu bukan niat dia melakukan itu. Itu reaksi kepanikan yang terjadi kepada seseorang. Ini butuh bantuan psikiater," katanya.

Ia pun menyayangkan reaksi para tokoh terhadap apa yang diceritakan Ratna. Menurutnya, para tokoh bereaksi begitu cepat bahkan cenderung sadis. Ia menilai, hal tersebut menunjukkan banyak pemimpin di Indonesia belum mempunyai kematangan menyikapi sesuatu.

Ia berharap, kasus hoax Ratna Sarumpaet segera selesai. Dari kacamatanya, tidak ada unsur konspirasi dalam kasus ini.

"Saya harapkan kita tidak panjang-panjang soal ini karena ini tidak kelihatan unsur konspirasi hanya unsur ketidakmatangan pribadi," ucapnya.


[viva]

Loading...
loading...