"Buku Rekeningku, Menghantuiku"
logo

10 Oktober 2018

"Buku Rekeningku, Menghantuiku"

"Buku Rekeningku, Menghantuiku"


Oleh: Asyari Usman*

Aku duduk melamun. Hatiku berkata, “Tidak semua orang bisa punya buku rekening bank.” Apalagi buku rekening yang nilai-nilai transaksinya ratusan juta rupiah. Yang berjejer miliaran rupiah. Puluhan halaman pula lagi.

Entah kapan aku bisa melihat buku rekening yang saldonya ratusan miliar. Enak sekali! Kubayangkan aku bisa punya bini simpanan di sana-sini. Mobil mewah. Rumah besar dengan halaman luas. Di Menteng.

Lebih enak lagi kalau aku seorang jenderal. Bintang dua. Sudahlah rekeningku tebal, puluhan halaman, berkali-kali ganti buku, aku sendiri seorang jenderal. Mantap. Aku tinggal perintahkan anak buahku untuk mengawal buku rekeningku.

Kulihat, salah satu buku rekeningku banyak menerima transferan. Miliaran. Belasan miliar. Sekarang menjadi ratusan miliar.

Aku ingin jumlah saldoku sampai ke sebutan triliun. Semoga tercapai. Akan kucoba cari jalannya. Pasti bisa! Aku ‘kan bos di sini. Aku jenderal. Kapan lagi. Kalau sudah pensiun, mana mungkin.

Kusiapkan anak buahku yang bisa buat apa saja untuk menjaga rekeningku. Menjaga kerahasiaan dan keamanan rekening-rekeningku. Mereka kubekali otoritas istimewa. Mereka bisa menggertak orang bank. Bahkan bisa menggertak bos-bos isntansi atau lembaga lain. Mana ada yang berani.

Kutanya mereka, “apakah ada masalah dengan rekening-rekeningku?” Mereka jawab, “Siaaap! Aman, Pak!”

Aku kasih mereka uang tips. Tapi bukan dari rekeningku. Kusuruh mereka menelefon beberapa bos perusahaan besar. Supaya mereka juga bisa belajar cari duit besar.

Transferan ke rekening-rekeningku jalan terus. “Sebentar lagi menembus triliun,” kataku dalam hati. Kubayangkan masa pensiunku yang tak punya problem duit. Ini saja aku masih bos daerah, sudah segini uangku. Apalagi nanti setelah dilantik menjadi bos nasional.

Akhirnya aku bintang empat juga. Jalur cepat lagi. Aku dilantik menjadi kepala nasional. Kulangkahi banyak jenderal bintang tiga, seniorku. Mereka tak suka padaku. Tapi aku tak perduli. Yang penting Bapak senang sama aku.

“Ini dia,” pikirku. Semua bos perusahaan besar menelefonku. Mereka menyampaikan ucapan selamat. Sudah terbayang saldo triliunan di rekeningku. Semua bilang, “Aman, Pak.” Ini adalah kode tentang upeti yang akan mereka transfer ke rekeningku.

Benar saja. Lancar. Saldoku sekarang menembus angka yang kuinginkan. Sudah melewati angka 1.3 (satu koma tiga) triliun.

Alhamdulillah! Eh, kok aku ucapkan alhamdulillah? Ini ‘kan transferan di luar jabatanku. Tapi, ya, begitulah kebiasaanku. Aku selalu bersyukur atas rezeki yang kudapat. Aku juga sudah haji.

Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku dengar kabar, salah satu perusahaan yang mengirim duit ke rekeningku sedang dibidik oleh Komisi Pemberantasan Rasuah (KPR). KPR rupanya telah melakukan penggerebekan di perusahaan itu. Mereka menyita banyak buku rekening bank milik perusahaan.

Manajer Bar Es Krim mebisikkan kepadaku bahwa di buku-buku rekning bank yang disita KPR tertera aliran dana ke orang-orang yang menjadi perentaraku. Orang-orang ini menerima dari perusahaan, kemudian mereka mentransfer ke sejumlah rekeningku.

Kutugaskan beberapa anak buahku yang berpangkat menengah untuk melakukan netralisasi barang bukti di KPR. Mereka menghubungi anggota-anggota yang bertugas sebagai penyidik di KPR. Ada tugas urgen dariku. Yaitu, menghilangkan rekaman transfer dana kepadaku dan kepada orang-orang yang menjadi perentaraku.

Anak buahku di KPR langsung paham apa yang harus mereka lakukan. Aku tanya mereka, “Sudah beres?”

“Sudah, Pak. Kami koyak 15 lembar buku rekening perusahaan yang disita KPR. Sebagian lagi hanya kami timpa Tips-Ex.”

Tapi anak buahku di KPR itu mengatakan bahwa mereka terekam di CCTV ruang Kalibrasi KPR ketika melakukan pengoyakan buku rekening itu. Dan rekaman itu telah diteliti. Anak buahku telah melakukan tindakan pidana perusakan atau penghilangan barang bukti.

Kemudian aku telefon Ketua KPR. Kuminta dia agar kasus ini tidak dikembangkan. Ketua KPR pun bertindak sesuai keinginanku.

Ketua KPR menjatuhkan hukuman berat kepada anak buahku. Hukuman berat itu sudah kuatur juga. Yaitu, mereka dikembalikan saja ke instansiku. Anak buahku senyum-senyum saja mendengar “hukuman berat” itu.

“Terima kasih, Pak,” kata mereka ketika kupanggil ke kantorku. Kusediakan hadiah tunai untuk mereka. Cukuplah untuk membeli mobil “four wheel drive” baru. Satu seorang.

Tugas mereka selesai. Ketua KPR juga bisa kubungkam. Tapi, rupanya sindikasi sejumlah media melakukan investigasi. Sindikasi itu bernama Intonasialeaks. Investigasi mereka canggih juga. Mereka menemukan namaku sebagi penerima aliran dana.

Kusuruh jurubicaraku untuk membantah. Tapi kayaknya sindikasi media Intonasialeaks itu tak terlawan. Mereka bertekad untuk mengungkap aliran dana ke rekeningku. Mereka menemukan bukti-bukti.

Aku benar-benar terpojok sekarang. Aku teringat buku-buku rekeningku. Terasa buku-buku itu menghantuiku. Bisakah transfer-transfer itu kusembunyikan selamanya? [swa]

*Penulis adalah wartawan senior

Loading...
loading...