Bukan Orang Sembarangan, Ini Kisah Mantan Suami Ratna Sarumpaet, Pendiri Diskotek Pertama
logo

6 Oktober 2018

Bukan Orang Sembarangan, Ini Kisah Mantan Suami Ratna Sarumpaet, Pendiri Diskotek Pertama

Bukan Orang Sembarangan, Ini Kisah Mantan Suami Ratna Sarumpaet, Pendiri Diskotek Pertama


GELORA.CO - Ratna Sarumpaet kini tengah jadi sorotan keras masyarakat Indonesia.

Pasca kasus penganiayaan yang dialaminya ternyata adalah sebuah kebohongan belaka.

Alhasil Ratna Sarumpaet yang dulunya mendapatkan dukungan banyak pihak saat berani menentang kebijakan pemerintah.

Kini harus rela dihujat dan disoroti banyak orang gegara sikap berbohongnya tersebut.

Bahkan beberapa petinggi dan orang penting Indonsia yang sempat membela dirinya ikut merasakan kekecewaan besar.

Selain Ratna, anggota keluarganya yakni sang putri Atiqah dan menantu, Rio Dewanto tak luput dari serbuan komentar netizen.

Diketahui kisah hidup Ratna Sarumpaet memang penuh intrik kehidupan.

Tak hanya mengenai aksi berpolitiknya yang dikenal keras.

Kehidupan pribadi Ratna pun juga penuh dengan cerita seperti mengenai mantan suaminya bernama Ahmad Fahmy Alhady.

Bukan orang sembarang, mantan suami Ratna Sarumpaet berdarah arab merupakan anak juragan tekstil di kawasan Tanah Abang.

Dikutip dari berbagai sumber, sang suamilah merupakan pemiliki diskotek pertama di Jakarta yang dirikan pada 12 november 1970 dengan nama Tanamur.

Gubernur DKI Jakarta waktu itu dijabat Ali Sadikin,mengizinkan pembukaan tempat perjudian, night club dan panti pijat.

Kata Bang Ali, hiburan malam merupakan syarat dan keharusan Jakarta untuk menjadi sebuah kota metropolitan.

“Tentu saja sebelum surat izinnya diteken Gubernur Haji Ali Sadikin, lokasinya ditilik-tilik dulu sesuai apa tidak dengan prinsip, jauh dari sekolah, tempat ibadah dan rumah kediaman,” tulis Tempo, 14 Februari 1976.

Beberapa night club yang cukup terkenal di Jakarta ketika itu, antara lain, La Cossa Cossyndo. Biasa disebut LCC. Lokasinya di sekitar Monas sekarang.

Adapula Miraca Night Club di Sarinah, Thamrin, yang dikelola Usmar Ismail, sineas terkemuka Indonesia. Masa itu, orang-orang menjuluki Usmar Ismail sebagai Raja Night Club.

Setelah Miraca tutup pada 1970-an awal, “posisi” Usmar Ismail digantikan Ahmad Fahmy Alhady yang mendirikan diskotek Tanamur, 12 November 1970.

Alasan pria yang pernah jadi suami Ratna Sarumpaet ini membuka diskotek sederhana saja…

“Sudah terlalu banjak night club di Djakarta. Tapi semuanja terlalu formil. Tidak ada suasana bersantai. Perlu didirikan sesuatu jang lain jang dapat memberikan suasana merdeka, sehingga orang dapat beristirahat,” katanya, tulis majalah Tempo, 20 Maret 1971.

Jangan samakan dengan sekarang. Waktu itu diskotek masih hal baru.

Bahkan kata diskotek sendiri belum banyak dikenal orang.

“Seorang pejabat provinsi Jakarta bahkan menanyakan perihal kata itu ketika Fahmy meminta izin pendirian diskoteknya,” tulis sejarawan Hendaru Tri Hanggoro di majalah Historia, No 2, Tahun I, 2012.

Lelaki brewokan itu menyulap sebuah rumah tua di Jl. Tanah Abang Timur No. 14 menjadi diskotek — konsep tempat hiburan yang dibawanya dari Eropa.

Mulanya bangunan itu hanyalah rumah tua biasa. Atapnya berbentuk segitiga. Tepat di sebelahnya terdapat sebuah kubah besar berbentuk setengah lingkaran — membuat Tanamur terlihat seperti penggabungan dari bangunan masjid dan gereja.

Bangunan itu bercat hitam. Ada pohon kaktus besar di pekarangannya. Pintu bercorak klasik warna merah.

Begitu masuk menuruni anak tangga, terhampar lantai dansa berikut sebuah bar yang terbuat dari kayu. Bangku-bangku berbantal kulit kambing.

Dengan konsep diskotek — lain dengan night club atau bar — Fahmy, anak saudagar Arab jugaran tekstil Tanah Abang berhasil merajai hiburan malam Jakarta. [tribun]

Loading...
loading...