Beredar Sajak yang Bikin 'Meleleh' Mengatasnamakan Sri Mulyani
logo

31 Oktober 2018

Beredar Sajak yang Bikin 'Meleleh' Mengatasnamakan Sri Mulyani

Beredar Sajak yang Bikin 'Meleleh' Mengatasnamakan Sri Mulyani


GELORA.CO - Kabar duka masih dirasakan seluruh pegawai Kementerian Keuangan atas kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang kemarin.

Duka yang mendalam dirasakan Kementerian Keuangan karena ada 21 pegawainya menjadi korban kecelakaan tersebut.

Hari ini, ada sebuah sajak indah yang menceritakan tentang kejadian kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Sajak yang telah menyebar di WhatsApp Grup ini pun dituliskan hasil karya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Jika orang tidak mengkroscek terlebih dulu pasti akan percaya.

Pasalnya, Sri Mulyani sejak kejadian dan mengetahui ada 21 pegawai Kementerian Keuangan menjadi korban, langsung sigap untuk mencari informasi kebenarannya.

Dia langsung mengecek ke Kantor Basarnas, lalu ke crisis center di Soekarno Hatta, serta menemui keluarga korban sambil memberikan pelukan. Sri Mulyani pun sering meneteskan air mata.

Namun ketika dikonfirmasi, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti menegaskan bahwa sajak yang beredar bukan lah hasil karya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dia menyebutkan, sajak tersebut berasal dari akun Facebook seorang wanita dengan nama Jayaning Hartimi.

Berikut pesan berantai yang beredar di media sosial:

*_Sajaknya ibu Sri Mulyani - Menkeu_*

... kepada kamu yang malam tadi berdebat dengan istri. Merasa lelah mendengar keluhannya yang tak henti. Membawa kesal itu dalam tidurmu, sehingga emosi belum reda pagi ini...

Berpelukanlah sebelum pamit berangkat kerja nanti.

Karena bisa jadi,

Inilah waktumu melihatnya terakhir kali...

Kepada kamu yang akhir-akhir ini merasa hidup berat sekali. Kelelahan mengurus rumah sendiri, tumpuk setrikaan tanpa henti, kepusingan mengatur tagihan yang datang bertubi. Lalu diam-diam, kau kutuki karir suamimu yang tidak juga naik posisi...

Sambutlah ia ketika pulang nanti. 

Katakan betapa bersyukurnya memiliki suami yang senantiasa bekerja keras dan menjaga kehalalan gaji. Ucapkan terimakasih dengan tulus hati.

Kau tidak pernah tahu, bisa jadi untuk melakukannya esok, kau tak lagi punya waktu...

Kepada kamu yang hari ini merasa pusing mendengar berisiknya anak di rumah. Padahal sepulang dari kantor mata rasanya hanya ingin terpejam dan badan butuh rebah. Lalu diam-diam, kau simpan itu menjadi emosi marah...

Tersenyumlah lebar buat mereka hari ini. 

Saat hendak pergi, dan saat nanti pulang kembali.

Luangkan waktu untuk menatap wajah mungil itu yang bercerita riang tentang hari harinya padamu. Dengarkan intonasi suaranya. Rekam baik-baik binar mata dan ekspresi mereka. 

Karena sungguh bukan sebuah ketidakmungkinan,

Besok lusa tak ada lagi kesempatan...

**

Kebersamaan menahun seringkali membuat kita lebih mudah mendeteksi kekurangan, daripada menemukan kebaikan. 

Lebih lancar memberi kritik, daripada memberi apresiasi.

Lebih cenderung mengeluh. Dan lupa mensyukuri satu sama lain. 

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kebersamaan ini akan berhenti. Bisa jadi hari ini. Bisa jadi besok. Bisa jadi sebentar lagi.

Hargai setiap momen yang kita punya saat ini. 

Minta maaf selagi bisa.

Berterimakasih selagi masih ada waktu.

Bercanda, berbincang, tertawa..., selagi kesempatan masih ada.

Berpelukanlah!

Selagi hangat tubuhnya masih bisa dirasa.

**

*_Deep condolence untuk seluruh awak dan penumpang Lion Air JT610..._*

Yang diantaranya ada seorang Ayah, yang pagi kemarin baru saja pamit bekerja setelah menghabiskan weekendnya untuk mengunjungi anak istri yang tinggal di Jakarta. Melepas rindu setelah sepekan tak bertemu. 

Ada juga seorang Ibu yang semalam masih bercanda dengan putri kesayangannya. Menemaninya tidur. Lalu paginya berangkat untuk dinas luar kota. Bekerja. Menjemput pahala. 

Dan ada pula seorang lelaki yang baru menikah dua hari. Kemarin pagi mengecup istrinya di bandara. Mesra. Sembari meminta doa. Sebelum terbang mencari nafkah pertamanya. 

***

Kita betul-betul gak pernah tau.

Bisa jadi salam yang kita berikan hari ini, adalah salam terakhir buat orang-orang tercinta.

Lakukanlah selagi bisa....
[dtk]

Loading...
loading...