Aksi Bela Tauhid, Takbir Memekik di Tanah Melayu Deli
logo

26 Oktober 2018

Aksi Bela Tauhid, Takbir Memekik di Tanah Melayu Deli

Aksi Bela Tauhid, Takbir Memekik di Tanah Melayu Deli


GELORA.CO -  Masjid Raya Al Mahsun, Kota Medan disesaki oleh umat Islam dari berbagai penjuru di Sumatera Utara, Jumat (26/10). Aksi Bela Tauhid dimulai dengan salat Jumat berjamaah di Masjid peninggalan Kesultanan Deli. 

Usai Jumatan, massa menyusun barisan. Tepatnya di jalan protokol samping masjid hingga ke Jalan Sisingamangaraja. "Takbir. Allahuakbar. Allahuakbar," teriak massa.

Teriakan takbir memekik dari segala arah. Bersambut dengan kibaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Hampir seluruh massa memegang panji Rasulullah yang dikenal sebagai bendera Ar-Raya. Ada juga bendera yang berdasar kain putih. Namanya Al Liwa'. Namun jumlahnya tak sebanyak Ar Raya.

Di sela aksi itu, massa mengacungkan telepon genggam mereka. Merekam setiap kegiatan di lapangan. Beberapa diantaranya sibuk membuat video blogging (vlog) ataupun video live streaming di media sosial. Tak sedikit juga yang memanfaatkan momen unjuk rasa untuk tempat swafoto.

"Woy banser, kelen tengok ini. Anak Medan ini. Bukan kaleng-kaleng. Retak nanti dada kelen. Bubar kelen," ujar beberapa pemuda di depan kamera gawai nya.

Massa dikabarkan bergerak ke Polda Sumut. Tujuannya ingin membuat laporan terkait pembakaran bendera bertulis kalimat Tauhid saat Hari Santri Nasional di Garut. Banser NU yang jadi pesalahnya.

Mereka bergerak menggunakan kendaraan. Ada yang naik sepeda motor, mobil, hingga pikap. Mereka rela berdesakan untuk ikut konvoi di bawah panas terik.

Lalulintas di seputaran Sisingamangaraja sempat lumpuh. Polisi tampak sibuk melakukan pengaturan. Yang dari arah Jalan Masjid Raya menuju Sisingamangaraja diterapkan sistem buka tutup di persimpangan. Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto sampai ikut mengatur arus kendaraan.

Orang-orang yang ikut konvoi kebanyakan memakai busana rapi. Para laki-laki menggunakan gamis dan koko. Yang perempuan, memakai pakaian gamis lengkap dengan hijab nan lebar lengkap dengan cadar. Pengikat kepala hitam bertuliskan kalimat tauhid juga tak ketinggalan dipakai.

Diantara barisan juga terlihat ada yang memakai pakaian ala militer. Celana dan baju loreng ditambah rompi juga. Yang lainnya ada yang memakai serba putih dengan sepatu PDL. Sepertinya itu barisan, Front Pembela Islam (FPI).

Barisan konvoi panjangnya diperkirakan 2 Km. Butuh waktu hingga setengah jam, sampai kendaraan konvoi bergerak semua. Barisan massa dikawal polisi di bagian depan sampai yang ekor.

Rudi Utama, salah satu massa aksi mengatakan dia rela ikut aksi untuk membela kalimat tauhid. Dia merasa sakit hati karena pembakaran bendera Tauhid.

"kita harus ikut. Ini aksi serentak. Kabarnya di beberapa daerah juga ada. Umat muslim merasa terpanggil dengan ajakan aksi ini," katanya.

Forum Umat Islam (FUI) Sumut mengecam pembakaran bendera. FUI menilai ada oknum yang ingin memecah belah Islam atas pembakaran bendera tersebut.

"Ada pihak tertentu yang menunggangi agar terjadinya perpechan umat Islam secara Internal. Perpecahan elemen bangsa umat Islam sebagai garda terdepan untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan NKRI," kata Ustadz Indra Suheri.

Menurut massa Pembakaran bendera oleh oknum banser adalah penghinaan terhadap akidah umat Islam. Karena bendera itu adalah panji Islam.

Gelombang tuntutan pembuatan Banser semakin luas. Di Kota Medan, ini aksi kedua menuntut pembuaran.

"Bendera tauhid bukan milik organisasi tertentu. Kalau kita cek ke Kemenkumham, Al Rayah dan Al Liwa ini tidak ada embel-embel Hizbut Tahrir," tandasnya.

Usai konvoy bergerak, giliran 'pasukan semut' yang beraksi. Mereka memungut sampah sisa dari massa. Mereka membawa kantong besar, untuk mengumpulkan sampah. Mereka tidak ingin aksi ini malah membuat produksi sampah. 

" kita jadi tim semut. Membersihkan titik kumpul hingga tujuan di Polda Sumut," kata koordinator Pasukan Sumut Pardamean Syaifullah. 

Aksi juga dikawal ketat polisi. Informasi yang diterima, ada 1. 200 personel yang diterjunkan. Mereka juga mencoba ikut beradaptasi dengan suasana aksi. Pasukan bravo coklat dilengkapi atribut lobe di kepala dan selendang putih digantungkan di leher. 

Sebelumnya, Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengaku menyesalkan atas kasus yang diduga dilakukan Banser tersebut. "Saya menyayangkan," ujar Yaqut kepada JawaPos.com, Selasa (23/10).

Namun demikian Yaqut mengaku, apa yang dilakukan oleh Banser adalah sikap spontan. Bahkan dia menduga ada pihak-pihak yang melakukan provokasi.

"Saya yakin anak-anak ini melakukan juga karena spontan tanpa ada rencana sebelumnya. Atau memang ada yang sengaja memprovokasi," tegasnya.

Sebelumnya viral sebuah video menunjukkan sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) melakukan aksi pembakaran bendera berkalimat Tauhid. Peristiwa tersebut berlangsung saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat. [jpc]

Loading...
loading...