logo

7 September 2018

Pengusaha China Ditangkap Usai Sebut Presiden Kenya 'Monyet'

Pengusaha China Ditangkap Usai Sebut Presiden Kenya 'Monyet'


GELORA.CO - Seorang pengusaha asal China ditangkap polisi Kenya karena menghina Presiden Uhuru Kenyatta. Pria China ini terekam video menyebut Presiden Kenyatta dan warga Kenya sebagai 'monyet'.

Seperti dilansir AFP, Jumat (7/9/2018), pria berkewarganegaraan China yang bernama Liu Jiaqi ini, ditangkap setelah video itu beredar luas di media sosial. Disebutkan Departemen Imigrasi Kenya, Liu saat ini sedang diproses untuk dideportasi ke negara asalnya.

"Izin kerjanya telah dibatalkan dan dia akan dideportasi atas dasar rasisme," sebut Departemen Imigrasi Kenya dalam pernyataannya via Twitter.

Dalam video berdurasi 2,5 menit yang beredar luas di Twitter dan media sosial lainnya itu, Liu melontarkan sejumlah kata-kata hinaan bernada rasisme. Liu tampak sedang bertengkar dengan salah satu pegawainya dalam video itu.

"Semua orang, setiap warga Kenya... seperti monyet, bahkan (Presiden Kenya) Uhuru Kenyatta juga. Semuanya," ucap Liu dalam video itu.

Saat pegawainya meminta Liu untuk 'kembali ke China' jika dia merasa demikian, pengusaha itu malah melontarkan lebih banyak kata-kata kasar.

"Saya tidak cocok di sini. Saya tidak suka ada di sini, seperti orang-orang monyet, saya tidak suka berbicara dengan mereka, mereka baunya tidak enak, dan miskin, dan bodoh, dan hitam. Saya tidak suka mereka. Kenapa tidak (seperti) orang-orang kulit putih, seperti orang Amerika?," imbuhnya.

Ditambahkan Liu bahwa dirinya tetap berada di Kenya karena 'uang itu penting'. Tidak diketahui pasti apa sebenarnya pekerjaan atau bisnis yang ditekuni Liu di Kenya.

Kata-kata hinaan yang dilontarkan Liu itu memicu reaksi keras dari publik Kenya, terutama dari kalangan pengguna media sosial. Beberapa dari mereka bahkan menyerukan agar Liu diadili di Kenya, bukannya dideportasi.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kedutaan Besar China di Nairobi, Zhang Gang, menyebut bahwa menurut atasan Liu, video yang beredar luas itu direkam pada Juni lalu. "Dan dia sudah dihukum oleh perusahaan atas kesalahannya dan telah meminta maaf kepada koleganya di Kenya," sebut Zhang dalam pernyataannya.

"Pembicaraan pribadi dan perasaan pribadi dari pria muda ini tidak mewakili pandangan dari kebanyakan warga China," tegasnya. Zhang pun mendorong warga China untuk memberi 'kontribusi positif bagi persahabatan dan kerja sama antara China dan Kenya'. [dtk]

Loading...
loading...