logo

19 September 2018

Cawapres Berkaos Vs Cawapres Bersarung

Cawapres Berkaos Vs Cawapres Bersarung


Oleh: Abu Ngawas*

Cawapres sarung sudah menemui calon pemilih si berbagai tempat untuk sosialisasi dan pengenalan diri agar lebih mendekati semua calon pemilih yang terdiri dari berbagai macam latarbelakang.

Cawapres bersarung dengan latarbelakang sebagai Ketua syuriah PBNU dan Ketua umum MUI adalah jabatan tertinggi dan terhormat di Indonesia. Jabatan yang diperolehnya atas pilihan berdasarkan kapasitas keilmuannya.

Penghormatan dimanapun akan diperolehnya karena jabatan ini sebagai wujud kapasitas keilmuan yang tinggi dalam bidang agama. Tentunya masyarakat umum sangat memahami kapasitas ini sehingga mereka serta merta akan bersalaman dengan takdzim dengan penghormatan tulus.

Sekarang ini dengan mengejar jabatan dunia sebagai cawapres harus bisa menyesuaikan dengan keadaan terkini agar dapat memperoleh dukungan dari masyarakat luas dan berbagai status sosialnya.

Cawapres bersarung dengan jabatan tinggi selama ini dengan berbagai fatwanya yang di dengarkan umat dalam masalah-masalah agama jelas memiliki keterbatasan pergaulan dengan banyak kalangan.

Selama ini Cawapres bersarung selalu bergaul dengan orang-orang kalangan terbatas sesuai jabatan yang disandangnya. Pergaulan sebatas orang-orang baik dan rata-rata memiliki keilmuan.

Sekarang Cawapres bersarung harus membiasakan diri dengan kalangan milenial: orang berkaos ketiak, orang yang tidak pakai jilbab, berbagai komunitas yang selama ini tidak pernah ditemuinya dalam rangka menggaruk suara.

Sedangkan Cawapres berkaos kelihatan semakin lincah dengan berbagai komunitas yang mengundangnya di seantaro nusantara terutama komunitas muda melalui diskusi kewirausahaan.

Komunitas kampus mengundanya untuk memberi seminar dan diterima dengan baik di kampus tanp ada demo penolakan. Sebaliknya Cawapres bersarung sempat ditolak mahasiswa di salah satu perguruan tinggi.

Cawapres berkaos dengan segala macam pengalamannya mengelola usaha dan terbukti berhasil dengan baik, menjadikan pengalaman ini kekuatannya untuk sharing ilmu kepada generasi milenial.

Sedangkan Cawapres bersarung yang selama ini banyak mengisi pengajian di berbagai tempat, kurang memiliki pengalaman dalam bidang ekonomi nyata sebagai pelaku ekonomi di masyarakat.

Cawapres bersarung selama ini kalau diundang kemana-mana, setiap orang yang menemuinya pasti berebutan bersalaman dan mencium tangannya, salah satu bentuk penghormatan sebagai ulama. Tapi ketika sudah ikut bere but jabatan dunia, Cawapres bersarung juga harus rajin menyapa orang untuk mendapat salaman dari orang-orang di kelompok masyarakat.

Cawapres berkaos juga dengan lincah bersenam bersama dengan komunitas sehat di seantaro nusantara. Senam bersama ini bisa menjadi salah satu kekuatan Cawapres berkaos karena bisa menunjukkan Kalau dia termasuk orang yang sehat.

Cawapres bersarung dengan kelebihan ilmunya pada maqom tertinggi serta jabatan yang tertinggi di dunia telah memilih jalannya menjadi cawapres. Otomatis saat ini secara langsung masyarakat melihatnya sebagai Cawapres bukan lagi melihat jabatan yang disandanganya selama ini.

Sedangkan Cawapres berkaos dengan gagahnya telah mengundurkan diri dari janatannya sebagai Wagub DKI untuk bertarung memperebutkan posisi pasangan capresnya.[swamedium]

Loading...
loading...