70 Santri Gus Miftah, Ada Mantan Pekerja Salon Plus sampai Eks Napi
logo

12 September 2018

70 Santri Gus Miftah, Ada Mantan Pekerja Salon Plus sampai Eks Napi

70 Santri Gus Miftah, Ada Mantan Pekerja Salon Plus sampai Eks Napi


GELORA.CO - Jalan dakwah KH Miftah Maulana Habiburrahman atau yang kerap disapa Gus Miftah di klub dan tempat hiburan malam sudah berjalan 14 tahun. Saat ini Gus Miftah mengasuh 70 santri di Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman. 

"Ada 70 santri, ada dari berbagai daerah, Lombok, Lampung, Bengkulu, Yogya juga," kata Gus Miftah saat ditemui di Ponpes Ora Aji, Kalasan, Sleman, Rabu (12/9/2018).

Para santri yang diasuhnya itu memiliki ragam latar belakang. Ada beberapa mantan napi, mantan pegawai salon plus, dan mantan pegawai tempat hiburan malam. "Seluruhnya gratis, makan, belajar ngaji, tinggal di sini," ujar Gus Miftah. 

Ponpes milik Gus Miftah dinamai Ora Aji bukan tanpa alasan. Ora Aji adalah bahasa Jawa, sedangkan bahasa Indonesianya berarti 'tidak berharga'.

"Nama ora aji, tidak berharga, maknanya kan tidak ada satupun yang berharga di mata Allah selain ketakwaan. Ini juga ada masjid, namanya Al Mbejaji, jadi orang masuk pondok dalam keadaan kurang bernilai, saya harapkan nanti santri saat keluar ngaji bisa menjadi manusia yang lebih bernilai," urainya. 

Ponpes Ora Aji bulan depan genap berusia 6 tahun. Selama ini ponpes yang berada di Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan itu kerap menggelar kajian rutin.

"Alhamdulillah teman-teman dari artis lokal nasional, pejabat, Pak Kapolri Badrodin Haiti waktu masih menjabat, ke sini. Kita tidak undang mereka datang, mereka datang sendiri, pengakuannya mereka karena nyaman. Alhamdulillah pengajian rutin bisa jalan, tiap malam Ahad Pahing juga teman-teman dari Sarkem datang ke sini dua bus rombongan, pengajian rutin, emak-emak juga ada," jelasnya. 

Gus Miftah mengatakan karena santri dan peserta kajiannya berasal dari berbagai kalangan, dia memilih bahasa penyampaian yang bisa diterima semua pihak. "Dialog dikemas seperti stand up, diiringi guyon, seperti sabda Rasulluah, berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kemampuan agama mereka," lanjutnya. 

"Saya kajian di klub malam juga saya pilih kata-kata yang pas. Dan saya sampai detik ini tidak pernah merokok, tidak minum miras, saya punya prinsip kalau saya minum saya nggak berhak nasihati mereka," imbuhnya.[dtk]

Loading...
loading...